Beberapa hari kemudian, di kediaman Raja Kota Linmeng.Aula utama kediaman raja kota terasa begitu sunyi. Pilar-pilar besar menopang langit-langit yang dihiasi ukiran rumit, sementara karpet merah membentang dari pintu masuk hingga ke singgasana.Di atas singgasana tersebut, Meng Feiyun duduk dengan punggung tegak.Wajahnya tampak datar, tetapi sorot matanya menyimpan kemarahan yang sulit disembunyikan. Jari-jarinya mengetuk sandaran singgasana secara perlahan, menciptakan bunyi kecil yang justru membuat suasana aula terasa semakin menekan."Bodoh. Benar-benar bodoh."Suaranya tidak keras, tetapi setiap kata terdengar penuh tekanan.Di hadapannya, Hu Huan berdiri dengan kepala tertunduk. Pelayan pribadi itu berusaha mempertahankan sikap tenangnya, meskipun keringat dingin mulai membasahi punggungnya.Meng Feiyun mengangkat pandangan."Mengurus satu orang saja mereka tidak becus. Untuk apa mereka menyebut diri sebagai serikat pembunuh terhebat di dunia bawah jika pekerjaan sesederhana
Last Updated : 2026-10-28 Read more