Ruang tamu rumah itu terasa lebih terang, tapi tidak lebih ringan. Dokter Khair duduk dengan postur tenang, kedua tangan saling bertaut di atas lututnya. Namisa duduk di seberangnya, masih terlihat tegang, sesekali melirik ke arah lorong kamar seolah takut Gilsha akan tiba-tiba memanggil. Meskipun itu mustahil. Beberapa detik berlalu sebelum dokter mulai bicara. “Ibu Namisa,” katanya pelan, terukur, “saya sudah melihat langsung kondisi Gilsha tadi.” Namisa langsung menegakkan badan. Dokter itu tidak tergesa. Ia memilih kata dengan hati-hati, seperti biasa dalam situasi seperti ini. “Secara klinis, ada tanda-tanda reaksi stres yang cukup berat. Disertai penarikan diri emosional yang signifikan.” Namisa menelan ludah. “Maksudnya… dia depresi, Dok?” Dokter mengangguk kecil, tidak langsung memberi label tegas. “Indikasinya mengarah ke sana, ya. Tapi untuk saat ini saya lebih melihatnya sebagai respons psikologis terhadap tekanan emosional yang sangat kuat.” Ia berhe
Last Updated : 2026-08-19 Read more