Share

Bab 32: Ranjang

Author: KAEL
last update publish date: 2026-08-31 18:45:02

Tubuhku sudah menjawab sebelum bibirku sempat bergerak. Aku terbakar, basah karena ingin. Aku menggesekkan paha mencoba menghilangkan tekanan yang mengganggu di sana, tapi hanya membuatku semakin menyadari kekosongan yang memanggil-manggil.

Aku memikirkan dia. Rey. Di kamar sebelah mungkin telanjang dada, mungkin juga terjaga sambil memikirkan hal yang sama.

Aku bangkit, kaki telanjangku menyentuh lantai kayu yang dingin, tapi kulitku terbakar. Piyama katunku yang tipis menempel

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 34: Perjanjian Kamar 2207

    Aku tahu seharusnya aku tidak mengikutinya. Tapi ketika melihatnya berdandan dengan setelan Armani abu-abu tengah malam, hatiku berkata bahwa sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang akan menghancurkanku.Rey bilang ada meeting mendadak, tapi rahangnya mengencang saat berkata, jarinya sengaja menghindar dari kulitku saat melewati sofa. Dia berbohong. Dan sekarang aku berdiri di balik pilar marmer Kempinski, menatap punggungnya yang menjauh.Jam menunjukkan 22:47.Klik. Klik. Klik.Sepatunya berderap teratur, dia berhenti di concierge, berbicara pelan, mengangguk. Sebuah kartu kunci diberikan. Lantai dua puluh dua.Kukuku menekan telapak hingga sakit. Lima puluh miliar. Apakah dia akan menukarku dengan bayaran itu?Pintu lift membuka memantulkan bayangannya yang tegap. Saat pintu menutup, aku melihat wajahnya di kaca, tidak ada jejak pria yang pagi tadi mencium leherku dengan obsesi. Tidak ada lagi biarkan dunia tahu kamu milikku.Lift menutup, aku berlari dari balik pilar menekan tombol lif

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 33: Tanda di Leher

    Aku terbangun bukan karena alarm, melainkan karena sesuatu yang lebih tajam.Sesuatu yang menusuk leher bagian kiriku, tepat di bawah tulang rahang, di tempat yang paling sensitif. Rasanya seperti terbakar dan dingin secara bersamaan, denyut yang mengirimkan sinyal ke seluruh tubuhku bahwa aku telah berubah.Cermin di lemari pakaian memantulkan bayangan wanita yang tidak kukenali.Rambut berantakan menutupi bahu, mata bengkak karena tidur terlalu lelap, dan di leherku terdapat bekas merah tua yang kontras dengan kulit pucatku. Tanda kepemilikan yang vulgar dan indah secara bersamaan."Jangan ditutupi."Suara itu datang dari belakangku parau masih terbalut sisa-sisa tidur. Aku berbalik perlahan, selimut terpeleset dari dada telanjangku, membuatku sadar bahwa aku hanya mengenakan celana dalam yang terlalu kecil milikku dan tidak ada yang lain.Rey duduk di tepi tempat tidur, punggungnya telanjang, otot-otot punggung bergerak-gerak saat dia mengulurkan tangannya ke arahku. Rambutnya bera

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 32: Ranjang

    Tubuhku sudah menjawab sebelum bibirku sempat bergerak. Aku terbakar, basah karena ingin. Aku menggesekkan paha mencoba menghilangkan tekanan yang mengganggu di sana, tapi hanya membuatku semakin menyadari kekosongan yang memanggil-manggil.Aku memikirkan dia. Rey. Di kamar sebelah mungkin telanjang dada, mungkin juga terjaga sambil memikirkan hal yang sama.Aku bangkit, kaki telanjangku menyentuh lantai kayu yang dingin, tapi kulitku terbakar. Piyama katunku yang tipis menempel di payudaraku, menggesekkan puting yang sudah mengeras sejak tadi. Aku berjalan ke koridor, menuju cahaya yang menyala.Pintu kamarnya sedikit terbuka.Rey duduk di tepi tempat tidur tlanjang dada, kulitnya berkilauan di cahaya lampu oranye, otot perutnya yang keras naik turun dengan napasnya yang berat. Dia tidak pakai kacamata.Matanya langsung menatapku, turun dari wajahku ke dada, ke paha, kembali ke mataku. Dia menelan ludah."Aku tahu kamu akan datang," katanya

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 31: Kesalahan Malam Itu

    Pikiranku masih terjebak di balkon semalam, di kata-katanya yang menggantung seperti kabut tebal, bayangan Arhan, dan aku tidak mengerti apa maksudnya sampai sekarang."Kamu pilih," kata Rey, suaranya datar sengaja, matanya menatap layar yang gelap.Aku menggulir daftar film dengan jari yang gemetar, tapi mataku berhenti di satu judul yang familiar, film tentang kereta api dan dua orang asing yang bertemu dan jatuh cinta dalam satu malam di Wina. Film yang kutonton dengan Arhan. Film yang kupikir romantis, tapi berakhir dengan kepergian tanpa kepastian, seperti kami, seperti semua yang pernah kumiliki dan hilang."Ini," kataku, menekan tombol putar tanpa berpikir panjang, seolah dengan memutar ulang kenangan yang salah aku bisa mengubahnya menjadi benar.Rey tidak protes.Dia hanya mengangguk, bersandar di sudut sofa dengan lengan di sandaran dan kaki terentang santai, tapi aku melihat bahunya tegang, seolah setiap detik film ini adalah detik yang

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 30: Yang Terbakar

    "Kamu benar-benar melakukan itu," suaraku parau dan pecah di tengah keheningan balkon yang dingin. "Kamu masuk ke kamarku, menyentuhku, memohon pernikahan saat aku tidak sadar."Rey masih berlutut di antara abu foto-foto yang baru saja kami bakar. "Aku serius, Aurel. Setiap kata yang aku ucapkan di video itu. Bahkan saat kamu tidak sadar, terutama saat kamu tidak sadar, karena aku akhirnya bisa mengatakannya tanpa takut melihat kamu menatapku dengan benci atau melihat kamu pergi.""Dan kamu pikir itu lebih baik?" suaraku naik sedikit. "Kamu pikir melihatku tidur dalam keadaan lemah, tidak sadar, lalu memohon pernikahan seperti itu lebih baik daripada mengatakan saat aku sadar?"Rey menggeleng, "Aku tidak memohon, Aurel. Aku menjanjikan. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari, meski kamu tidak pernah tahu apa yang terjadi malam itu, aku akan membuatmu menjadi milikku secara sah. Bukan dengan menguntit, bukan dengan foto-foto tersembunyi, tapi dengan ci

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 29: Yang Terdalam

    Jam 03:47 pagi. Surat itu masih terasa berat di saku robe, seperti batu yang menekan tulang rusukku. Aku terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang gelap, memikirkan kata-katanya yang terakhir selamanya dan apa artinya bagi seseorang yang hanya punya kontrak enam bulan.Ketukan pelan di pintu membuatku terduduk.Aku berjalan ke pintu, membukanya. Rey berdiri di sana, box coklat pudar di tangan kirinya, matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena begadang."Kita bakar semua ini," kata Rey, suaranya serak, hampir tidak kedengaran di tengah sunyi koridor. "Malam ini."Aku tidak bertanya apa yang dimaksudnya. Aku tahu. Box itu. Foto-foto itu. Dua belas tahun pengamatan yang terekam dalam kertas-kertas yang sudah menguning.Aku mengangguk, mengambil jaket tipis dari gantungan, dan mengikutinya ke balkon. Udara Jakarta pagi masih lembap, bau polusi yang tidak pernah benar-benar hilang meski masih pagi buta. Rey meletakkan box di la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status