Hari itu cuaca mendung. Awan kelabu menggantung rendah di atas rumah besar, seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti ruang tamu.Aku duduk di sofa, jemariku gemetar memegang cangkir teh yang sudah lama dingin. Di seberangku, Derek duduk dengan wajah tegang, matanya tertuju pada pintu depan.Anita datang dengan bayinya. Wajahnya masih pucat setelah melahirkan, tubuhnya terlihat lemah, tapi matanya bersinar penuh harapan. Dia menggendong bayi mungilnya dengan hati-hati, seolah bayi itu adalah harta paling berharga di dunia.Seorang petugas medis dari laboratorium DNA duduk di samping kami, membawa amplop cokelat berisi hasil tes. Amplop itu terasa berat, seberat keputusan yang akan mengubah segalanya."Aku akan membukanya sekarang," kata petugas itu dengan suara profesional.Aku menahan napas. Derek menggenggam tanganku erat, entah untuk menenangkanku atau dirinya sendiri, aku tidak tahu.Petugas itu membuka amplop, mengeluarkan selembar kertas, dan membacanya dengan cermat."H
Huling Na-update : 2026-09-12 Magbasa pa