Pintu kamar tertutup rapat, akan tetapi Arven masih berdiri diam menatap foto yang baru tiba di ponsel Elena. Gambarnya biasa saja, Elena berjalan di koridor, dirinya agak jauh di belakang. Tidak ada yang aneh, kecuali satu hal, foto itu diambil dari jarak yang terlalu dekat. Arven mengepalkan tangan erat.“Dia masih ada di sini,” ucapnya rendah, bergetar menahan amarah.Suara Elena terdengar pelan di sampingnya. Arven tidak menjawab, pandangannya tetap terpaku layar. “Arven.”“Aku tahu,” jawabnya singkat, datar sekali, sehingga Elena justru makin khawatir.“Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya hati-hati. Arven menurunkan ponsel perlahan.“Mencarinya,” ucapnya tegas tanpa ragu.“Jangan,” seru Elena cepat sekali.Arven menoleh tajam. “Kenapa?”“Kita belum tahu siapa dia dan apa tujuannya,” jelasnya lembut akan tetapi tegas.“Tapi dia sudah berani mengancammu!” tegur Arven meninggi.“Mengirim ancaman bukan alasan kau harus terburu-buru mengejarnya sendirian,” bantah Elena.“Justru karen
Dernière mise à jour : 2026-09-09 Read More