“Dan saat itulah,” lanjut Arven dengan suara rendah, “aku mulai sadar bahwa yang dia lakukan bukan lagi sekadar menjagaku.”Elena diam saja, tak menyela. Ia tahu Arven sedang membuka luka yang dikuncinya rapat bertahun-tahun lamanya.Arven menunduk. “Dulu aku pikir trauma itu hanya soal takut pada sesuatu,” ucapnya pelan sambil tersenyum tipis getir. “Ternyata tidak sesederhana itu.”Kael menatapnya saksama.“Traumaku bukan sekadar rasa sakit, bukan rumah sakit, bahkan bukan serangan jantung itu sendiri,” ujar Arven perlahan. Ia berhenti sejenak, lalu menegaskan, “Traumaku adalah soal kehilangan kendali atas diriku sendiri.”Lima Tahun Lalu, setelah pemeriksaan selesai, Arven kembali didorong menyusuri koridor yang sama. Tubuhnya masih lemas, kepala pening berat, ia hanya bisa menatap langit-langit berganti di atasnya, mendengar bunyi roda ranjang berputar terus. Belok kiri, kanan, lalu lurus lagi. Lorong itu terasa tak berujung.Orang-orang lewat di sampingnya, perawat membawa baki,
Dernière mise à jour : 2026-09-16 Read More