Lampu kristal di langit-langit kamar memantulkan cahaya kuning pucat yang mengerikan.Arini memaku tatapannya ke gantungan porselen itu, menahan napas saat deru dada Hardian menghantam telinganya."Diam, Arini," bisik Hardian dingin, menekankan otoritas mutlaknya tanpa sedikit pun kelembutan.'Pria tua ini pikir kasur jati ini panggung pertunjukan privatnya,' batin Arini meringis, merasakan pergelangan tangannya mulai memutih."Nikmati saja posisimu," kekeh Hardian seraya mempererat cengkeramannya. "Tidak semua perempuan bisa tidur di ranjang seharga mobil mewah ini."Arini meringis tertahan saat rasa perih menjalar cepat di kulitnya."Sakit, Mas..." rintih Arini parau, berusaha memalingkan wajahnya dari bau cerutu yang menyengat.Hardian tidak peduli, matanya tetap terpaku pada lekuk tubuh Arini yang tersingkap.Bagi pria itu, Arini hanyalah aset berharga yang kepemilikannya harus diklaim setiap malam secara kasar."Kamu memang milikku yang paling nikmat!" umpat Hardian, melampiaskan
آخر تحديث : 2026-08-02 اقرأ المزيد