Setelah pesan itu terkirim, Veyra berpikir sejenak, lalu menambahkan satu pesan lagi.[ Cari dokter lain untuk menggantikannya jaga malam. Siapa pun yang bersedia kembali, insentif kinerjanya bulan ini akan dilipatgandakan. ]Setelah mengirim pesan itu, Veyra menelepon Valeria."Val, kamu di mana?""Kenapa, Kak? Aku di meja perawat, sebentar lagi mau pulang."Suara Valeria di telepon terdengar sudah lebih tenang. Sepertinya dia sudah bisa mengendalikan emosinya dan tidak menangis lagi."Bagus. Kalau begitu, cari kakak iparmu. Aku sudah suruh dokter lain gantikan dia jaga malam. Kamu temui dia, lalu pulang bersamanya."Valeria langsung tidak senang. "Kak, tadi dia memarahiku habis-habisan! Aku nggak mau lihat dia!"Veyra mengusap pelipisnya dengan pasrah. "Nanti di rumah aku yang marahi dia buat kamu. Gimana?"....Di meja perawat, setelah menutup telepon, Valeria menatap kamar pasien di kejauhan dengan perasaan campur aduk.Apa yang dia katakan di telepon tadi memang benar. Saat ini di
Read more