แชร์

Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang
Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang
ผู้แต่ง: Mohini

Bab 1

ผู้เขียน: Mohini
Dia mengangkat kepala dengan bingung, lalu tanpa sadar menyentuh alat bantu dengar di telinganya.

“Kamu tadi bilang apa? Aku nggak dengar jelas.”

Setiap kali aku berbicara, dia tak pernah benar-benar memperhatikannya. Dia tahu aku akan dengan sabar mengulanginya sekali lagi.

Namun, kali ini aku tak ingin mengulanginya berkali-kali.

“Bukan apa-apa.”

Aku berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang.

“Batalkan saja rumah ini. Aku sudah bilang, kita beli rumah di bagian selatan. Pokoknya di selatan.”

Seketika, wajahnya berubah muram.

“Rumah itu bukan baju yang bisa diganti begitu saja. Desainnya kamu yang buat, sementara renovasinya aku awasi siang malam. Sekarang kamu bilang nggak mau, lalu semuanya harus ditinggalkan begitu saja?”

“Sudahlah. Jangan bertingkah lagi.”

Suasana di antara kami masih tegang.

Saat itulah terdengar bunyi klik.

Pintu tiba-tiba terbuka.

Luna masuk setelah memindai sidik jarinya, santai seperti sedang memasuki rumahnya sendiri.

Kami bertiga pun saling berpandangan.

Begitu menyadari kami sedang bertengkar, wanita itu langsung menggigit bibir erat-erat. Wajahnya memerah.

“Kakak ipar, tolong maklumi Kak Alvin. Dia punya gangguan pendengaran. Dia juga nggak sengaja salah dengar.”

“Gimana kalau aku masak sesuatu untuk membuat kalian senang?”

Setelah mengatakan itu, Luna langsung bergerak ke dapur.

Dia dengan cekatan mencuci sayuran, menyiapkan bahan makanan, lalu memasaknya.

Gerakannya begitu terampil, seolah-olah sedang berada di rumahnya sendiri.

Alvin menatap Luna yang sibuk di dapur dengan sorot mata penuh kasih sayang.

Seperti biasa, dia ikut membantu.

Keduanya terlihat begitu kompak dan hangat.

Namun, sepertinya mereka semua lupa.

Rumah ini jelas-jelas adalah rumah pernikahan kami.

Saat aku hendak pergi, Alvin berlari kecil menghampiriku dan menarik tanganku.

“Dia sudah berniat baik memasak untuk merayakan kepindahanmu. Tapi kamu malah pasang wajah nggak senang seperti ini? Kamu benar-benar nggak tahu diri, ya.”

Perayaan pindah rumah untukku?

Sebenarnya, sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, aku sudah menyadari bahwa tata letaknya sama sekali berbeda dari rancangan yang kubuat.

Kamar yang awalnya kuperuntukkan bagi kerabat dan teman yang datang berkunjung justru memiliki luas dua kali lipat dari kamar utama.

Bahkan demi memaksakan perluasan area tersebut, ruang pakaian yang kurancang dengan begitu teliti malah dipersempit hingga hanya seukuran gudang.

Bahkan ubin dindingnya pun menggunakan jenis ubin poles yang sejak awal sudah kutolak mentah-mentah.

Jelas sekali.

Semuanya telah diubah mengikuti selera Luna.

“Kalian makan saja.”

Suaraku terdengar datar.

Setelah mengatakannya, aku hendak membuka pintu dan pergi.

Namun, Luna lebih dulu menghalangiku.

Wajahnya tampak sedih dan penuh rasa bersalah.

“Aku nggak tahu kenapa Kakak ipar sampai marah .…”

“Tapi kalau mau marah, marahi aku saja. Kak Alvin punya gangguan pendengaran. Kalau suaramu terlalu keras, dia nggak akan tahan. Tolong maklumi dia.”

Kuku jariku menancap dalam ke telapak tangan.

Rasa sakit yang tajam seketika menjalar.

Aku sudah terlalu sering melihat Luna melampiaskan amarahnya kepada Alvin.

Bahkan, pernah suatu kali dia menampar Alvin hingga alat bantu dengar yang paling berharga bagi pria itu terlepas.

Namun, saat itu Alvin hanya buru-buru memungut alat bantu dengarnya.

Lalu, dia memohon kepada Luna untuk mengulangi semua yang baru saja dikatakannya.

Dia takut melewatkan sesuatu yang penting.

Namun, setiap kali kami bertengkar, Alvin justru selalu melepas alat bantu dengarnya begitu saja.

Membiarkanku berteriak histeris seperti orang gila.

Namun mulai sekarang .…

Aku tak akan pernah membuat keributan lagi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 8

    Setelah sempat terpaku selama beberapa detik, dia akhirnya berjalan ke arahku selangkah demi selangkah.“Sonya ....”Aku mundur dengan waspada, lalu menatapnya datar.“Buat apa kamu datang ke sini? Bukannya keluargamu bilang kamu sedang sakit?”Alvin tertegun, seolah perkataanku barusan telah menyengatnya.“Kamu tahu aku sakit, lalu kenapa nggak pulang menjengukku?”“Jangan-jangan, di dalam hatimu, aku ini sebenarnya nggak penting?”Tentu saja dia tak bisa memercayainya.Bagaimanapun, kalau itu aku yang dulu, aku pasti sudah membeli obat untuknya, menyuapkannya, lalu berjaga di sisi ranjangnya sepanjang malam.Namun sekarang, keselamatannya sudah tak ada hubungannya lagi denganku.Dengan susah payah, kutarik sudut bibirku.“Kita sudah putus. Jadi, aku nggak punya kewajiban untuk merawatmu lagi.”Detik berikutnya, Alvin mencengkeram bahuku. Matanya dipenuhi ketidakrelaan.“Kenapa? Kenapa kamu bisa memutuskan hubungan ini sepihak?”“Aku nggak pernah setuju kalau kita putus. Dan sampai ka

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 7

    Beberapa jam menjelang pernikahan, ponselku terus-menerus berdering.Namun, satu per satu panggilan itu kuabaikan. Setekah itu, semua nomor tersebut langsung kublokir.Alvin juga tak henti-hentinya mengirimiku pesan.Dia bertanya … Aku di mana? Kenapa sampai sekarang aku belum juga datang?Namun, dia tak tahu bahwa aku sudah membatalkan seluruh reservasi tempat pernikahan.Pernikahan yang sejak awal tak pernah dihargai, pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah lelucon.Lebih baik kami berpisah dengan baik-baik, tanpa saling berutang apa pun.Setelah mulai bekerja di perusahaan baru, seluruh energiku kucurahkan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.Beberapa hari kemudian, sahabat dekat Alvin meneleponku menggunakan nomor yang berbeda-beda.Tanpa sengaja, kali ini aku mengangkatnya.“Kak Sonya, Kak Alvin sudah hampir gila mencarimu. Cepatlah pulang.”“Sekarang dia demam tinggi dan nggak kunjung turun. Tante Sarah sampai cemas dan jatuh sakit hingga harus dirawat di rumah sakit. K

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 6

    “Ka, kak Alvin?”Luna langsung berdiri. Wajahnya seketika pucat seperti kertas.Dia berusaha mengalihkan pembicaraan.“Kenapa tiba-tiba datang, Kak? Apa Sonya sudah pulang?”Alvin tak menjawab.Wajahnya dingin saat perlahan melangkah menghampiri Luna.“Apa yang baru saja kamu katakan?”“Kamu yang membayar orang ini untuk menakut-nakuti Sonya?”Luna mundur dengan ketakutan, lalu buru-buru menjelaskan dengan wajah pucat.“Aku cuma nyambung kalau ngobrol sama Om. Kami cuma bercanda, nggak ada maksud lain.”Ayah tiri Sonya juga buru-buru mengangguk.“Benar, Alvin. Aku benar-benar sudah berubah. Aku datang juga untuk memberi selamat kepada putriku.”Namun, percakapan dan transaksi yang baru saja mereka lakukan masih terbayang jelas di benak Alvin.Dia menatap wanita di hadapannya dengan mata terbelalak, seolah tak percaya.Gadis yang sejak kecil paling dia sayangi .…Ternyata menyimpan niat seburuk itu.“Luna, kamu sendiri yang bilang dia sudah berubah dan nggak akan berbuat jahat lagi. Kar

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 5

    “Apa katamu!”Urat di dahi Alvin seketika menonjol. Tanpa sadar, kedua tangannya mengepal erat.Setelah mengatur napasnya kembali, penanggung jawab acara itu berkata dengan wajah penuh rasa bersalah.“Belakangan ini memang banyak sekali orang yang menikah, jadi aku sampai lupa. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana mungkin Pak Alvin sebagai pengantin pria nggak tahu?”Alvin terpaku di tempat.Para pendamping pengantin pria yang berdiri di sampingnya sempat terdiam canggung. Namun, tak lama kemudian, mereka satu per satu berusaha mencairkan suasana.“Mungkin Kak Sonya cuma bercanda dengan kita? Bukankah dari dulu dia sudah heboh ingin menikah?”“Iya. Dulu Sonya sampai menganggapmu sebagai penyelamatnya. Dia selalu lengket sama kamu. Nggak mungkin ada masalah, ‘kan?”“Jangan-jangan dia ketiduran sekarang? Atau mungkin dia berubah pikiran ingin mengadakan pernikahan dengan konsep adat tradisional? Bisa jadi dia sedang menunggu di rumah untuk dijemput.”….Barulah Alvin tersadar.“Ya. Dengan sif

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 4

    Ruang utama dipenuhi kerabat dan teman-teman yang mengangkat gelas sambil bercengkerama dengan akrab.Begitu melihatku turun dengan piyama kusut, Alvin langsung mengernyit tak senang.“Kamu lupa hari ini ada gladi resik pernikahan? Orang tuaku sudah datang dari tadi. Kamu malah turun dengan pakaian seperti itu?”Tatapan orang-orang di sekelilingku dipenuhi penghinaan dan ejekan.Seolah-olah mereka semua sedang berpikir .…Bagaimana mungkin Alvin mau menikahi perempuan sepertiku?Alvin tampak malu. Dia melambaikan tangan dengan tak sabar.“Kembali ke atas dan ganti pakaian yang pantas. Jangan sampai orang mengira Keluarga Armando memperlakukanmu dengan buruk.”Sementara itu, Luna mengenakan gaun yang modelnya hampir seperti gaun pengantin, seolah-olah dialah calon pengantin yang sebenarnya.Aku mengabaikan sikap Alvin yang seenaknya memerintahku.Justru, aku berniat memanfaatkan kesempatan ketika semua orang berkumpul untuk mengumumkan secara resmi bahwa pernikahan ini kubatalkan.Namun

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 3

    Setelah kembali ke rumah lamaku, aku mulai berkemas untuk pergi.Tak disangka, Alvin pulang dan melihatnya. Dia malah salah paham, mengira aku sedang menyiapkan barang-barang untuk bulan madu kami.“Bulan madunya ‘kan masih lama. Kok sudah buru-buru?”“Lagi pula, kita ‘kan mau ke Antartic. Buat apa bawa baju tipis? Nggak takut kedinginan?”Aku tertegun.Sudah sejak lama kami sepakat untuk pergi ke Hokka setelah menikah. Bagaimanapun, di sanalah kami pertama kali bertemu.Saat itu, dia mencium keningku dan berkata , “Tak peduli berapa kali aku kembali ke tempat yang sama, setidaknya orang yang ada di sisiku tak akan pernah berubah.”Karena itu, tiga hari lalu aku sudah memintanya membeli tiket pesawat.Tanpa sadar, aku langsung bertanya.“Bukannya kita mau ke Hokka?”Alvin buru-buru mengeluarkan dua lembar tiket pesawat.Benar saja.Tujuannya adalah Antartic.Namun, detik berikutnya, selembar tiket lain jatuh dari sakunya.Tanggal dan tujuannya sama persis.Alvin tertegun sejenak, lalu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status