Rey berdiri. Yukata biru tua terbuka di dada, otot berkilau bayangan lilin. Dia melangkah ke pintu shoji, menarik, dan tersenyum licik yang pernah kulihat sebelum dia menghancurkan lawan bisnis."Arhan?"Arhan berdiri di lorong, koper di tangan, wajah pucat melihat Rey ber-yukata terbuka di kamar seorang wanita jam sepuluh malam. Tapi yang membuat Arhan membeku bukan hanya Rey tapi aku.Rambutku berantakan lepas dari ikatan, jatuh di bahu dalam keadaan kusut. Pipi memerah, yukata yang kupakai longgar di leher, bergelung tidak rapi menampakkan belahan dada yang seharusnya tertutup. Dan napasku masih terengah."Kau terlambat," kata Rey, suaranya tenang namun menantang. Dia sengaja melangkah ke samping, memperlihatkan aku lebih jelas, rambut lepas, yukata longgar, napas masih terengah. "Kami baru selesai."Arhan menatapku, matanya turun ke bibirku yang terlalu merah, ke leherku, ke yukata yang bergelung tidak rapi menampakkan belahan dada yang seharusnya tertutup, "Apa yang kalian lakuka
최신 업데이트 : 2026-08-05 더 보기