"Aku udah tahu semuanya, Ma."Setelah keduanya saling mengurai pelukan dan kemudian duduk berdampingan di kursi usang, di dalam ruang tamu tersebut, Kanaya mulai membuka pembicaraan.Kepalanya masih tertunduk, sesak tak terkira dan seakan tak kuasa jika beradu tatap dengan ibunya. Sekadar tangannya yang begitu erat menggenggam jemari Rumi, yang kini jauh lebih kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu."Siapa yang memberitahumu, Nak?" tanya Rumi dengan lirih.Entah bagaimana perasaannya kala itu. Antara lega, terharu, sedih, dan menyesal, bercampur menjadi satu. Membuatnya canggung dan hampir tak mengerti harus melakukan apa.Kanaya pun, detik itu ada di posisi yang sama. Ia tak ingin memberitahukan tentang Diana, tetapi ia juga tak bisa menutupinya dengan kebohongan. Alhasil, Kanaya sekadar diam dengan kepala yang masih setia menunduk.Melihat diamnya Kanaya, Rumi mulai bisa menebak. Pastilah Diana, seseorang di balik ini semua. Hanya dia, satu-satunya orang yang paling paham deng
Last Updated : 2026-09-26 Read more