Kata-kata Bi Sumi di teras depan menggantung dingin, memicu gelombang histeria halus di dada Arini.Daman tetap mematuhi ekspresi batunya, walau rahang tegasnya mengeras menahan gejolak amarah."Bi Sumi, antarkan minuman ke atas," perintah Daman singkat dengan nada dingin tak tergerak."Baik, Anak Sholeh," sahut Bi Sumi tersenyum beracun, melangkah pelan menuju dapur belakang.Arini menatap Daman dengan tatapan panik saat mereka melangkah masuk. "Daman... Kenapa Mas Hardian bisa di rumah? Bukankah tadi dia bilang mau ke kantor?""Tetap tenang, Arini. Jangan tunjukkan rasa takut," bisik Daman sangat rendah, membimbing wanita itu naik menuju lantai dua.Langkah sepatu mereka bergema kaku menaiki tangga marmer yang sepi.Di lorong lantai dua, Hardian muncul dari ruang kerjanya dengan kancing kemeja atas yang sudah terbuka.Aura dominan dan rasa memiliki mutlak memancar kuat dari gestur angkuh pria tua itu.Daman menatap sosok Hardian dengan kening berkerut tipis, mengukur ketegangan udar
Last Updated : 2026-08-02 Read more