Dulu, kemarahan Lukas adalah perkara besar bagi Susan. Namun, sekarang, dia merasa kemarahan pria itu bukanlah sesuatu yang perlu dipusingkan. Memangnya kenapa kalau Lukas marah? Lukas semakin marah, Susan semakin tenang.“Dulu aku memang nggak bisa bedakan mana yang lebih penting dan mana yang bisa ditunda. Tapi sekarang, aku sudah bisa bedakan itu.”Setelah berkata demikian, Susan khawatir Lukas salah paham, jadi dia tambahkan, “Karena itu aku harus pulang untuk rawat keluargaku.”Lukas genggam HP-nya erat-erat. Cahaya jingga lampu jalan tembus jendela mobil dan sinari wajahnya. Raut mukanya tampak muram, sementara amarah bergolak hebat di dalam dadanya.Dari suara napas Lukas, Susan tahu pria itu sedang sangat marah. Namun, dia sama sekali nggak peduli. Ia hanya berkata, “Kalau nggak ada apa-apa lagi, aku tutup teleponnya.”Pada saat itu, Lukas tiba-tiba rendahkan suaranya. Dengan gigi terkatup, dia peringatkan Susan, “Susan, kamu sadar nggak barusan kamu bilang apa?”“Jelas aku sad
Ler mais