Maxwell beranjak menuju dapur dan beberapa menit kemudian, Maxwell kembali dengan membawa secangkir mug keramik besar yang mengepulkan uap manis. Ia meletakkan mug itu di atas meja kaca, tepat di depan Sylvia, lalu duduk di sampingnya dengan jarak yang sopan. "Minum dulu. Cokelat hangat," ucap Maxwell pelan. Sylvia tidak menyentuh mug itu. Pandangannya terpaku lurus ke lantai marmer, bahunya berguncang hebat menahan isak tangis yang mulai lolos satu per satu dari bibirnya. Maxwell menatap jemari Sylvia yang saling meremas gemetar di atas pangkuan jubah mandinya. Tangannya terangkat ragu, hendak menyentuh bahu gadis itu, tetapi ia urungkan. "Aku minta maaf, Sylvia," suara Maxwell terdengar begitu rendah, tulus, dan sarat akan penyesalan. "Aku benar-benar tidak tahu kalau sopir di rumahku itu... ternyata pacar rahasiamu." Mendengar kata 'pacar', tangis Sylvia seketika pecah tak terbendung. "Dia... dia bukan pacarku lagi," isak Sylvia tersendat-sendat. Kedua tangannya ter
Last Updated : 2026-09-21 Read more