"Oh ya Bary, aku belum kasih tau ya?'"Apa itu, Kak?""M.. anu Bary, hari ini kita hanya ada nasi jagung lagi, eh. Inipun hanya sisa jagung kita minggu kemarin, lho! Masih ada sekitar dua literan sih."Setelah memasukkannya ke dalam tas kresek, Zarima menyerahkan mangkuk plastik wadah bekal itu padaku sambil berkata, "Tidak apa-apa, 'kan bekalnya ini saja dulu?"Aku sambut dan membalas, "Iya Kak, tidak apa-apa. Malahan, ini saja sudah alhamdulilah sekali, kok. Lagipula, kita sudah biasa makan ini, 'kan?"Seperti kemarin dan lalu, aku menyambutnya dengan dada diam-diam bergemuruh, tapi berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja.Alhamdulillah yang kuucapkan barusan pun, sebenarnya itu adalah ungkapan rasa syukur paling munafik yang pernah aku perdengarkan padanya. Sungguh, andai ada yang tahu bahwa, semakin kesini aku semakin terpuruk saja.Begitu juga dengan di hadapan Zarima, aku semakin sangsi akan mampu mempertahankan kemunafikan yang sedang aku peragakan kali ini."Betul kamu ti
Last Updated : 2026-09-17 Read more