Bip... bip... bip...Suara monitor detak jantung itu adalah metronom hidup bagi Elina Vania.Di dalam Ruang Operasi Tiga, RS Harapan Sentosa, suhu 18 derajat celcius, bau antiseptik menusuk, dan semua mata tertuju pada satu titik: ujung pisau bedah di tangan Elina."Suction," ucap Elina pelan, tanpa mengangkat kepala.Asisten di sebelahnya bergerak cepat. Cairan bening tersedot, memperlihatkan pembuluh darah yang melilit batang otak pasien seperti akar beringin."Dr. Elina, tumornya menempel di arteri basilaris," bisik dr. Rendra dari seberang meja operasi. Tunangannya. Suaranya tegang. "Kalau salah potong 1 milimeter, pasien bisa lumpuh permanen."Elina tidak menjawab. Matanya yang tajam di balik kaca pembesar bedah tidak berkedip sedikit pun. Sudah 6 tahun ia menjadi ahli bedah saraf termuda di rumah sakit ini. Tangannya tidak pernah gemetar."Aku tahu," jawabnya akhirnya. "Makanya aku tidak akan salah 1 milimeter pun."Sret.Ujung pisau bedahnya bergerak. Bukan memotong, tapi mengu
最終更新日 : 2026-07-30 続きを読む