Dinding kamar sederhana berukuran tiga kali empat meter itu hanya diterangi pendar samar lampu tidur di sudut meja belajar. Suara jarum jam dinding berdetak konstan, menunjukkan angka pukul dua lebih lima belas menit pagi. Suasana malam di kediaman keluarga Wandi begitu hening, hanya diselingi jangkrik dari pekarangan samping rumah.Namun, di atas kasur berseprai biru pudar, Ken sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan memejamkan mata. Pemuda itu berguling ke kanan, menatap dinding polos, lalu bergerak gelisah memutar tubuhnya ke kiri hingga selimut tebalnya berantakan menutupi separuh badan.Ken menghembuskan napas panjang, meraup wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Sudah berkali-kali ia mencoba memejamkan mata, memikirkan hal-hal acak, bahkan menghitung detak jam dinding, tetapi otaknya tetap menolak untuk beristirahat.Pikirannya tertahan sepenuhnya pada satu sosok: Yuna.Gadis berwajah tembok dengan julukan
Terakhir Diperbarui : 2026-08-26 Baca selengkapnya