“Sepuluh juta?! Kamu gila, Ca?!”Mas Al membanting bolpoin ke atas meja. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya terlihat menonjol.“Sepuluh juta hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga kita doang, Ca! Terus aku harus ngasih ibu pakai uang apa? Aku juga butuh pegangan untuk beli BBM, untuk makan, Ica! Kamu ini keterlaluan, Ca!” Dia mengepalkan tangan dengan rahang mengeras.Aku menatapnya dengan tenang. Menghadapi amarahnya, tidak perlu dengan emosi. “Oke, kalau kamu merasa sepuluh juta terlalu besar untuk kebutuhan kita, aku kurangi,” jawabku datar. “Kamu cukup ngasih aku delapan juta saja per bulan. Segitu cukup kok buat kita bertiga. Sisa dua juta, seharusnya cukup sekadar untuk isi BBM dan jajan kamu, Mas.”Mas Al melotot, matanya hampir keluar dari kelopaknya. “Dua juta?! Gila kamu, Ca! Mana cukup buat sebulan?!”Aku mengangkat alis sambil menyilangkan tangan di depan dada, pura-pura menghitung. “Sehari kamu makan habis berapa paling tinggi? Aku hitung lima puluh ribu. Toh,
Last Updated : 2026-09-08 Read more