Lihat Haris berhasil buat mereka kesal, diam-diam Susan merasa puas. Tanpa melirik Guntur maupun Yanto sedikit pun, Susan langsung palingkan wajahnya ke arah Haris dan berkata, “Haris, ayo kita pergi.”Dengar itu, Haris langsung melangkah maju dan rangkul pinggang Susan. Pada saat yang sama, dia condongkan tubuhnya, hirup aroma sampo dari rambutnya. Wangi manis itu begitu memikat hingga buat dia terlena. Setelah pejamkan mata dan nikmati aroma itu sejenak, Haris akhirnya sunggingkan senyum nakal di sudut bibirnya.“Oke, Sayang.”Kehadiran Haris yang begitu dekat buat Susan merasa sedikit tertekan. Dia berusaha tepis tangan pria itu, tetapi nggak disangka, Haris justru rangkul dia semakin erat.“Sayang, banyak orang lagi lihatin kita. Kasih aku sedikit muka, dong, oke?”Barulah Susan turunkan tangannya dan biarkan Haris bertindak sesuka hatinya. Gimanapun, semua ini cuma untuk sandiwara saja. Lagian, Haris cuma rangkul pinggangnya, nggak ada yang perlu dibesar-besarkan. Namun, bagi Gunt
Ler mais