Bip... bip... bip... Itu bukan sekadar suara. Bagi Elina Vania, itu adalah metronom. Metronom yang mengatur napas, mengatur hidup dan matinya seseorang di atas meja ini. 18 derajat celcius. Ruang Operasi Tiga, RS Harapan Sentosa. Bau antiseptik bau darah yang samar, dan dingin yang menggigit tulang. Semua mata tertuju pada ujung pisau bedah nomor 15 di tangan Elina yang dibungkus sarung tangan lateks. Di atas meja, seorang pria 45 tahun dengan tumor seperti akar beringin yang melilit fondasi rumah. Satu tarikan napas salah, satu getaran 1 milimeter saja, pasien ini bisa lumpuh total atau mati. "Suction," ucap Elina. Pelan. Tidak perlu berteriak. Asisten bedah di sebelahnya, dr. Yuni, langsung bergerak. Selang suction mendesis, menyedot cairan serebrospinal yang bening. Area operasi menjadi bersih, memperlihatkan pembuluh darah yang berdenyut. Dari seberang meja, tunangannya, dr. Rendra Pratama, mengawasi dengan kening berkerut. Rendra adalah dokter bedah umum yang ambisius, yang
Terakhir Diperbarui : 2026-07-30 Baca selengkapnya