Short
Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang

Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang

By:  MohiniKumpleto
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Mga Kabanata
2views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Pacarku memiliki gangguan pendengaran. Sering kali, dia tak bisa mendengar dengan jelas apa yang kukatakan. Aku bilang ingin membeli satu set produk perawatan kulit. Namun, dia malah pulang membawa dua set. “Aku salah dengar lagi. Yang satu ini kasih saja ke Luna.” Aku bilang ingin membeli kue manis rasa Osmanthus. Dia malah membelikanku rasa melati. “Aku salah dengar. Luna suka rasa ini. Kalau begitu, kasih dia saja.” Sampai akhirnya, setelah menghabiskan begitu banyak waktu dan tenaga untuk merancang rumah yang akan kami tinggali setelah menikah, aku memintanya membeli sebuah rumah di kota bagian selatan. Namun, pada hari rumah itu akan diperiksa, dia justru mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kota di bagian utara. Menyadari aku terus diam sepanjang perjalanan, dia kembali meminta maaf. “Aku benar-benar nggak mendengarnya dengan jelas. Aku kira kamu suka pemandangan kota bagian utara. Jadi, tanpa banyak pikir, aku langsung membelinya.” Namun aku tahu. Perusahaan tempat Luna bekerja berada tak jauh dari kota itu. Luna adalah teman masa kecil yang tumbuh bersamanya. Jadi, dia bukan tak mendengarku. Dia hanya tak pernah benar-benar mau mendengarkanku. Saat itu, aku tiba-tiba merasa seluruh tenagaku luruh. Aku membuka suara dengan sangat tenang. “Alvin, kita putus.”

view more

Kabanata 1

Bab 1

Dia mengangkat kepala dengan bingung, lalu tanpa sadar menyentuh alat bantu dengar di telinganya.

“Kamu tadi bilang apa? Aku nggak dengar jelas.”

Setiap kali aku berbicara, dia tak pernah benar-benar memperhatikannya. Dia tahu aku akan dengan sabar mengulanginya sekali lagi.

Namun, kali ini aku tak ingin mengulanginya berkali-kali.

“Bukan apa-apa.”

Aku berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang.

“Batalkan saja rumah ini. Aku sudah bilang, kita beli rumah di bagian selatan. Pokoknya di selatan.”

Seketika, wajahnya berubah muram.

“Rumah itu bukan baju yang bisa diganti begitu saja. Desainnya kamu yang buat, sementara renovasinya aku awasi siang malam. Sekarang kamu bilang nggak mau, lalu semuanya harus ditinggalkan begitu saja?”

“Sudahlah. Jangan bertingkah lagi.”

Suasana di antara kami masih tegang.

Saat itulah terdengar bunyi klik.

Pintu tiba-tiba terbuka.

Luna masuk setelah memindai sidik jarinya, santai seperti sedang memasuki rumahnya sendiri.

Kami bertiga pun saling berpandangan.

Begitu menyadari kami sedang bertengkar, wanita itu langsung menggigit bibir erat-erat. Wajahnya memerah.

“Kakak ipar, tolong maklumi Kak Alvin. Dia punya gangguan pendengaran. Dia juga nggak sengaja salah dengar.”

“Gimana kalau aku masak sesuatu untuk membuat kalian senang?”

Setelah mengatakan itu, Luna langsung bergerak ke dapur.

Dia dengan cekatan mencuci sayuran, menyiapkan bahan makanan, lalu memasaknya.

Gerakannya begitu terampil, seolah-olah sedang berada di rumahnya sendiri.

Alvin menatap Luna yang sibuk di dapur dengan sorot mata penuh kasih sayang.

Seperti biasa, dia ikut membantu.

Keduanya terlihat begitu kompak dan hangat.

Namun, sepertinya mereka semua lupa.

Rumah ini jelas-jelas adalah rumah pernikahan kami.

Saat aku hendak pergi, Alvin berlari kecil menghampiriku dan menarik tanganku.

“Dia sudah berniat baik memasak untuk merayakan kepindahanmu. Tapi kamu malah pasang wajah nggak senang seperti ini? Kamu benar-benar nggak tahu diri, ya.”

Perayaan pindah rumah untukku?

Sebenarnya, sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, aku sudah menyadari bahwa tata letaknya sama sekali berbeda dari rancangan yang kubuat.

Kamar yang awalnya kuperuntukkan bagi kerabat dan teman yang datang berkunjung justru memiliki luas dua kali lipat dari kamar utama.

Bahkan demi memaksakan perluasan area tersebut, ruang pakaian yang kurancang dengan begitu teliti malah dipersempit hingga hanya seukuran gudang.

Bahkan ubin dindingnya pun menggunakan jenis ubin poles yang sejak awal sudah kutolak mentah-mentah.

Jelas sekali.

Semuanya telah diubah mengikuti selera Luna.

“Kalian makan saja.”

Suaraku terdengar datar.

Setelah mengatakannya, aku hendak membuka pintu dan pergi.

Namun, Luna lebih dulu menghalangiku.

Wajahnya tampak sedih dan penuh rasa bersalah.

“Aku nggak tahu kenapa Kakak ipar sampai marah .…”

“Tapi kalau mau marah, marahi aku saja. Kak Alvin punya gangguan pendengaran. Kalau suaramu terlalu keras, dia nggak akan tahan. Tolong maklumi dia.”

Kuku jariku menancap dalam ke telapak tangan.

Rasa sakit yang tajam seketika menjalar.

Aku sudah terlalu sering melihat Luna melampiaskan amarahnya kepada Alvin.

Bahkan, pernah suatu kali dia menampar Alvin hingga alat bantu dengar yang paling berharga bagi pria itu terlepas.

Namun, saat itu Alvin hanya buru-buru memungut alat bantu dengarnya.

Lalu, dia memohon kepada Luna untuk mengulangi semua yang baru saja dikatakannya.

Dia takut melewatkan sesuatu yang penting.

Namun, setiap kali kami bertengkar, Alvin justru selalu melepas alat bantu dengarnya begitu saja.

Membiarkanku berteriak histeris seperti orang gila.

Namun mulai sekarang .…

Aku tak akan pernah membuat keributan lagi.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
8 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status