Susan nggak langsung kemudikan mobil sampai ke depan rumah Keluarga Tanoko. Dia pilih berhenti di luar kompleks perumahan. Dia punya sedikit keegoisan dalam hatinya. Susan pikir, setidaknya untuk beberapa ratus meter terakhir, dia bisa jalan berdua saja dengan putrinya. Meski mereka nggak bicara sepatah kata pun, setidaknya keinginan kecil itu masih bisa dia wujudkan.Setelah malam ini berlalu, entah kapan lagi mereka berdua bisa jalan bersama seperti ini. Mungkin, sepanjang hidup mereka, nggak akan pernah ada lagi kesempatan seperti ini. Pikirkan hal itu, perlahan mata Susan dipenuhi air mata. Namun, jalan yang biasanya terasa begitu panjang malam ini justru terasa berlalu begitu cepat. Seolah-olah baru kurang dari sepuluh menit, mereka sudah sampai.Di depan rumah Keluarga Tanoko berdiri beberapa orang. Dari kejauhan, Susan sudah lihat Bella, Weni, dan Hadi.“Hadi, lihat! Itu Susan. Susan datang sama Sinta!”Suara Bella terdengar dari kejauhan, penuh kegembiraan, tetapi juga bergetar
Read more