Setelah berjalan di pantai hingga matahari mulai condong ke barat, kami kembali ke villa. Nathaniel tidak banyak bicara, tapi tangannya selalu menemukan cara untuk menyentuhku, di pinggang saat menaiki tangga, di punggung saat aku menuangkan air minum, di leher saat aku tertawa mendengar lelucon kecilnya tentang staf yang terlalu formal.Makan malam disiapkan di teras yang sama. Lampu-lampu kecil digantung di antara tiang kayu, membuat suasana terasa intim. Kami makan perlahan, saling menyuapi sesekali, tertawa pelan. Tidak ada pembicaraan berat. Hanya tentang ombak, tentang bintang yang mulai muncul, tentang betapa anehnya merasa bebas setelah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang nama Voss.Ketika piring terakhir diangkat staf, Nathaniel berdiri dan mengulurkan tangan.“Naik,” katanya. Aku tahu apa artinya.Nathaniel melepas kemeja linennya pelan, lalu menarikku mendekat. Ciumannya kali ini berbeda, lebih dalam, lebih penuh rasa syukur. Seolah dia ingin mengucapkan terima ka
Last Updated : 2026-10-01 Read more