Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar Nadira. Namun, bocah empat tahun itu sudah tidur pulas, meski sesekali alisnya berkerut dan tangannya meremas selimut. “Tadi Nadira rewel nggak, Mbak?” tanyaku pada suster yang mengurus Nadira. Perempuan yang baru menyelesaikan salatnya itu menoleh ke arahku.“Bagun tidur tadi pagi sempat tantrum cukup lama, Bu. Pengen sama Bunda, katanya. Sempat kasihan mendengar tangisnya yang menyayat. Tapi, mau menghubungi ibu juga nggak tega. Ibu kan sudah membayar seminar lumayan mahal.” Aku tersenyum tipis meski dalam hati ada yang ngilu. Bisa kubayangkan bagaimana sedihnya Nadira ketika bangun tidur sudah tidak menemui bunganya. Terlebih, Nadira masih dalam masa pemulihannya, biasanya anak ini akan bermanja-manja sama ibunya. Tapi, pagi ini berbeda. Aku melangkah pelan ke arah ranjang putriku. Duduk di tepi kasur, lalu mengusap rambut halusnya."Maafkan Bunda, Sayang," bisikku pelan, nyaris tak terdengar. Air mataku menggenang lagi. "Semua
Last Updated : 2026-08-27 Read more