LOGIN....memang adalah seseorang yang sangat kukenal. Maryati Tompa namanya. Andai bernasib baik, seharusnya aku juga sedang mengenakan seragam putih biru seperti yang melekat di badannya saat ini."Ini anaknya siapa, Bary? Maksudku, anaknya Zarima, bukan?"Dia tiba-tiba berpindah topik. Ada kesan ambigu dalam nada bicaranya. Tapi aku mengangguk meskipun hanya sekadarnya."Iya." Menyahut pun nyaris tak terdengar oleh telingaku sendiri."Zahira kok tidak cerita ya, kalau anaknya Zarima ada dua? Ini kembar, 'kan?"Ternyata itu masalahnya. Langsung aku iyakan, tapi suaraku benar-benar payah di ketika ini.Maryati ini memang sahabatan dengan Zahira. Pada aku pun sebenarnya dia selalu ramah. Lalu itu, bisa berteman dengannya, rasanya itu seperti sebuah keberuntungan tersendiri. Pasalnya, selain cucu mantan bupati, ayah Maryati adalah seorang camat aktif di kecamatan kami.Tapi itu dulu, ketika impian mengubah debu jadi permadani masih membara pada setiap derap langkah. Sedangkan sekarang?"Maa
"Kamu jangan tersinggung seperti itu Bary, aku ini hanya coba ngasih solusi, lho!"Yulianti masih menyempatkan diri berkata-kata. Nada bicaranya sudah hampir normal seperti biasanya.Sementara itu, aku yang sudah siap melanjutkan langkah sambi memikul keranjang, mau tidak mau menunda niat."Tidak Mbak. Tidak ada yang tersinggung. Aku hanya merasa berat saja."Yulianti ini selalu tulus pada kami, jadi bagaimana mungkin aku berani mengabaikan dia begitu saja."Berat, maksudnya?" Dia mengkerutkan dahi.Aku terdiam. Memperinci ini, sepertinya hanya akan memperpanjang cerita.Di sisi lain, mungkin mulai paham dengan maksud dari perkataanku, Yulianti melanjutkan, "Begini Bary. Aku tidak ada maksud misahin kamu dari anak-anaknya Zarima ini. Aku juga tau, kamu pasti sangat menyayangi mereka.""Tapi Bary, taukah kamu seperti apa sulitnya ngerawat bayi seperti mereka? Berat Bary! Satu saja beratnya nauzubillah, apalagi dua!"Kali ini dia sepenuhnya benar. Baru beberapa hari merawat, aku sudah h
"Perasaan, tadi malam masih ada dua ya? Kok tiba-tiba tinggal satu? Apa ... oh iya, ya?"Aku baru saja selesai merebus air, dan bersiap menyeduh susu. Sebenarnya aku sudah terjaga sedari subuh tadi. Tapi aku masih harus mencuci pakaian Norma dan Karma. Sudah pula kujemur di kolong gubuk sana. Daun jati yang akan kami bawa ke pasar bahkan sudah aku siapkan.Kurang lebih satu kilometer dari gubuk kami ini, ada ladang jati. Aku tidak tahu ladang jati tersebut punya siapa. Memetik daunnya pun sebenarnya aku hanya antara berani dan terpaksa saja juga. Tapi andai perbuatankiu ini adalah dilarang atau berdosa, aku sudah memohon pada Tuhan. Entah itu di dunia ini atau di akhirat kelak, cukup aku saja yang dimintai pertanggungjawaban.Sedangkan yang baru kusadari, uang enam ribu rupiah yang kami punya, tiga hari lalu sudah kubelikan tiga bungkus susu sachet. Setelah dipakai satu bungkus pada setiap harinya, memang susu inilah susu terakhir.Apa boleh buat, terpaksa harus kuseduh juga.Tapi t
Norma sudah tidur kembali. Karma pula, belum ada tanda-tanda kalau dia akan terjaga dari tidurnya. Tidak tau kenapa anak ini tidur dengan sangat nyenyak begini. Bahkan ketika aku menukar pakaiannya yang basah oleh air kencingnya sendiri, dia tidak terganggu sama sekali.Tapi sudah kupastikan, pernapasannya masih bekerja sebagaimana mestinya. Jeda kemudian, pelan-pelan pikiran kembali tertuju pada Zarima. Bumi sudah sepenuhnya gelap, dan kakakku itu akan memulai malam-malam berbeda di alam barunya."Astaga! Kenapa aku sampai tidak ingat ini?" Aku baru sadar kalau telah melewatkan sesuatu."Dek, aku tinggal sebentar ya. Kuburan ibu kalian belum dikasih lampu, eh!"Orang yang baru meninggal di daerah kami ini, setiap awal malam, makam mereka akan diberi penerang, Biasanya itu berlangsung hingga tujuh malam berturut-turut.Namun begitu, selain tidak wajib, memang tidak semua orang melakukannya. Hanya saja, ada, dan cukup sering aku mendengar hingga melihatnya secara langsung orang-orang
Tapi bagaimana kalau ternyata kematian Zarima ini ...."Syukurlah akhirnya kamu bangun juga. Ayo Dek, bangunin sekalian abangnya juga. Kalian sudah lapar, "kan?"Yang menyela lamunanku dengan suara tangisnya itu dia adalah Norma. Segera bergeser mencari tahu apa yang membuatnya terjaga hingga menangis."Yah, ini sih harus pakai air panas," desauku, kemudian menanggalkan kain yang membalut tubuhnya."Pakai bajunya nanti saja dek ya. Kita harus rebus air dulu sih. Tidak apa-apa, 'kan? Sekarang minum susu saja dulu, oke?"Aku berkata-kata dengan lemah lembut sebagaimana yang Zarima lakukan pada mereka. Kata-katanya pun kuambil dari yang kudengar dari Zarima.Sudah kuperiksa, Norma sepertinya tidak hanya butuh susu. Dia buang air besar. Selain mandi, saat membersihkan bekas kotoran bayinya, Zarima biasanya akan menggunakan air dingin campur air panas.Setetes demi setetes susu jatuh ke mulutnya. Sempai dia memperlihatkan gelagat kenyang, barulah aku bersiap untuk merebus air."Kamu jangan
Mayapada ini fana, kitalah yang baqa.Bumi dan seisinya hanya sementara, tapi jiwa, jiwa kita abadi, seabadi keabadian itu sendiri.Zarima binti Zubair.Jasad wanita terhebat itu boleh saja telah hilang dari pandangan. Batu lancip penanda makam pun boleh saja juga mempertegas, bahwa dia memang telah berbujur sunyi di bawah sana.Tapi kisahnya, api kerinduan kami, baik kini hingga kelak nanti, adakah yang sanggup memadamkannya?"Selamat jalan, Kak. Mimpi indahlah engkau dalam tidur panjangmu."Tak ada bebungaan yang kutaburkan di makamnya. Tidak pula aku sirami pusaranya dengan air doa. Tapi di balik semua itu, demi rongga jantung yang menampung segenap denyut kehidupan, aku mengalir bersama waktu, mengiringi kepergian kakak terkasihku itu dengan saripati kasih yang maha tulus. Sungguh, andai gundukan tanah merah ini bisa bicara, maka dia akan berkata, betapa segala doa-doa yang paling doa, telah pun kulaungkan untuk dia dan perjalanan panjangnya.Dengan segenap kehampaan yang mender







