Udara di lembah itu mendadak terasa membeku, bukan hanya karena suhu dingin Gunung Slamet, melainkan karena maut yang kini mengepung mereka dari segala penjuru. Kalea bisa melihat binar merah dari laser penembak jitu yang menari-nari di atas tanah basah, bergerak perlahan mencari celah untuk menembus pertahanan mereka. "Satu kompi..." bisik Kalea dengan bibir bergetar, tangannya mencengkeram kemeja Nata yang basah oleh darah. Napasnya memburu, sementara suara hujan dan langkah kaki musuh bercampur menjadi satu. "Miko, kita tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup, kan?" Miko tidak langsung menyahut. Ia justru sibuk mengatur alat komunikasi di telinganya sembari terus menekan luka di pelipisnya yang masih mengeluarkan darah. Tatapannya tetap tajam, menyisir setiap pergerakan bayangan di balik kabut yang kian menipis. Ia tahu, sedikit saja mereka salah bergerak, posisi mereka akan la
Last Updated : 2026-08-27 Read more