Aku merasa dadaku sesak. Kata-katanya, tatapannya, sentuhannya, semuanya terlalu berat dan terlalu membingungkan. Aku mencabut tanganku dari genggamannya dengan gerakan tiba-tiba, mundur beberapa langkah hingga punggungku membentur dinding."Jangan mendekat."Nathaniel berhenti, alisnya terangkat. "Kenapa?""Aku butuh waktu, aku butuh—" Aku menoleh ke pintu, melihat ke arah lorong yang kosong. "Aku mau pergi ke kamar mandi."Tanpa menunggu jawabannya, aku membuka pintu dan melangkah keluar, berjalan cepat menyusuri koridor menuju kamar kecil di ujung lantai. Begitu pintu tertutup di belakangku, aku membungkuk di atas wastafel, menatap bayanganku sendiri di cermin.Aku terlihat kacau. Wajah pucat, mata sembab, riasan luntur di sudut mata. Aku membuka keran, membasuh wajah dengan air dingin, mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu.Tapi pikiranku tidak bisa tenang. Nathaniel berdiri di ruanganku. Nathaniel mengatakan dia mencintaiku. Nathaniel menciumku, memelukku, membuatku ham
Last Updated : 2026-09-04 Read more