Setelah sempat terpaku selama beberapa detik, dia akhirnya berjalan ke arahku selangkah demi selangkah.“Sonya ....”Aku mundur dengan waspada, lalu menatapnya datar.“Buat apa kamu datang ke sini? Bukannya keluargamu bilang kamu sedang sakit?”Alvin tertegun, seolah perkataanku barusan telah menyengatnya.“Kamu tahu aku sakit, lalu kenapa nggak pulang menjengukku?”“Jangan-jangan, di dalam hatimu, aku ini sebenarnya nggak penting?”Tentu saja dia tak bisa memercayainya.Bagaimanapun, kalau itu aku yang dulu, aku pasti sudah membeli obat untuknya, menyuapkannya, lalu berjaga di sisi ranjangnya sepanjang malam.Namun sekarang, keselamatannya sudah tak ada hubungannya lagi denganku.Dengan susah payah, kutarik sudut bibirku.“Kita sudah putus. Jadi, aku nggak punya kewajiban untuk merawatmu lagi.”Detik berikutnya, Alvin mencengkeram bahuku. Matanya dipenuhi ketidakrelaan.“Kenapa? Kenapa kamu bisa memutuskan hubungan ini sepihak?”“Aku nggak pernah setuju kalau kita putus. Dan sampai ka
Read more