Home / Young Adult / HANYA ANAK PENGGANTI / BAB 24: HARGA DIRI DI ATAS RANJANG STERIL

Share

BAB 24: HARGA DIRI DI ATAS RANJANG STERIL

Author: thole
last update publish date: 2026-08-25 18:48:20

Aroma cairan antiseptik dan karbol tajam memenuhi seluruh sudut kamar rawat VIP nomor 302 di lantai tiga Rumah Sakit Medika Utama. Sinar matahari pagi menerobos tipis dari balik tirai putih transparan yang membingkai jendela kaca besar. Di atas ranjang periksa bernuansa serba putih, Yuna masih terbaring kaku. Wajahnya yang biasa dingin bagaikan es kini tampak begitu pucat pasi, hampir menyamai warna sprei yang menutupi tubuhnya.

Sebuah selang infus bening menancap di punggung tangan kirinya, me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 24: HARGA DIRI DI ATAS RANJANG STERIL

    Aroma cairan antiseptik dan karbol tajam memenuhi seluruh sudut kamar rawat VIP nomor 302 di lantai tiga Rumah Sakit Medika Utama. Sinar matahari pagi menerobos tipis dari balik tirai putih transparan yang membingkai jendela kaca besar. Di atas ranjang periksa bernuansa serba putih, Yuna masih terbaring kaku. Wajahnya yang biasa dingin bagaikan es kini tampak begitu pucat pasi, hampir menyamai warna sprei yang menutupi tubuhnya.Sebuah selang infus bening menancap di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan vitamin pekat dan penambah darah secara perlahan ke dalam pembuluh darahnya. Monitor di samping tempat tidur berbunyi teratur dengan ritme yang lambat dan halus, menandakan bahwa Yuna belum juga menyadarkan diri dari pingsan panjangnya sejak kemarin siang.Tak jauh dari kamar tersebut, di lorong VIP yang sepi dan lengang, Yuda melangkah dengan tertatih-tatih. Pemuda itu mengenakan pakaian pasien berwarna biru muda, tangannya memegangi tiang infus beroda yang membantunya menopang

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 23: BANGKU KOSONG DI CORNER BELAKANG

    Matahari pagi merambat naik menembus jendela-jendela kaca besar di gedung SMA Nusa Bangsa, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di atas meja kayu. Suasana di dalam kelas 11 IPA 1 masih riuh rendah oleh obrolan para murid sebelum bel masuk jam pertama berbunyi. Beberapa orang sibuk menyalin tugas sekolah, sementara yang lain berkumpul di dekat papan tulis sambil tertawa ketiwi.Namun, di sudut paling belakang ruangan, suasana terasa jauh lebih senggang. Sebuah bangku kayu yang terletak tepat di sebelah meja Hana tampak kosong melompong. Tidak ada tas sekolah yang tersampir di sandaran kursi, tidak pula ada buku catatan kimia yang biasa terbuka rapi di atas permukaannya.Ken berdiri di samping meja tersebut. Pemuda itu memegang tali tas sekolahnya yang tersampir di satu bahu, menatap kosong ke arah kursi Yuna yang tidak berpenghuni. Dahi Ken berkerut dalam, memancarkan raut kebingungan yang sangat jelas di wajahnya."Aneh..." gumam Ken pelan pada dirinya sendiri.Hana yang sudah duduk

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 22: DINGINNYA RUANG STERIL

    Proses pengambilan darah yang dipaksakan itu terus berjalan. Selang transparan di samping ranjang periksa tampak makin memerah pekat, mengalirkan cairan kehidupan dari tubuh Yuna menuju kantong plastik kedua. Wajah Yuna yang semula sudah pucat kini bertambah putih bagaikan kertas. Pandangannya yang menatap langit-langit kamar periksa perlahan mulai mengabur, membentuk bayangan ganda yang makin lama makin gelap.Denyut di pelipis Yuna berdetak terlalu kencang, diiringi rasa mendengung yang bising di dalam telinganya. Napasnya terengah-engah, sangat tipis dan halus. Jemari tangan kirinya yang terkulai di atas sprei putih dingin mulai kehilangan rasa. Yuna mencoba mempertahankan kesadarannya, namun rasa pusing luar biasa yang menghantam otaknya membuat kelopak matanya terasa amat berat.Perlahan tapi pasti, kelopak mata Yuna terpejam sepenuhnya. Kepalanya terkulai lemas ke samping kiri, tidak lagi bergerak.Bip... bip... bip...Suara monitor penanda detak jantung di samping ranjang menda

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 21: JARUM DAN KEKUASAAN TANPA AMBISI

    Dua detik setelah pengakuan Hana tentang usianya yang baru enam belas tahun membuat Ken dan Bima terpaku, sebuah getaran kuat disertai nada dering monoton memecah suasana. Ponsel pintar berwarna hitam milik Yuna yang tergeletak di atas meja bergetar hebat, menggeser sedikit permukaannya yang licin.Yuna melirik layar datar yang menyala. Nama 'Papa' terpampang jelas di sana, memancarkan aura dingin yang seketika membekukan seluas ruangan di sekitar Yuna.Yuna menggeser tombol hijau pada layar, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya."Ke Rumah Sakit Medika sekarang. Pak Joko sudah menunggu di depan gerbang," suara berat Yudistira terdengar di seberang sana. Tanpa nada sapaan, tanpa pertanyaan apakah putrinya sedang berada di jam pelajaran atau tidak. Perintah itu dijatuhkan begitu saja bagaikan titah hukum yang tak boleh diganggu gugat. "Kondisi Yuda menurun lagi. Dokter butuh pasokan darah tambahan siang ini."Yuna mengepalkan jemarinya di bawah meja, namun suaranya keluar begi

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 20: PACUAN DI KORIDOR DAN RAHASIA USIA

    BRAKKK!"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"Suara dobrakan pintu yang terbuka secara kasar dan mendadak itu mengejutkan seluruh manusia yang berada di dalam kelas 11 IPA 1. Dentuman keras pintu kayu yang menabrak dinding semen begitu nyaring, sampai-sampai membuat Yuna yang sedang mengunyah renyahnya kue kacang di sudut belakang tersedak hebat. Tenggorokan gadis itu serasa tercekat kepingan remah kue."Aduh, Yuna!"Ken yang duduk di depan meja Yuna seketika panik setengah mati. Dengan gerakan secepat kilat, Ken memutar tutup botol air mineral dingin yang tadi dibawakannya, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Yuna. "Nih, minum dulu, Yun! Pelan-pelan!"Yuna yang dadanya naik turun menahan batuk langsung merebut botol bening itu dari tangan Ken, lalu meminumnya beberapa teguk hingga tenggorokannya terasa lega kembali.Sementara di ambang pintu depan, sang pelaku utama berdiri dengan wajah polos tanpa dosa. Dasi OSIS-nya sedikit miring dan rambut rapinya agak berantakan."Eh, eh! Kalian tahu cewek y

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 19: RASA BOSAN DI TENGAH RUANGAN

    Suasana tenang di sudut belakang kelas 11 IPA 1 yang tadinya hanya diisi oleh kunyahan pelan Yuna dan obrolan lembut Hana mendadak terpecah. Pintu depan terdorong pelan, menampilkan sosok Ken yang melangkah masuk membawa sebuah botol bening berisi air mineral dingin.Pemuda itu berjalan mantap membelah deretan meja kosong, mengikis jarak menuju meja Yuna. Senyum manis yang memancarkan binar ceria tak pernah lepas dari bibirnya. Tanpa memedulikan tatapan dingin dari Yuna, Ken meletakkan botol air mineral itu tepat di samping toples kaca kue kacang yang masih terbuka."Nih, gue bawain air putih. Takutnya lo seret pas makan itu kue," ucap Ken dengan nada renyah dan senyum manis yang mengembang sempurna.Yuna menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengambil kepingan kue berikutnya. Iris mata cokelat gelapnya melirik botol air dingin di meja, lalu beralih menatap wajah Ken dengan raut datar tanpa ekspresi. Yuna tidak mengangguk, tidak menggeleng, dan tidak pula menguapkan sepatah kata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status