LOGINSetelah gurunya tewas secara misterius, Wan Xuan memulai perjalanan mencari kebenaran. Namun, jejak itu membawanya kepada murid-murid lain yang menyimpan rahasia masing-masing. Di tengah bayang-bayang masa lalu, Wan Xuan harus menghadapi warisan sang guru dan pembunuh yang perlahan terungkap.
View MoreButiran air hujan terus berjatuhan dari langit kelabu semenjak siang tadi. Guyurannya tak terlalu lebat, namun cukup untuk menenggelamkan seseorang dalam ilusi kenangan.
Di atas sana, langit tampak muram, diikuti kabut putih yang menutupi setiap sela lereng dan puncak gunung. Walaupun jarak memisahkan keduanya, seolah-olah mereka berada dalam dekapan rasa yang sama. Jalur setapak tampak berlumpur, membelah hutan menuju sebuah kuil bobrok. Bangunan tua yang sepertinya sudah lama ditinggalkan dan terbengkalai. Diselimuti rajutan jerami dan topi bambu tua, langkah Wan Xuan tak tergoyahkan meskipun tanah liat di bawah kakinya berusaha menahan setiap pijakan. Begitu sampai di dekat kuil, ia berdiri diam sejenak. Tatapannya tertuju pada tangga batu yang basah dan dipenuhi bercak tanah liat, menandakan seseorang telah berada di sana lebih dahulu. Namun, Wan Xuan tak merasakan niat jahat dari dalam kuil. Ia memutuskan masuk karena sepanjang perjalanan, hanya kuil inilah satu-satunya tempat berteduh yang layak. Kegelapan menyambut begitu ia masuk. Namun, remang-remang api unggun berpendar di tengah kuil yang cukup luas. Seorang pria bersandar pada sebatang tongkat kayu. Ia duduk tenang di dekat api unggun dengan kedua tangan bersilang di depan dada. "Aku kedinginan. Apa boleh duduk di sini sebentar?" Beberapa meter dari pria itu, Wan Xuan berdiri menunggu jawaban. Cahaya api unggun yang berpendar membuat bayangan tubuhnya yang tegap tampak semakin besar. Keduanya tak saling melirik, namun diam-diam saling memperhatikan. Setengah wajah Wan Xuan tertutupi topi bambu, hanya menampilkan ekspresi datar yang sesekali diterpa nyala api. "Ambil posisi senyaman yang kau mau. Hujan di luar tak akan berhenti sampai besok pagi." Mata pria itu sedikit bergeser. Awalnya ia hanya diam menatap api unggun, tetapi sesuatu seolah menarik perhatiannya. Dari sudut matanya, ia mengintip bayangan pemuda di hadapannya. Samar, tetapi ia bisa merasakan gejolak liar yang tengah bersembunyi di balik sosok tenang tersebut. "Langkah yang berat di dalam kegelapan, jangan sampai kehilangan nyala dalam lentera," pria itu bersenandung lirih, cukup terdengar oleh siapa pun yang berada di dekatnya. Wan Xuan melepas topi bambu, juga rajutan jerami kering yang melekat pada tubuhnya. Namun, ia bisa merasakan bobot dari ucapan pria itu, seolah-olah kalimat tersebut sedang mendeskripsikan situasinya saat ini. "Bagaimana Anda tahu?" tanya Wan Xuan. Pria itu tersenyum tipis. "Tahu apa? Aku hanya bersenandung mengucapkan kalimat yang pernah kudengar." Wan Xuan terdiam. Ia tak berniat berkata lagi sampai akhirnya mengeluarkan sebuah labu berisi arak berusia seratus tahun, peninggalan gurunya. "Mau mencoba?" Wan Xuan mengulurkan labu itu setelah meneguknya sekali. Aroma khas arak tua segera menguar, cukup menggugah selera bagi siapa pun yang memahami nilainya. Sosok di seberang api unggun menerima tawaran tersebut tanpa menolak. Begitu meneguknya sekali, mata pria itu langsung terbuka lebar. Hanya untuk sesaat, ia bisa merasakan sesuatu yang begitu familiar. Rasa yang telah lama hilang, sesuatu yang menyimpan kenangan puluhan tahun. "Namamu?" tanya pria itu sembari melempar kembali labu arak. "Wan Xuan. Bagaimana dengan Anda, Senior?" Beberapa kali labu itu dilempar silih berganti. Setiap tegukan seolah memberikan kedua pria itu rasa yang mengingatkan mereka pada kenangan lama. "Sen Tian," balas pria itu dengan senyum tipis. "Dengar, aku hanya akan mengatakan ini sekali." Sen Tian tiba-tiba berkata serius. "Jangan mencari mereka ketika kau tak bisa mengendalikan bayanganmu sendiri." Wan Xuan tertegun. Sen Tian seolah mengetahui siapa dirinya, padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu. "Ucapan itu meyakinkanku bahwa Anda juga merupakan muridnya." "Murid? Aku hanya pernah belajar sedikit dari pria tua berjanggut putih itu. Mungkin hanya kaulah yang benar-benar bisa disebut sebagai muridnya." Setelah berkata demikian, Sen Tian tertawa getir. Ia segera berdiri dan merapikan pakaiannya dari debu. Ia ingin pergi, dan Wan Xuan tak berniat menghentikannya. Mereka berdua adalah murid dari sosok tua yang pernah mengguncang dunia bela diri. Yang satu adalah pria yang terbiasa hidup bebas, sedangkan yang lainnya adalah pemikul tanggung jawab. Namun, pertemuan kali ini benar-benar di luar dugaan Wan Xuan. Seolah-olah pertemuan tersebut memang telah digariskan oleh takdir. Sebelum benar-benar meninggalkan kuil, Sen Tian berkata tanpa menoleh. "Ini pertama kalinya kita bertemu. Sebagai senior, aku hanya bisa mengingatkanmu. Berhati-hatilah terhadap mereka yang mengatasnamakan guru." Wan Xuan mendengarnya tanpa ekspresi. "Bagaimana dengan Anda, Senior?" "Jangan pikirkan aku. Dibandingkan kau dan murid-murid lainnya, aku sudah tak punya alasan untuk bersaing dengan kalian." Tawa getir terdengar di akhir kalimat. Sesaat kemudian, suasana kembali sunyi. Hujan di luar kuil masih turun tanpa tanda-tanda akan berhenti. Di dalam, hanya percikan api yang cukup untuk melindungi dari dingin. Tatapan Wan Xuan terhenti pada sebatang kayu yang perlahan berubah menjadi abu. Sejak meninggalkan Gunung Baiyun, wajahnya seolah kehilangan seluruh emosi. Ia hanya tahu bahwa dirinya dipungut oleh seorang lelaki tua ketika berusia lima tahun. Selebihnya, Wan Xuan tak benar-benar mengingat bagaimana kehidupannya sebelum itu. Seiring berjalannya waktu, ia tumbuh menjadi pria dewasa di bawah bimbingan Bai Haotian. Walaupun hidupnya tak seperti kebanyakan anak lainnya, Wan Xuan tetap merasa bersyukur. Namun, beberapa bulan lalu, semua rasa syukur itu seakan direnggut darinya. Lelaki tua yang merawatnya sejak kecil, sosok yang menjadi gurunya sepanjang hidup, ditemukan tewas mengenaskan tanpa kepala. Jejak terakhir yang ditemukannya hanyalah kenyataan bahwa gurunya mati akibat teknik racun ciptaannya sendiri. "Sen Tian, auranya lembut dan tenang. Ia sama sekali tak menerapkan metode yang diajarkan Guru," gumamnya. "Kejam dan tanpa ampun. Itulah ciri khas seorang ahli yang menerima ajaran Bai Haotian."Beberapa hari kemudian, di kediaman Raja Kota Linmeng.Aula utama kediaman raja kota terasa begitu sunyi. Pilar-pilar besar menopang langit-langit yang dihiasi ukiran rumit, sementara karpet merah membentang dari pintu masuk hingga ke singgasana.Di atas singgasana tersebut, Meng Feiyun duduk dengan punggung tegak.Wajahnya tampak datar, tetapi sorot matanya menyimpan kemarahan yang sulit disembunyikan. Jari-jarinya mengetuk sandaran singgasana secara perlahan, menciptakan bunyi kecil yang justru membuat suasana aula terasa semakin menekan."Bodoh. Benar-benar bodoh."Suaranya tidak keras, tetapi setiap kata terdengar penuh tekanan.Di hadapannya, Hu Huan berdiri dengan kepala tertunduk. Pelayan pribadi itu berusaha mempertahankan sikap tenangnya, meskipun keringat dingin mulai membasahi punggungnya.Meng Feiyun mengangkat pandangan."Mengurus satu orang saja mereka tidak becus. Untuk apa mereka menyebut diri sebagai serikat pembunuh terhebat di dunia bawah jika pekerjaan sesederhana
Pagi perlahan menyingsing di ufuk timur. Cahaya matahari menerobos sela-sela pegunungan, menyinari hutan yang masih diselimuti kabut tipis. Suara burung mulai terdengar dari kejauhan, seolah alam kembali menjalani kehidupannya setelah melewati malam yang penuh pertumpahan darah.Namun, suasana di sekitar kuil terbengkalai masih jauh dari kata damai.Api berkobar di antara reruntuhan bangunan tua, melahap kayu-kayu lapuk dan sisa-sisa benda yang berserakan. Asap hitam mengepul ke udara, membawa bau hangus yang bercampur dengan aroma darah. Beberapa saat lagi, kuil itu mungkin hanya akan menyisakan tumpukan abu dan bara yang perlahan mendingin.Sun Liang duduk bersandar pada sebatang pohon yang nyaris tumbang. Pakaiannya kusut, sementara wajahnya menunjukkan kelelahan setelah pertarungan panjang melawan para anggota Serikat Qianquicin.Ia mengangkat tangan untuk menutupi hidungnya ketika angin membawa bau tak sedap dari arah api."Ugh! Bau daging mereka benar-benar menjijikkan." Sun Lia
Bao Sinqing mulai kehilangan kesabarannya. Pertarungan yang berlangsung hampir satu jam itu sudah cukup menghiburnya, tetapi melihat Wan Xuan masih berusaha bertahan dalam keadaan terluka parah membuatnya merasa bosan. Baginya, pemuda itu sudah tidak memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan.Ia bahkan tidak perlu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengakhiri pertarungan tersebut.Hanya membunuh bocah itu. Setengah dari kekuatanku sudah lebih dari cukup.Bao Sinqing mengangkat tongkat kayu hitam di tangannya. Kristal bulat yang tertanam di ujungnya memancarkan cahaya ungu redup, kemudian berdenyut semakin cepat ketika energi sihir mulai berkumpul.Di belakangnya, tengkorak arwah raksasa membuka rahangnya lebar-lebar. Asap ungu di sekelilingnya bergerak menuju rongga mulut, berkumpul menjadi gumpalan energi yang terus membesar. Dalam beberapa saat, sebuah bola sihir seukuran kepala kerbau telah terbentuk di antara kedua rahangnya.Permukaan bola itu berputar tidak beraturan, mem
Kehancuran yang ditinggalkan oleh serangan Sun Liang membuat suasana di sekitar kuil terbengkalai mendadak sunyi. Debu masih beterbangan di udara, sementara beberapa bongkahan batu yang terlepas dari dinding runtuh berguling di atas tanah. Para anggota Serikat Qianquicin yang tersisa menatap pemandangan tersebut dengan wajah pucat. Tak seorang pun menyangka bahwa pria yang mereka kejar sejak tadi ternyata menyimpan kekuatan mengerikan semacam itu.Sun Liang berdiri di tengah reruntuhan dengan kedua tangan menggantung di sisi tubuhnya. Ia melirik para pengejarnya, lalu menyeringai tipis."Heh! Rasakan itu, bedebah sialan. Kalian sendiri yang memojokkanku. Sekarang, terimalah akibatnya!"Meskipun berkata demikian, Sun Liang tidak langsung menyerang kembali. Ia hanya mengamati keadaan di sekelilingnya, memastikan tidak ada lawan yang berpura-pura tumbang untuk melancarkan serangan mendadak.Sejak awal, ia tidak pernah terbiasa meremehkan lawan, bahkan ketika menghadapi seseorang yang kek












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.