Tidak ingin membuang-buang waktu, begitu selesai sarapan, aku langsung menghampiri Zarima."Kak," ucapku membuka percakapan, "tadi kamu minta tolong apa?" "Itu Bary," jawabnya, "tembuni tadi malam, nanti tolong tanamkan ya. Pamali lho, kalau terlalu lama dibiarkan."Zarima yang tengah bersiap memandikan bayi-bayinya ini, berkata-kata tanpa menoleh aku. Apa yang dia sampaikan juga memang hanyalah perkara biasa. Hanya saja, tumben dia menyelipkan kata 'pamali' dalam kalimatnya. Pada saat yang sama, mungkin karena mendapati aku yang belum juga merespon, dia kemudian berkata lagi."Iya, tidak apa-apa, nanti saja. Maksudku, tunggulah sampai makanan tenang di perutmu."Sampai di sini barulah langsung kubalas, "Tidak, Kak, sekarang saja, biar aku bisa cari kerjaan lain lagi juga, 'kan? Matahari sudah tinggi, lho!""Iya juga sih," sambungnya.Zarima hanya sampai di situ. Aku juga tidak lagi menambahkan, dan langsung bergeser menyambar gentong-gentong berisi tembuni, juga golok tua untuk men
Last Updated : 2026-08-24 Read more