Mag-log inPacarku memiliki gangguan pendengaran. Sering kali, dia tak bisa mendengar dengan jelas apa yang kukatakan. Aku bilang ingin membeli satu set produk perawatan kulit. Namun, dia malah pulang membawa dua set. “Aku salah dengar lagi. Yang satu ini kasih saja ke Luna.” Aku bilang ingin membeli kue manis rasa Osmanthus. Dia malah membelikanku rasa melati. “Aku salah dengar. Luna suka rasa ini. Kalau begitu, kasih dia saja.” Sampai akhirnya, setelah menghabiskan begitu banyak waktu dan tenaga untuk merancang rumah yang akan kami tinggali setelah menikah, aku memintanya membeli sebuah rumah di kota bagian selatan. Namun, pada hari rumah itu akan diperiksa, dia justru mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kota di bagian utara. Menyadari aku terus diam sepanjang perjalanan, dia kembali meminta maaf. “Aku benar-benar nggak mendengarnya dengan jelas. Aku kira kamu suka pemandangan kota bagian utara. Jadi, tanpa banyak pikir, aku langsung membelinya.” Namun aku tahu. Perusahaan tempat Luna bekerja berada tak jauh dari kota itu. Luna adalah teman masa kecil yang tumbuh bersamanya. Jadi, dia bukan tak mendengarku. Dia hanya tak pernah benar-benar mau mendengarkanku. Saat itu, aku tiba-tiba merasa seluruh tenagaku luruh. Aku membuka suara dengan sangat tenang. “Alvin, kita putus.”
view moreSetelah sempat terpaku selama beberapa detik, dia akhirnya berjalan ke arahku selangkah demi selangkah.“Sonya ....”Aku mundur dengan waspada, lalu menatapnya datar.“Buat apa kamu datang ke sini? Bukannya keluargamu bilang kamu sedang sakit?”Alvin tertegun, seolah perkataanku barusan telah menyengatnya.“Kamu tahu aku sakit, lalu kenapa nggak pulang menjengukku?”“Jangan-jangan, di dalam hatimu, aku ini sebenarnya nggak penting?”Tentu saja dia tak bisa memercayainya.Bagaimanapun, kalau itu aku yang dulu, aku pasti sudah membeli obat untuknya, menyuapkannya, lalu berjaga di sisi ranjangnya sepanjang malam.Namun sekarang, keselamatannya sudah tak ada hubungannya lagi denganku.Dengan susah payah, kutarik sudut bibirku.“Kita sudah putus. Jadi, aku nggak punya kewajiban untuk merawatmu lagi.”Detik berikutnya, Alvin mencengkeram bahuku. Matanya dipenuhi ketidakrelaan.“Kenapa? Kenapa kamu bisa memutuskan hubungan ini sepihak?”“Aku nggak pernah setuju kalau kita putus. Dan sampai ka
Beberapa jam menjelang pernikahan, ponselku terus-menerus berdering.Namun, satu per satu panggilan itu kuabaikan. Setekah itu, semua nomor tersebut langsung kublokir.Alvin juga tak henti-hentinya mengirimiku pesan.Dia bertanya … Aku di mana? Kenapa sampai sekarang aku belum juga datang?Namun, dia tak tahu bahwa aku sudah membatalkan seluruh reservasi tempat pernikahan.Pernikahan yang sejak awal tak pernah dihargai, pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah lelucon.Lebih baik kami berpisah dengan baik-baik, tanpa saling berutang apa pun.Setelah mulai bekerja di perusahaan baru, seluruh energiku kucurahkan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.Beberapa hari kemudian, sahabat dekat Alvin meneleponku menggunakan nomor yang berbeda-beda.Tanpa sengaja, kali ini aku mengangkatnya.“Kak Sonya, Kak Alvin sudah hampir gila mencarimu. Cepatlah pulang.”“Sekarang dia demam tinggi dan nggak kunjung turun. Tante Sarah sampai cemas dan jatuh sakit hingga harus dirawat di rumah sakit. K
“Ka, kak Alvin?”Luna langsung berdiri. Wajahnya seketika pucat seperti kertas.Dia berusaha mengalihkan pembicaraan.“Kenapa tiba-tiba datang, Kak? Apa Sonya sudah pulang?”Alvin tak menjawab.Wajahnya dingin saat perlahan melangkah menghampiri Luna.“Apa yang baru saja kamu katakan?”“Kamu yang membayar orang ini untuk menakut-nakuti Sonya?”Luna mundur dengan ketakutan, lalu buru-buru menjelaskan dengan wajah pucat.“Aku cuma nyambung kalau ngobrol sama Om. Kami cuma bercanda, nggak ada maksud lain.”Ayah tiri Sonya juga buru-buru mengangguk.“Benar, Alvin. Aku benar-benar sudah berubah. Aku datang juga untuk memberi selamat kepada putriku.”Namun, percakapan dan transaksi yang baru saja mereka lakukan masih terbayang jelas di benak Alvin.Dia menatap wanita di hadapannya dengan mata terbelalak, seolah tak percaya.Gadis yang sejak kecil paling dia sayangi .…Ternyata menyimpan niat seburuk itu.“Luna, kamu sendiri yang bilang dia sudah berubah dan nggak akan berbuat jahat lagi. Kar
“Apa katamu!”Urat di dahi Alvin seketika menonjol. Tanpa sadar, kedua tangannya mengepal erat.Setelah mengatur napasnya kembali, penanggung jawab acara itu berkata dengan wajah penuh rasa bersalah.“Belakangan ini memang banyak sekali orang yang menikah, jadi aku sampai lupa. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana mungkin Pak Alvin sebagai pengantin pria nggak tahu?”Alvin terpaku di tempat.Para pendamping pengantin pria yang berdiri di sampingnya sempat terdiam canggung. Namun, tak lama kemudian, mereka satu per satu berusaha mencairkan suasana.“Mungkin Kak Sonya cuma bercanda dengan kita? Bukankah dari dulu dia sudah heboh ingin menikah?”“Iya. Dulu Sonya sampai menganggapmu sebagai penyelamatnya. Dia selalu lengket sama kamu. Nggak mungkin ada masalah, ‘kan?”“Jangan-jangan dia ketiduran sekarang? Atau mungkin dia berubah pikiran ingin mengadakan pernikahan dengan konsep adat tradisional? Bisa jadi dia sedang menunggu di rumah untuk dijemput.”….Barulah Alvin tersadar.“Ya. Dengan sif






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.