Share

Bab 2

Author: Mohini
“Kalau dia nggak mau makan, biarkan saja. Suruh dia pergi.”

Nada bicara Alvin mulai dipenuhi ketidaksabaran.

Dia menatap ke luar jendela, memandangi kilatan petir dan gemuruh guntur. Lalu, dia mencibir pelan.

Namun, cibiran itu terasa seperti pisau yang menancap tepat di hatiku.

“Asal jangan lagi menangis sambil berteriak-teriak karena takut petir.”

Dulu, saat menjadi korban kekerasan ayah tiriku, aku sering didorong ke tengah hujan deras hingga tak sadarkan diri.

Sejak saat itu, suara petir menjadi sesuatu yang sangat kutakuti.

Alvin tahu hal itu.

Karena itu, selama ini, dia tak pernah absen menemaniku melewati malam-malam penuh hujan dan petir.

Namun, sekarang .…

Meski tahu persis di mana letak kelemahanku, dia justru dengan kesal mendorongku ke arah pintu.

“Aaa!”

Jeritan Luna seketika menyadarkanku.

Alvin langsung menariknya kembali ke sisinya dan menenangkannya dengan suara lembut.

“Jangan takut, aku di sini. Sisanya biar aku yang masak. Kamu tetap di sini saja.”

Pemandangan di depan mataku perlahan bertumpuk dengan kenangan kami di masa lalu.

Aku berbalik, membuka pintu, lalu tanpa ragu menerobos hujan.

Aku segera menghentikan sebuah taksi dan pergi.

Malam itu juga, demamku melonjak tinggi hingga hampir mencapai empat puluh derajat.

Dalam kondisi seperti itu, aku melihat story Whatsapp Luna.

Di sana sudah terpampang foto sebuah meja yang dipenuhi berbagai hidangan.

[Di rumah baru ini, aku punya kamar tidur khusus untukku, bahkan lebih besar dari kamar utama, lho! Sampai-sampai hidangan pesta pindahan yang dibuat seseorang pun terasa makin enak!]

Padahal aku masih ingat betul .…

Alvin pernah bersumpah tak akan pernah masuk ke dapur.

Dia bahkan tak tahan dengan bau asap dan minyak.

Namun, Luna tetap berhasil membuatnya melanggar batas yang selama ini dia tetapkan.

Aku tersadar dari lamunan.

Lalu, aku membuka daftar kontak dan mencari sebuah nomor yang selama ini kusimpan paling bawah.

[Kamu pernah bilang akan selalu menyisakan satu tempat untukku. Sekarang… apa itu masih berlaku?]

Setelah mendapat jawaban yang begitu bersemangat dan meyakinkan, aku meminum obat penurun panas.

Tak lama kemudian, aku tertidur dalam keadaan mengantuk.

Keesokan harinya, aku terbangun karena suara telepon.

“Sonya, kamu ini nggak ada sopan santunnya, ya? Bukannya kita sudah sepakat datang ke acara jamuan keluarga? Kenapa malah membuat kami menunggumu?”

Kepalaku terasa seperti akan pecah karena demam.

“Aku demam .…”

“Jangan lagi membuat alasan seperti itu. Cepat datang. Jangan buat semua orang menunggumu.”

Dengan tubuh yang masih lemas, aku akhirnya pergi ke kediaman lama Keluarga Armando.

Tak disangka, Luna ternyata juga ada di sana.

Dia duduk tepat di samping Alvin.

Raut wajah orang-orang di ruangan tampak berbeda-beda.

Terutama Sarah, ibu Alvin, yang memandangku dengan tatapan dingin.

Meski sudah berkali-kali kujelaskan bahwa aku ingin menikah dengan Alvin bukan karena uang, dia tetap saja menganggapku perempuan matre.

“Bangun saja baru siang begini, masih bilang tujuanmu menikah bukan karena ingin hidup enak? Memangnya siapa yang mau percaya?”

Tak ada yang melihat dahiku yang dipenuhi keringat.

Tak ada yang melihat kedua kakiku yang sudah terasa lemas.

Sementara Alvin .…

Dia juga tak lagi maju untuk membelaku seperti dulu.

Berbagai tuduhan yang dilontarkan silih berganti membuatku hampir tak bisa bernapas.

Aku meletakkan sumpit.

“Tante, aku nggak jadi menikah.”

Ekspresi Sarah seketika membeku.

Alvin buru-buru menenangkannya.

“Ma, dia cuma bercanda. Pernikahan lusa juga sudah dipersiapkan.”

Selesai mengatakan itu, dia menarikku ke sudut ruangan.

“Bersikap seenaknya juga ada batasnya. Kamu tahu ‘kan mama ingin segera punya cucu? Apa pantas kamu mengatakan hal seperti itu sama orang yang lebih tua?”

Aku yang disindir.

Aku juga yang disalahkan.

Dia terus mengomel dan menyalahkanku tanpa sedikit pun menyadari kondisiku yang sedang sakit.

Saat aku hendak meluapkan amarah, Luna tiba-tiba menatapku dengan tatapan memelas.

“Kak, jimat pelindung di tanganmu cantik sekali. Boleh aku minta?”

Tanpa sadar, jemariku mengepal semakin erat.

Tenggorokanku terasa seperti tersangkut duri.

Jimat pelindung ini didapatkan Alvin setelah dia berdoa dengan sungguh-sungguh di kuil untuk mendoakanku.

Saat itu, ayah tiriku memukuli ibuku hingga tewas.

Alvin sendiri yang mengikatkan jimat itu di pergelangan tanganku, sambil berkata bahwa benda itu akan melindungiku dan menjagaku tetap aman seumur hidup.

Aku menatapnya dengan perasaan tak rela.

“Menurutmu bagaimana?”

Alvin tak menjawab.

Namun, kesedihan yang terpancar dari matanya sudah cukup memberiku jawaban.

Kini, ada orang lain yang ingin dia lindungi.

“Oke.”

Ketegasanku membuat Alvin menatapku dengan tercengang.

Namun, aku sudah lebih dulu melepas jimat itu.

Tanpa ragu, kuselipkan benda itu ke tangan Luna.

Hubungan tujuh tahun saja sudah bisa kutinggalkan.

Lalu, apa artinya jimat?

Setelah meninggalkan kediaman Keluarga Armando, aku menerima undangan resmi untuk mulai bekerja.

Aku pun segera memesan tiket pesawat untuk pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 8

    Setelah sempat terpaku selama beberapa detik, dia akhirnya berjalan ke arahku selangkah demi selangkah.“Sonya ....”Aku mundur dengan waspada, lalu menatapnya datar.“Buat apa kamu datang ke sini? Bukannya keluargamu bilang kamu sedang sakit?”Alvin tertegun, seolah perkataanku barusan telah menyengatnya.“Kamu tahu aku sakit, lalu kenapa nggak pulang menjengukku?”“Jangan-jangan, di dalam hatimu, aku ini sebenarnya nggak penting?”Tentu saja dia tak bisa memercayainya.Bagaimanapun, kalau itu aku yang dulu, aku pasti sudah membeli obat untuknya, menyuapkannya, lalu berjaga di sisi ranjangnya sepanjang malam.Namun sekarang, keselamatannya sudah tak ada hubungannya lagi denganku.Dengan susah payah, kutarik sudut bibirku.“Kita sudah putus. Jadi, aku nggak punya kewajiban untuk merawatmu lagi.”Detik berikutnya, Alvin mencengkeram bahuku. Matanya dipenuhi ketidakrelaan.“Kenapa? Kenapa kamu bisa memutuskan hubungan ini sepihak?”“Aku nggak pernah setuju kalau kita putus. Dan sampai ka

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 7

    Beberapa jam menjelang pernikahan, ponselku terus-menerus berdering.Namun, satu per satu panggilan itu kuabaikan. Setekah itu, semua nomor tersebut langsung kublokir.Alvin juga tak henti-hentinya mengirimiku pesan.Dia bertanya … Aku di mana? Kenapa sampai sekarang aku belum juga datang?Namun, dia tak tahu bahwa aku sudah membatalkan seluruh reservasi tempat pernikahan.Pernikahan yang sejak awal tak pernah dihargai, pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah lelucon.Lebih baik kami berpisah dengan baik-baik, tanpa saling berutang apa pun.Setelah mulai bekerja di perusahaan baru, seluruh energiku kucurahkan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.Beberapa hari kemudian, sahabat dekat Alvin meneleponku menggunakan nomor yang berbeda-beda.Tanpa sengaja, kali ini aku mengangkatnya.“Kak Sonya, Kak Alvin sudah hampir gila mencarimu. Cepatlah pulang.”“Sekarang dia demam tinggi dan nggak kunjung turun. Tante Sarah sampai cemas dan jatuh sakit hingga harus dirawat di rumah sakit. K

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 6

    “Ka, kak Alvin?”Luna langsung berdiri. Wajahnya seketika pucat seperti kertas.Dia berusaha mengalihkan pembicaraan.“Kenapa tiba-tiba datang, Kak? Apa Sonya sudah pulang?”Alvin tak menjawab.Wajahnya dingin saat perlahan melangkah menghampiri Luna.“Apa yang baru saja kamu katakan?”“Kamu yang membayar orang ini untuk menakut-nakuti Sonya?”Luna mundur dengan ketakutan, lalu buru-buru menjelaskan dengan wajah pucat.“Aku cuma nyambung kalau ngobrol sama Om. Kami cuma bercanda, nggak ada maksud lain.”Ayah tiri Sonya juga buru-buru mengangguk.“Benar, Alvin. Aku benar-benar sudah berubah. Aku datang juga untuk memberi selamat kepada putriku.”Namun, percakapan dan transaksi yang baru saja mereka lakukan masih terbayang jelas di benak Alvin.Dia menatap wanita di hadapannya dengan mata terbelalak, seolah tak percaya.Gadis yang sejak kecil paling dia sayangi .…Ternyata menyimpan niat seburuk itu.“Luna, kamu sendiri yang bilang dia sudah berubah dan nggak akan berbuat jahat lagi. Kar

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 5

    “Apa katamu!”Urat di dahi Alvin seketika menonjol. Tanpa sadar, kedua tangannya mengepal erat.Setelah mengatur napasnya kembali, penanggung jawab acara itu berkata dengan wajah penuh rasa bersalah.“Belakangan ini memang banyak sekali orang yang menikah, jadi aku sampai lupa. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana mungkin Pak Alvin sebagai pengantin pria nggak tahu?”Alvin terpaku di tempat.Para pendamping pengantin pria yang berdiri di sampingnya sempat terdiam canggung. Namun, tak lama kemudian, mereka satu per satu berusaha mencairkan suasana.“Mungkin Kak Sonya cuma bercanda dengan kita? Bukankah dari dulu dia sudah heboh ingin menikah?”“Iya. Dulu Sonya sampai menganggapmu sebagai penyelamatnya. Dia selalu lengket sama kamu. Nggak mungkin ada masalah, ‘kan?”“Jangan-jangan dia ketiduran sekarang? Atau mungkin dia berubah pikiran ingin mengadakan pernikahan dengan konsep adat tradisional? Bisa jadi dia sedang menunggu di rumah untuk dijemput.”….Barulah Alvin tersadar.“Ya. Dengan sif

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 4

    Ruang utama dipenuhi kerabat dan teman-teman yang mengangkat gelas sambil bercengkerama dengan akrab.Begitu melihatku turun dengan piyama kusut, Alvin langsung mengernyit tak senang.“Kamu lupa hari ini ada gladi resik pernikahan? Orang tuaku sudah datang dari tadi. Kamu malah turun dengan pakaian seperti itu?”Tatapan orang-orang di sekelilingku dipenuhi penghinaan dan ejekan.Seolah-olah mereka semua sedang berpikir .…Bagaimana mungkin Alvin mau menikahi perempuan sepertiku?Alvin tampak malu. Dia melambaikan tangan dengan tak sabar.“Kembali ke atas dan ganti pakaian yang pantas. Jangan sampai orang mengira Keluarga Armando memperlakukanmu dengan buruk.”Sementara itu, Luna mengenakan gaun yang modelnya hampir seperti gaun pengantin, seolah-olah dialah calon pengantin yang sebenarnya.Aku mengabaikan sikap Alvin yang seenaknya memerintahku.Justru, aku berniat memanfaatkan kesempatan ketika semua orang berkumpul untuk mengumumkan secara resmi bahwa pernikahan ini kubatalkan.Namun

  • Demi Kebebasan, Tak Ada Lagi yang Berjuang   Bab 3

    Setelah kembali ke rumah lamaku, aku mulai berkemas untuk pergi.Tak disangka, Alvin pulang dan melihatnya. Dia malah salah paham, mengira aku sedang menyiapkan barang-barang untuk bulan madu kami.“Bulan madunya ‘kan masih lama. Kok sudah buru-buru?”“Lagi pula, kita ‘kan mau ke Antartic. Buat apa bawa baju tipis? Nggak takut kedinginan?”Aku tertegun.Sudah sejak lama kami sepakat untuk pergi ke Hokka setelah menikah. Bagaimanapun, di sanalah kami pertama kali bertemu.Saat itu, dia mencium keningku dan berkata , “Tak peduli berapa kali aku kembali ke tempat yang sama, setidaknya orang yang ada di sisiku tak akan pernah berubah.”Karena itu, tiga hari lalu aku sudah memintanya membeli tiket pesawat.Tanpa sadar, aku langsung bertanya.“Bukannya kita mau ke Hokka?”Alvin buru-buru mengeluarkan dua lembar tiket pesawat.Benar saja.Tujuannya adalah Antartic.Namun, detik berikutnya, selembar tiket lain jatuh dari sakunya.Tanggal dan tujuannya sama persis.Alvin tertegun sejenak, lalu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status