登入Bagi Arini (26), pernikahan mewahnya bersama Hardian (48)—seorang konglomerat otoriter—tak ubahnya penjara emas yang dingin. Demi melunasi utang keluarga, ia terbiasa pasrah diperlakukan sebagai properti dan pelampiasan kasar sang suami hingga memilih mati rasa. Namun, ketenangan semu itu hancur saat Daman (32), seorang mantan prajurit pasukan khusus, hadir sebagai pengawal pribadinya selama 24 jam. Niat Daman untuk tetap profesional runtuh begitu melihat memar dan penderitaan di balik keanggunan sang nyonya muda. Sentuhan perlindungan Daman perlahan menjelma menjadi kehangatan yang membakar dan belum pernah dirasakan Arini sebelumnya. Perlahan, kehangatan sang pengawal bukan lagi sekadar penawar trauma, melainkan candu terlarang yang menguasai logika Arini. Di bawah intaian mata-mata rumah dan kecurigaan Hardian yang kian memuncak, ikatan emosional dan fisik mereka berkembang menjadi pengkhianatan paling berbahaya. Ketika hasrat terlarang ini mengundang ancaman maut, mereka harus memilih: tetap membiarkan jiwa mereka mati dalam sangkar emas, atau nekat bertaruh nyawa demi merebut kebebasan dan cinta sejati.
查看更多Cermin rias berkulit kerang di sudut kamar itu memantulkan bayangan yang sangat dibenci Arini.
Bukan gaun malam merah dari bahan sutra impor yang melekat di tubuhnya. Bukan pula perhiasan berlian yang melingkar berat di leher mulusnya. Melainkan bekas lebam kebiruan yang membiru di bahu kiri, tersembunyi tipis di balik kain gaun berpotongan rendah.
"Tutup gaunmu lebih naik, Arini," cetus sebuah suara berat bernada dingin dari arah meja rias.
Arini tersentak pelan. Jemarinya yang gemetar langsung menarik bagian atas gaunnya.
Hardian berdiri di sana. Pria berusia 48 tahun itu tampak rapi dalam setelan jas buatan penjahit ternama Italia. Wajahnya yang tegap dipadu kacamata berbingkai perak memancarkan aura pengusaha sukses yang disegani. Namun bagi Arini, pria itu tak ubahnya monster yang memegang kendali atas seluruh hidupnya.
Hardian merapikan letak dasinya di depan cermin, tanpa sudi melirik sedikit pun pada wajah Arini yang pucat. Bau cerutu mahal berbahan tembakau Kuba yang kuat terpancar dari tubuhnya, memenuhi seluruh ruang kamar dan membuat perut Arini mendadak mual.
"Malam ini kita ada jamuan penting dengan jajaran komisaris bank dan mitra investor Vektor," ucap Hardian datar. Suaranya tenang, namun mengandung ancaman mutlak. "Jangan bikin aku malu cuma gara-gara kulit mulusmu yang lecet itu kelihatan orang."
"I-iya, Mas," bisik Arini lirih. Suaranya hampir tenggelam di antara bunyi detik jam dinding. "Aku sudah meratakan foundation tebal untuk menutupi bekasnya."
Hardian berbalik, melangkah mendekati Arini. Sepatu kulitnya mendenting kaku di atas lantai marmer. Pria itu mengulurkan tangan, mencengkeram dagu Arini agak kuat lalu mengarahkan wajah wanita 26 tahun itu ke atas.
Arini menahan napas. Matanya dihinggapi ketakutan murni saat menatap mata suaminya yang dingin tanpa empati.
"Bagus," sahut Hardian seraya mendaratkan ciuman singkat di jidat Arini. Ciuman yang sama sekali tidak dipenuhi kasih sayang, melainkan penegakan hak milik. "Ingat statusmu di rumah ini, Arini. Kamu itu aset utuhku yang paling mahal. Jangan pernah berpikir untuk bertindak bodoh."
Hardian melepaskan cengkeramannya, menepuk pipi Arini pelan dua kali, lalu berbalik pergi meninggalkan kamar tidur utama tanpa memutar tubuh lagi.
Bunyi pintu kayu jati tebal yang tertutup rapat berdentang nyaring di telinga Arini.
Tubuh Arini seketika merosot. Punggungnya menyandar lemas pada daun pintu yang dingin. Napasnya memburu cepat, seolah baru saja lolos dari himpitan batu besar. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes tipis, melintasi pipinya yang teroles bedak tebal.
Dua tahun pernikahan ini merasa bagai penjara emas tanpa batas. Pernikahan yang didasari oleh tumpukan utang bisnis almarhum ayahnya. Arini dijual secara halus untuk menyelamatkan nama baik keluarga, menyerahkan seluruh kebebasannya pada seorang konglomerat otoriter.
Arini mengusap air matanya cepat-cepat saat mendengar langkah kaki mantap mendatangi pintunya dari luar.
Klek.
Pintu kamar mendadak terbuka kembali.
Arini meloncat kaget, melangkah mundur dua pijakan dengan dada yang berdetak kencang. Ia mengira Hardian kembali untuk meluapkan amarah lain.
Namun, bukan Hardian yang berdiri di ambang pintu.
Seorang pria bertubuh tegap sekeras karang berdiri tegak di sana. Tingginya hampir 185 centimeter, mengenakan setelan jas hitam rapi yang memeluk ketat otot bahu dan dadanya yang bidang. Pria itu memegang sebuah walkie-talkie di tangan kirinya, sementara tatapan matanya yang tajam bak elang langsung terkunci pada sosok Arini.
Aura pria ini sangat berbeda dari Hardian. Jika Hardian memancarkan dominasi otoriter yang licik, pria di depannya ini memancarkan bahaya murni yang terkendali.
"Permisi, Nyonya," ucap pria itu. Suara vokalnya rendah, dalam, dan berwibawa, bergetar hingga ke dasar dada Arini. "Tuan Besar memerintahkan saya untuk mengawal Anda turun menuju mobil."
Arini meneguk ludah keras. Matanya meneliti wajah pria asing di depannya. Rahang pria itu tegas dengan bayangan jambang tipis yang rapi. Tidak ada senyum, tidak ada keramahan. Hanya kepatuhan dingin seorang profesional.
"K-kau... pengawal baru itu?" tanya Arini gagap. Langkah kakinya otomatis mundur satu titik lagi saat merasakan tekanan aura dari pria tersebut.
"Daman. Mantan instruktur taktis pertempuran," jawab pria itu singkat, padat, tanpa embel-embel.
Daman melangkah masuk satu pijakan. Langkah kakinya sangat ringan dan tanpa suara, seperti predator yang terbiasa bergerak di kegelapan.
Saat Arini melangkah mundur karena gugup, tumit sepatu hak tingginya tersangkut di pinggiran karpet bulu. Tubuh Arini kehilangan keseimbangan. Ia memekik pelan, memejamkan mata sambil bersiap meratapi tubuhnya yang akan terhempas keras ke lantai marmer.
Namun rasa sakit yang dibayangkannya tidak pernah datang.
Sebuah tangan kekar dengan kulit agak kasar dan hangat menangkap pinggul Arini dengan cekatan. Gerakan Daman begitu cepat, bahkan sebelum Arini sempat menyadari apa yang terjadi.
Tubuh Arini tertarik rapat ke depan, menabrak dada bidang Daman yang keras seperti dinding batu.
Desakan udara keluar dari paru-paru Arini. Bau aroma tubuh Daman—perpaduan sabun batang maskulin, minyak kayu cendana, dan sedikit aroma peluh jantan—seketika menyeruak masuk memenuhi indra penciumannya. Bau yang sama sekali tidak menggunakan parfum mahal buatan Prancis, namun terasa jutaan kali lebih mendominasi ketimbang bau cerutu Hardian.
Setruman aneh menjalar cepat dari titik jemari Daman di pinggul Arini, naik merambat ke tulang belakang hingga membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Arini merintih pelan di balik tenggorokannya.
"A-apa yang kau lakukan? Lepaskan!" bisik Arini panik. Wajahnya menengadah, menemukan mata hitam Daman yang berjarak kurang dari sepuluh sentimeter dari wajahnya.
"Menahan posisi berdiri Anda yang oleng, Nyonya," pangkas Daman. Suaranya tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Jemari tangannya yang kekar tetap mengunci pinggul Arini dengan stabil. "Memegang pinggul Anda seperti ini cuma bagian dari standar prosedur keamanan dasar. Bukan ajakan main-main."
'Astaga... sentuhan pria ini...' batin Arini bergejolak hebat. Napasnya tertahan saat merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Daman. 'Sentuhan Hardian selalu bikin aku mual dan gemetar ketakutan. Tapi sentuhan Sipir Berjas Hitam ini... kenapa justru rasanya hangat? Kenapa mendadak bikin ketagihan?'
Arini berusaha mendorong dada Daman, namun otot dada di balik kemeja putih pengawal itu benar-benar sekeras papan jati. Pria itu bahkan tidak bergeming satu milimeter pun.
Daman menyadari perubahan warna kemerahan yang merambat cepat di pipi dan leher Arini. Namun, matanya tetap datar, mempertahankan cengkeraman tangannya di pinggul sang Nyonya Muda satu detik lebih lama dari yang seharusnya.
"Bisa berdiri tegak dengan kaki sendiri, Nyonya? Atau perlu saya angkat sampai ke dalam mobil sesuai protokol darurat?" bisik Daman sinis. Suara bernapas tenangnya terasa menyapu permukaan kulit leher Arini yang terbuka.
Arini menyulingkan mata, menahan detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan. "J-jalan sendiri! Lepaskan tanganmu dari pinggulku, Dosa Berjalan!"
Daman melepaskan tangannya seketika, lalu mundur dua langkah dengan gerakan formal, memberi ruang bagi Arini untuk berjalan melewati pintunya.
"Silakan jalan di depan saya, Nyonya," kata Daman seraya menunjuk arah lorong dengan gestur tangan tegak. "Dan tolong perhatikan pijakan Anda. Saya tidak suka harus memegang pinggul Anda untuk kedua kalinya di depan pelayan lain."
Arini berjalan melewati Daman dengan dagu terangkat, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya sebagai nyonya rumah. Namun saat ia berjalan mendahului pria itu, Arini sadar betul bahwa mata tajam sang pengawal terus mengawasi setiap lekuk tubuh dan gerak-geriknya dari belakang.
Penjara emas ini baru saja kedatangan penjaga baru yang jauh lebih berbahaya dari sang pemilik penjara itu sendiri.
Laporan tegang dari Bang Togar melalui radio taktis membuat Daman langsung bergerak senyap tanpa memberi tahu Arini agar wanita itu tidak panik di hari bahagianya.Daman memperketat seluruh akses masuk ballroom utama hotel bintang lima yang sudah dihiasi lautan bunga mawar putih mewah.Ratusan pejabat, jajaran mitra bisnis papan atas, serta puluhan awak media telah memadati ruangan megah yang dijaga amat ketat oleh personel keamanan independen.Di balik koridor belakang panggung, Daman berdiri tegap dalam balutan tuksedo hitam buatan Siska yang semakin mempertegas kesan jantan dan gagah pada posturnya.Radio taktis di telinga Daman bergetar halus, menyalurkan vokal berat Bang Togar dari area parkir VIP."Daman, target mencurigakan berbaju katering bergerak ke arah lorong samping kiri stage," lapor Bang Togar cepat.Daman melangkah cepat mene
Laporan radio dari Bang Togar membuat Daman bergerak cepat memeriksa tumpukan dokumen di meja kerja vila, lalu mengamankan manifes jaringan pembunuh bayaran tersebut sebelum sempat mengeksekusi perintah Hardian.Tiga bulan berlalu sejak penangkapan besar-besaran itu, seluruh ancaman teror internasional berhasil ditumpas habis oleh gabungan tim Daman dan kepolisian.Pagi ini di aula utama Vektor Group, Arini berdiri anggun di atas podium mewah dalam acara pengukuhan resminya sebagai pemilik tunggal dan Direktur Utama Vektor Group.Daman berdiri tegap di samping podium memakai jas hitam rapi, matanya mengawasi seluruh penjuru ruangan dengan kewaspadaan penuh."Mulai hari ini, Vektor Group resmi meninggalkan seluruh praktik korupsi dan berdiri di atas transparansi mutlak," tegas Arini menyuarakan pidatonya di hadapan ratusan awak media.Tepuk tangan riuh bergema menyambut pidato tersebut, menandai runtuhnya bayang-bayang penjara emas yang selama ini mengurung hidup Arini.'Pria tua itu p
Suara gemeretak ponsel di bawah injakan boot tebal Daman memutus seketika jeritan ancaman Bi Sumi yang menggelegar di basemen logistik.Daman merebut ponsel yang hancur itu, lalu mencengkeram lengan Bi Sumi dan menyeretnya masuk ke dalam ruang interogasi kedap suara di lantai bawah tanah gedung Vektor.Di dalam ruangan berdinding beton itu, Riko sudah terduduk terikat di kursi besi dengan tubuh gemetar hebat dan keringat dingin membasahi pelipisnya."D-Daman... Tolong, Mas... Gue cuma diajak Bi Sumi! Gue nggak tahu apa-apa soal rencana Tuan Besar!" ceracau Riko gagap begitu melihat Daman melangkah masuk.Arini berjalan anggun melintasi ambang pintu, menyilangkan kakinya di depan meja kayu tebal seraya menatap dua pengkhianat itu dengan tatapan dingin."Masih mau berbohong di depan Direktur Utama Vektor, Riko?" tembak Arini tajam dengan senyum sinis menawan.'Pria penakut ini dulu sok hebat mau geser Daman, sekarang malah mau kencing di celana,' batin Arini terkekeh puas melihat kegugu
Sisa malam di safehouse rahasia Bang Togar berlalu dalam ketegangan, tempat Daman dan Arini merancang strategi pembalasan cepat sebelum teror Hardian meluas."Kertas-kertas pemecatan ini senjata pertama kita, Daman," desis Arini seraya mengepalkan tangan, menatap berkas jajaran direktur korup kroni Hardian di atas meja taktis."Saya pastikan garis depan aman saat Anda memegang kendali pagi ini, Nyonya," balas Daman dingin seraya memeriksa senjata dan setelan jasnya.Pagi harinya di ruang rapat utama lantai teratas Vektor Group, Arini berdiri tegak menguasai meja bundar besar dengan setelan blazer merah marun yang mempertegas lekuk tubuh serta aura kepemimpinannya.Daman berdiri tegap tepat satu langkah di belakang kursi utama Arini, matanya yang tajam menyapu seluruh sudut ruangan dengan jas hitam rapi yang membungkus dada bidangnya."S-Selamat pagi, Nyonya Arini... A-Apakah rapat darurat ini ada hubungannya dengan dokumen keuangan Tuan Hardian?" tanya Pak Seno, salah satu direktur sen
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.