"Sa...?" suara Nadin pelan, manja, berbeda 180 derajat dari suara tegasnya di depan wartawan tadi.Di Tokyo, Mahesa yang mendengar suara itu langsung menghela napas lega. Kekhawatiran 30 menit terakhir hilang."Sayang... kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak menunggu ku?!" suara Mahesa langsung nyerocos, tidak ada lagi CEO dingin. Nada suaranya hangat, khawatir, sedikit ngomel seperti suami yang istrinya kabur. "Kamu tau gak aku panik lihat berita kamu di bandara sendirian! Kamu pesan tiket jam 5 pagi, gak makan, gak tidur!"Mahesa memang terkenal di luar sebagai CEO Mahesa Group yang dingin, kejam di meja negosiasi, tidak pernah tersenyum. Tapi saat bersama Nadin, ia adalah sosok yang baik, hangat, dan manja.Nadin tersenyum. Air matanya yang tadi tertahan di depan wartawan akhirnya jatuh."Aku baik, Sa... Maaf ya, aku panik saat tau Papa sakit. Aku gak bisa mikir jernih. Aku cuma mau lihat Papa," jelas Nadin sambil mengusap air mata, bersandar di dinding lorong rumah sakit.Mahesa
Last Updated : 2026-10-20 Read more