Sekar sulit berpaling. Liam masih menatapnya. Apa karena dia menawan? Senyumnya, gerak-geriknya, sentuhannya, perhatiannya. ‘Sialan!’ Dia mengumpat dalam hati.Barangkali Tuhan sempat menambahkan bintang-bintang ketika menciptakannya. Sepercik saja rasanya sudah cukup. Sekar berpikir begitu tentang Liam—yang pertama kali, tiba-tiba saja.“Hm … Sekar, kamu kedinginan nggak? Aku ambil selimut dulu.” Liam keluar keluar mobil lagi, ke bagasi mengambil selimut.Begitu kembali ke mobil Liam menutupi kaki istrinya yang bercelana pendek itu dengan selimut tipis abu-abu. Sekar terkesiap, mengangkat kedua tangan sedikit, pura-pura biasa saja, padahal jantungnya seperti mau meloncat keluar.“Thanks.” Sekar tersenyum sekilas.Sambil menunggu truk towing yang menurut informasi akan tiba dalam waktu dua puluh menit lagi, mereka mengobrol random. Tepat saat itu bintang bermunculan di langit, bercahaya alami di malam perbukitan yang gelap.“Kalau udah sampai aku kepengen berendam air hangat.” Sekar d
Última actualización : 2026-10-01 Leer más