Share

Bab 4

Author: Mohini
Ruang utama dipenuhi kerabat dan teman-teman yang mengangkat gelas sambil bercengkerama dengan akrab.

Begitu melihatku turun dengan piyama kusut, Alvin langsung mengernyit tak senang.

“Kamu lupa hari ini ada gladi resik pernikahan? Orang tuaku sudah datang dari tadi. Kamu malah turun dengan pakaian seperti itu?”

Tatapan orang-orang di sekelilingku dipenuhi penghinaan dan ejekan.

Seolah-olah mereka semua sedang berpikir .…

Bagaimana mungkin Alvin mau menikahi perempuan sepertiku?

Alvin tampak malu. Dia melambaikan tangan dengan tak sabar.

“Kembali ke atas dan ganti pakaian yang pantas. Jangan sampai orang mengira Keluarga Armando memperlakukanmu dengan buruk.”

Sementara itu, Luna mengenakan gaun yang modelnya hampir seperti gaun pengantin, seolah-olah dialah calon pengantin yang sebenarnya.

Aku mengabaikan sikap Alvin yang seenaknya memerintahku.

Justru, aku berniat memanfaatkan kesempatan ketika semua orang berkumpul untuk mengumumkan secara resmi bahwa pernikahan ini kubatalkan.

Namun, sebelum sempat mengatakan apa pun, Luna tiba-tiba berjalan menghampiriku dengan langkah ringan.

Dia menarikku ke hadapan seseorang.

“Di hari bahagia seperti ini, aku sengaja mengundang Om kemari untuk ikut meramaikan.”

“Kakak ipar nggak marah kalau aku ikut campur, ‘kan?”

Begitu mengangkat kepala, jantungku seolah berhenti berdetak.

Orang yang berdiri di hadapanku adalah ayah tiriku.

Pria yang pernah memukuli ibuku sampai mati tepat di depan mataku.

Suara pria itu terdengar seperti suara iblis yang kembali menggema di telingaku.

“Putri kesayanganku, menikah adalah kabar bahagia, kenapa kamu nggak mengundang Ayah? Ayah juga mau mengucapkan selamat padamu.”

Dalam sekejap, rasa takut dan kebencian menyapu seluruh tubuhku seperti aliran listrik.

Luna tiba-tiba mendekat dan berbisik kepadaku dengan penuh semangat.

“Dengar-dengar, orang ini yang memukuli ibumu sampai mati. Bahkan sampai sekarang jasadnya belum ditemukan.”

“Ckckck … dalam kondisi seperti ini, kamu masih sempat menikah di sini.”

“Dan di saat kamu sedang sebahagia ini, mana mungkin pihak dari keluargamu nggak hadir? Benar, ‘kan?”

Melihat iblis yang setiap malam muncul dalam mimpi burukku, kedua mataku seketika memerah.

“Bagaimana kamu tahu semua itu?”

Suaraku bergetar.

Ekspresiku bahkan tampak begitu mengerikan hingga seperti orang gila.

Tatapan Luna beralih kepada Alvin yang sama sekali tak menyadari apa pun.

“Suatu kali, dia membuatku menangis. Lalu, dia menceritakan kisah ini untuk menghiburku.”

“Aduh, Kakak ipar, jangan menatapku seperti itu ....”

Plak!

Tanganku langsung melayang dan menampar wajahnya.

Namun, detik berikutnya, Alvin mendorongku sekuat tenaga tanpa sedikit pun menahan diri.

“Sonya, kamu benar-benar nggak tahu terima kasih!”

“Luna mengundang keluargamu kemari untuk menghadiri gladi resik pernikahan. Semua itu dia lakukan demi kebaikanmu, tapi kamu malah berani memukulnya?”

“Cepat minta maaf!”

Luna segera bersembunyi dalam pelukan Alvin.

Dia menatapku dengan penuh kemenangan dan provokasi.

Aku tiba-tiba tertawa.

Tawa yang tak terkendali, terdengar seperti tawa orang gila.

Aku telah membuka semua luka mengerikan yang selama ini kusembunyikan darinya.

Namun, pria itu malah menjadikan luka-luka itu bahan lelucon untuk menghibur seorang gadis lain.

Di tengah tatapan Alvin yang penuh keheranan, aku mengucapkan setiap kata dengan jelas.

“Jangan … harap.”

“Alvin, hubungan kita cukup sampai di sini.”

Wajah Alvin seketika menggelap.

Ketidakpercayaan melintas jelas di matanya.

Aku tak lagi memedulikannya.

Aku langsung naik ke atas, mengambil koper, lalu meninggalkan vila melalui pintu belakang.

Bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal pun rasanya terlalu melelahkan.

….

Satu jam sebelum pernikahan dimulai.

Alvin dengan kesal mengetuk pintu ruang rias di belakang panggung.

“Sonya, sudah cukup. Ini bukan seperti di rumah. Hari ini nggak ada yang akan menunggumu berdandan selama tiga jam.”

Detik berikutnya, pintu ruangan dibuka dengan kasar.

Namun, yang keluar justru seorang pengantin wanita yang sama sekali tak dikenalnya.

“Kenapa ketuk-ketuk? Kamu salah orang!”

Alvin masih terpaku.

Tepat saat itu, penanggung jawab tempat acara datang tergopoh-gopoh.

“Pak Alvin, aku lupa memberi tahu Bapak.”

“Kemarin Bu Sonya sudah membatalkan tempat pernikahannya!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 8

    Setelah sempat terpaku selama beberapa detik, dia akhirnya berjalan ke arahku selangkah demi selangkah.“Sonya ....”Aku mundur dengan waspada, lalu menatapnya datar.“Buat apa kamu datang ke sini? Bukannya keluargamu bilang kamu sedang sakit?”Alvin tertegun, seolah perkataanku barusan telah menyengatnya.“Kamu tahu aku sakit, lalu kenapa nggak pulang menjengukku?”“Jangan-jangan, di dalam hatimu, aku ini sebenarnya nggak penting?”Tentu saja dia tak bisa memercayainya.Bagaimanapun, kalau itu aku yang dulu, aku pasti sudah membeli obat untuknya, menyuapkannya, lalu berjaga di sisi ranjangnya sepanjang malam.Namun sekarang, keselamatannya sudah tak ada hubungannya lagi denganku.Dengan susah payah, kutarik sudut bibirku.“Kita sudah putus. Jadi, aku nggak punya kewajiban untuk merawatmu lagi.”Detik berikutnya, Alvin mencengkeram bahuku. Matanya dipenuhi ketidakrelaan.“Kenapa? Kenapa kamu bisa memutuskan hubungan ini sepihak?”“Aku nggak pernah setuju kalau kita putus. Dan sampai ka

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 7

    Beberapa jam menjelang pernikahan, ponselku terus-menerus berdering.Namun, satu per satu panggilan itu kuabaikan. Setekah itu, semua nomor tersebut langsung kublokir.Alvin juga tak henti-hentinya mengirimiku pesan.Dia bertanya … Aku di mana? Kenapa sampai sekarang aku belum juga datang?Namun, dia tak tahu bahwa aku sudah membatalkan seluruh reservasi tempat pernikahan.Pernikahan yang sejak awal tak pernah dihargai, pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah lelucon.Lebih baik kami berpisah dengan baik-baik, tanpa saling berutang apa pun.Setelah mulai bekerja di perusahaan baru, seluruh energiku kucurahkan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.Beberapa hari kemudian, sahabat dekat Alvin meneleponku menggunakan nomor yang berbeda-beda.Tanpa sengaja, kali ini aku mengangkatnya.“Kak Sonya, Kak Alvin sudah hampir gila mencarimu. Cepatlah pulang.”“Sekarang dia demam tinggi dan nggak kunjung turun. Tante Sarah sampai cemas dan jatuh sakit hingga harus dirawat di rumah sakit. K

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 6

    “Ka, kak Alvin?”Luna langsung berdiri. Wajahnya seketika pucat seperti kertas.Dia berusaha mengalihkan pembicaraan.“Kenapa tiba-tiba datang, Kak? Apa Sonya sudah pulang?”Alvin tak menjawab.Wajahnya dingin saat perlahan melangkah menghampiri Luna.“Apa yang baru saja kamu katakan?”“Kamu yang membayar orang ini untuk menakut-nakuti Sonya?”Luna mundur dengan ketakutan, lalu buru-buru menjelaskan dengan wajah pucat.“Aku cuma nyambung kalau ngobrol sama Om. Kami cuma bercanda, nggak ada maksud lain.”Ayah tiri Sonya juga buru-buru mengangguk.“Benar, Alvin. Aku benar-benar sudah berubah. Aku datang juga untuk memberi selamat kepada putriku.”Namun, percakapan dan transaksi yang baru saja mereka lakukan masih terbayang jelas di benak Alvin.Dia menatap wanita di hadapannya dengan mata terbelalak, seolah tak percaya.Gadis yang sejak kecil paling dia sayangi .…Ternyata menyimpan niat seburuk itu.“Luna, kamu sendiri yang bilang dia sudah berubah dan nggak akan berbuat jahat lagi. Kar

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 5

    “Apa katamu!”Urat di dahi Alvin seketika menonjol. Tanpa sadar, kedua tangannya mengepal erat.Setelah mengatur napasnya kembali, penanggung jawab acara itu berkata dengan wajah penuh rasa bersalah.“Belakangan ini memang banyak sekali orang yang menikah, jadi aku sampai lupa. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana mungkin Pak Alvin sebagai pengantin pria nggak tahu?”Alvin terpaku di tempat.Para pendamping pengantin pria yang berdiri di sampingnya sempat terdiam canggung. Namun, tak lama kemudian, mereka satu per satu berusaha mencairkan suasana.“Mungkin Kak Sonya cuma bercanda dengan kita? Bukankah dari dulu dia sudah heboh ingin menikah?”“Iya. Dulu Sonya sampai menganggapmu sebagai penyelamatnya. Dia selalu lengket sama kamu. Nggak mungkin ada masalah, ‘kan?”“Jangan-jangan dia ketiduran sekarang? Atau mungkin dia berubah pikiran ingin mengadakan pernikahan dengan konsep adat tradisional? Bisa jadi dia sedang menunggu di rumah untuk dijemput.”….Barulah Alvin tersadar.“Ya. Dengan sif

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 4

    Ruang utama dipenuhi kerabat dan teman-teman yang mengangkat gelas sambil bercengkerama dengan akrab.Begitu melihatku turun dengan piyama kusut, Alvin langsung mengernyit tak senang.“Kamu lupa hari ini ada gladi resik pernikahan? Orang tuaku sudah datang dari tadi. Kamu malah turun dengan pakaian seperti itu?”Tatapan orang-orang di sekelilingku dipenuhi penghinaan dan ejekan.Seolah-olah mereka semua sedang berpikir .…Bagaimana mungkin Alvin mau menikahi perempuan sepertiku?Alvin tampak malu. Dia melambaikan tangan dengan tak sabar.“Kembali ke atas dan ganti pakaian yang pantas. Jangan sampai orang mengira Keluarga Armando memperlakukanmu dengan buruk.”Sementara itu, Luna mengenakan gaun yang modelnya hampir seperti gaun pengantin, seolah-olah dialah calon pengantin yang sebenarnya.Aku mengabaikan sikap Alvin yang seenaknya memerintahku.Justru, aku berniat memanfaatkan kesempatan ketika semua orang berkumpul untuk mengumumkan secara resmi bahwa pernikahan ini kubatalkan.Namun

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 3

    Setelah kembali ke rumah lamaku, aku mulai berkemas untuk pergi.Tak disangka, Alvin pulang dan melihatnya. Dia malah salah paham, mengira aku sedang menyiapkan barang-barang untuk bulan madu kami.“Bulan madunya ‘kan masih lama. Kok sudah buru-buru?”“Lagi pula, kita ‘kan mau ke Antartic. Buat apa bawa baju tipis? Nggak takut kedinginan?”Aku tertegun.Sudah sejak lama kami sepakat untuk pergi ke Hokka setelah menikah. Bagaimanapun, di sanalah kami pertama kali bertemu.Saat itu, dia mencium keningku dan berkata , “Tak peduli berapa kali aku kembali ke tempat yang sama, setidaknya orang yang ada di sisiku tak akan pernah berubah.”Karena itu, tiga hari lalu aku sudah memintanya membeli tiket pesawat.Tanpa sadar, aku langsung bertanya.“Bukannya kita mau ke Hokka?”Alvin buru-buru mengeluarkan dua lembar tiket pesawat.Benar saja.Tujuannya adalah Antartic.Namun, detik berikutnya, selembar tiket lain jatuh dari sakunya.Tanggal dan tujuannya sama persis.Alvin tertegun sejenak, lalu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status