LOGIN“Sayang, tolong datang ke kantor hari ini.”
Aku mencebik membaca pesan dari Mas Al. “Untuk apa, Mas? Aku ingin istirahat di rumah hari ini.” Pesan balasan terkirim. “Aku butuh desain yang baru secepatnya. Tolong kamu kerjakan dengan segera, Sayang. Kalau bisa hari ini.” Bibirku terangkat tipis. Sudah kebaca apa yang ia inginkan. “Kenapa harus buru-buru? Bukankah baru seminggu yang lalu kita merilis koleksi terakhir?” balasku. “Pasar butuh kesegaran, Sayang. Tim marketing sudah tidak sabar. Tolong ya, demi kemajuan bisnis kita.” Aku tersenyum tipis membaca pesan itu. Demi kemajuan bisnismu, atau demi kelancaran perlombaan Anita? “Baiklah, Mas. Aku akan ke sana setelah Nadira bangun.” Aku mematikan layar ponselku. Niat hati aku ingin istirahat di rumah hari ini, menemani Nadira yang sedang masa pemulihan. Tapi, sebagai istri yang baik, aku harus mentaati perintah suami, bukan? Setelah bermain dengan Nadira sejenak, aku berangkat ke tempat kerja. Sesampainya di kantor, Mas Al langsung menyambutku dengan senyum lebar. Ia terlihat sangat antusias, terlalu antusias malah. “Syukurlah kamu mau datang, Sayang. Ayo, kita langsung bahas konsep desain barunya di ruang kerjaku.” Aku mengangguk patuh, mengikuti langkahnya masuk ke ruang kerja utama. Setelah aku duduk di sofa kulit empuk di hadapannya, Mas Al menuangkan air mineral ke gelas dan menyodorkannya padaku. “Minum dulu, Sayang.” “Makasih, Mas.” Aku tersenyum. Ia mengangguk sambil duduk di seberangku. “Kamu mau mulai dari konsep warna apa untuk musim ini, Sayang?” tanyanya sambil membuka laptop. Aku tidak menyentuh gelas itu, hanya menatapnya lekat-lekat, lalu perlahan membuka tas kerjaku. “Mas, sebelum aku mulai mendesain, ada yang perlu kita bicarakan.” Suaraku datar, namun tajam. Mas Al mengangkat alisnya, terlihat bingung. “Mau bicara apa, Sayang? Kamu mau minta bonus? Atau mau liburan?” Ia menatapku lekat. Aku menggeleng. “Aku ingin kita membuat perjanjian hitam di atas putih,” ujarku pelan, sambil mengeluarkan sebuah map tebal dari dalam tasku. Mas Al menatap map tersebut dengan kening berkerut. Tangannya yang kekar meraih gelas lalu meneguk airnya dengan setenang mungkin. “Aku mau dapat royalti 50% dari setiap penjualan desain yang aku buat.” Hening. Mas Al terbatuk pelan, hampir tersedak air minumnya. Ia meletakkan gelasnya dengan kasar. “Kamu bercanda, Ca? 50%? Itu nggak masuk akal! Lagian, kita ini suami istri. Apa yang aku punya semua juga milikmu. Ngapain sih repot-repot bagi royalti?” Jawabannya persis seperti yang aku perkirakan. Tidak terpengaruh dengan jawaban Mas Al, aku menatap matanya dingin. “Dulu, aku ingin menjadi wanita karier seutuhnya, Mas. Tapi kamu melarang, katamu aku cukup bantu usahamu saja. Menjadi desainer. Sayangnya, sebagai orang yang berjasa dalam bisnismu, aku hampir nggak dapat apa-apa. Nggak punya nama, nggak pernah kamu sebut di setiap pertemuan, bahkan sepertinya keluargamu juga nggak tahu tentang kiprahku di balik usahamu yang kata mereka maju pesat. “Sebagai desainmu, aku merasa hanya menjadi bayangan yang tidak kasat mata. Padahal, jasaku besar sekali dalam kemajuan bisnismu. Kalau dipikir-pikir aku merasa rugi besar.” Aku mencondongkan tubuhku ke depan, memastikan setiap kata yang keluar dari mulutku menancap di telinganya. “Padahal, untuk meningkatkan skill, aku mengikuti banyak kelas. Sering ikut seminar juga. Dan semua itu untuk kemajuan bisnismu. Tapi, pengorbananku seolah tak berarti apa pun.” Aku mundur ke belakang. “Aku bukan karyawan gratisanmu, Mas.” Mas Al terlihat gelagapan. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Ia berusaha melunak, mencoba meraih tanganku, tapi aku menariknya kembali. “Sayang... maaf ya kalau selama ini aku kurang perhatian. Aku nggak pernah bermaksud apa-apa, kok. Nanti aku sebut nama kamu di pertemuan-peryemuan berikutnya, oke? Akan ku perkenalkan sebagai desainerku. Tapi, kamu nggak perlu bikin perjanjian kayak gitu, kita kan keluarga ….” “Lupakan itu,” potongku tegas. “Sekarang aku mau kamu ikuti aturan mainku, Mas. Kalau kamu setuju, oke, kerja sama kita dilanjutkan. Kalau tidak mau ….” Aku berdiri perlahan, merapikan rok yang kukenakan. “Kalau kamu nggak siap dengan perjanjian itu, maka jangan salahkan aku jika bekerja pada perusahaan lain yang mau menghargai setiap kerja kerasku. Kamu tahu sendiri, Mas. Tanpa desainku, usahamu nggak akan ada. Namamu tidak akan pernah terkenal.” Aku berbalik, melangkah menuju pintu. “Oke! Tunggu!” suara Mas Al terdengar panik. Aku berhenti, menoleh perlahan. Mas Al menghela napas panjang, terlihat kalah. “Oke, aku ikuti maumu. Aku bagi royalti 50%. Tapi kamu harus janji, desainnya harus selesai minggu ini.” Aku tersenyum tipis. “Tentu, Mas.” Aku kembali ke meja dan di duduk di tempat semua sembari mengeluarkan selembar kertas tebal dari mapku, lengkap dengan materai di sudutnya. “Tanda tangani ini.” Mas Al menatap kertas itu dengan tatapan aneh. “Ini... perjanjian resmi?” Ia mendongak, menatapku tak percaya. Aku mengangguk mantap. “Ya. Di sini ada perjanjian yang kuat. Tanda tangani di atas materai, Mas.” Dengan enggan, Mas Al mengambil pulpen lalu kembali menatapku, seolah sedang mencari keseriusan dalam mataku. “Ragu? Kalau ragu nggak usah, Mas! Toh, aku juga nggak akan rugi. Tapi, setelah ini tidak akan pernah keluar desain baru lagi dari tanganku,” ucapku tegas. Mas Al menarik napas panjang, lalu membuka lembaran kedua dan mulai mengerakkan tangannya, menandatangani kertas itu. Aku mengambilnya kembali, memastikan tanda tangannya basah dan sah secara hukum. Lalu tersenyum tipis sambil melipat kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas. “Ini baru langkah awal, Mas.” Aku hanya bisa membatin. Di dalam perjanjian ini tidak hanya tertulis soal royalti, Mas. Tapi ada satu klausul krusial. Sayangnya kamu tidak membacanya secara teliti. Mungkin saking emosinya kamu, Mas. Padahal, sebagai pemilik brand, Al Birru bertanggung jawab penuh atas orisinalitas desain. Desainer hanya membuat satu koleksi per musim dan tidak pernah membocorkannya ke manapun. Jika terjadi kebocoran desain atau plagiarisme yang melibatkan pihak internal, desainer berhak menuntut ganti rugi materil dan immateril tanpa batas. “Perjanjian sudah aku tanda tangani. Kapan kamu mau mulai merancang desainnya?” tanyanya dengan suara dingin. Pasti sedang kesal. Tapi apa peduliku? “Besok. Aku nggak bisa diburu-buru. Hari ini otakku butuh istirahat.” Aku kembali berdiri. “Terima kasih atas kerjasamanya. Tapi, ingat sedikit saja berani mengkhianati aku, maka rasakan akibatnya!” ancamku sebelum meninggalkan mejanya. Aku tersenyum melihat tubuhnya membeku di tempat duduk. Itu baru peringatan kecil, Mas. Aku meninggalkan ruang kerjanya dengan langkah ringan. Setidaknya, secara finansial dan hukum, aku sudah mengamankan diriku sendiri. Di parkiran, aku membuka aplikasi W******p. Niat hati ini menelpon Mbak Susi, memberi kabar kalau pulang siang hari. Tapi, entah kenapa aku justru membuka menu perangkat tertaut. Aku mulai menelusuri percakapan antara Mas Al dan Anita. (Mas, aku ingin menjadi desainer yang dikenal banyak orang.) Pesan dari Anita dua jam lalu. (Gampang itu, Sayang. Setelah perlombaan itu, aku akan memperkenalkan kamu pada kolegaku sebagai desainerku.) Darahku menggelegak hingga ke ubun-ubun. Tanganku mencengkram handphone dengan kuat. Rahangku mengeras seketika. Gila! Kamu benar-benar gila, Mas! Sakit jiwa kamu, Mas Al! Aku yang mati-matian bekerja keras untuk usahamu, tapi nama itu justru akan kamu berikan pada orang lain! Jangan mimpi! Dengan dada bergemuruh aku memutuskan untuk langsung pulang. Dengan kecepatan tinggi aku mengendarai mobil hanya agar bisa segera membuka laptop yang tertinggal di rumah. Sesampai di rumah, aku membuka laptop di ruang kerja kecilku. Mencari tahu lebih detail tentang perlombaan yang akan diikuti Anita. Aku mengetik beberapa kata kunci di mesin pencari. Muslimah Rising Designer Award. Ternyata ini yang hendak diikuti Anita. Tanganku kembali mengepal. Kamu ingin dikenal sebagai desainer jalur menjiplak, Anita! Ternyata serendah itu kamu! Pantes kalian menikah! Kamu sama Mas Al sama-sama manusia tidak tahu diri! Kalian ternyata secocok itu. Aku mengalihkan pandangan ke arah layar handphone ketika ada notif email masuk. Dengan cekatan aku membukanya. Subjeknya berbunyi; Undangan Resmi Sebagai Tamu Kehormatan Muslimah Rising Designer Award. Aku tersenyum tipis. Sampai jumpa di acara tersebut Anita. Ingin tahu bagaimana ekspresimu melihat aku ada di sana nanti?Setengah sebelas malam, aku bersiap untuk istirahat. "Mama... Mama….” Suara Nadira terdengar lemah. Aku yang sudah di depan pintu kamar Nadira segera menarik handle pintu dengan cepat. “Iya, Sayang. Ini Mama, Nak.” Dengan langkah lebar, aku berjalan menuju ranjangnya. Nadira terbaring di kasur dengan wajah memerah. Napasnya terdengar berat. Tangannya menggenggam boneka kelinci kesayangannya dengan erat.“Ma … Mama ….” Suaranya lirih dan bergetar. Aku meraba keningnya. Ya Allah ….Panas banget. Nadira langsung meraih tanganku, minta dipeluk. Gegas, aku merapatkan tubuh ke arahnya. Memeluknya dengan erat. Lalu mencium keningnya yang hangat dengan lembut. Apa ini gara-gara hujan-hujanan tadi sore ya? Tapi, biasanya aman-aman aja bila Nadira main hujan-hujanan. “Sabar ya, Sayang. Minum obat dulu ya?” Aku menatapnya dengan lembut. “Pahit nggak?” rengeknya.“Nggak terlalu, Sayang. Mau ya, biar cepat sembuh ya, Nak.”“Tapi, Mama jangan pergi setelah ini ya?” “Iya, Sayang. Mama t
POV Al BirruAku menutup telepon dengan tangan gemetar.Maafkan aku, Ca. Tapi ini satu-satunya cara.Aku menatap layar ponsel dengan napas memburu. Orang yang baru saja kutelepon adalah Pengacara Hendra. Pengacara pribadiku. Pengacara yang sudah kukenal sejak lima tahun lalu. Orang yang membantuku mengurus pernikahan siri kami. Beliau, orang yang tahu semua rahasiaku.Dan sekarang, aku butuh dia untuk menyelamatkan diri. Aku duduk di sofa dengan pikiran yang berputar cepat.Hendra adalah pilihan yang tepat. Dia tahu semua tentang situasiku. Paham tentang pernikahan siriku juga tahu tentang aset-asetku. Dan yang paling penting, ia tahu tentang perjanjian pranikah yang membuatku terjebak.Perjanjian yang membuatku tidak bisa menceraikan Ica tanpa kehilangan segalanya.Tapi Hendra juga tahu cara mencari celah. Cara mencari kelemahan. Cara memutarbalikkan keadaan.Itulah kenapa aku memilih dia.Tiga puluh menit kemudian, ponselku bergetar. Notifikasi pesan masuk.Dari Hendra. "Sudah,
POV Al Birru Ponselku bergetar. Notifikasi pesan masuk. Dari Ica. Aku membuka dengan tangan gemetar. Setelah konfrontasi semalam, aku tidak berani menghadapi Ica lagi. Aku masih termenung di ruang tamu di kontrakan Anita. Aku sedang berpikir apa yang harus kulakukan? Namun, begitu membaca pesan dari Ica membuat darahku seolah berhenti mengalir. Screenshot pesan W******p. Dari nomor yang tidak kukenal. Tapi aku tahu itu Anita. Aku tahu gaya bicaranya. Aku tahu cara dia mengeja. Pesan-pesan provokatif. Menghina Ica. Meminta Ica mundur. Mengaku bahwa aku membelikan mobil baru untuk Anita. Dan di bawah screenshot itu, ada pesan dari Ica. "Kendalikan istri sirimu! Jika tidak bisa membereskan dia, jangan salahkan aku kalau mau pesan ini viral di media sosial!" Jantungku berhenti berdetak. Anita. Apa yang ada dalam pikiranmu, kenapa kamu lakukan hal rendaan seperti ini? Aku langsung menelepon Anita. Tapi tidak diangkat. Aku telepon lagi. Tetap tidak diangkat. Perempuan itu izin
Aku sedang menyeduh kopi ketika ponselku bergetar. Notifikasi pesan masuk. Dari nomor baru, tidak dikenal. Aku mengerutkan kening, saat menatap jam di layar handphonenya. Baru pukul 5.30. Siapa yang mengirim pesan sepagi ini?(Selamat, Mbak. Semalam kamu sudah berhasil membuatku malu. Ah, tidak hanya malu. Tapi kamu juga sukses membuatku kehilangan kesempatan untuk mendapatkan juara satu. Tapi, setelah dipikir-pikir perbuatanmu semalam tidak sepadan dengan kepuasanku. Iya, melihatmu kehilangan segala sesuatu yang selama ini kamu miliki.) Aku hanya mengangkat kedua alis. Sepertinya, semalam Anita tidak bisa tidur dengan tenang. Kemungkinan besar, ia tidak bisa memejamkan mata karena sibuk memikirkan kata-kata yang hendak dikirim padaku pagi ini.(Mbak Icakamu sudah tahu Mas Al menikah lagi. Kenapa sih, nggak mundur saja. Toh, kamu tidak lagi prioritasnya. Kamu bukan lagi dunianya. Kenapa sih nggak mundur aja dari pernikahan kalian?) Aku tersenyum usai membaca pesan tersebut. Senyum
POV Al BirruDunia seolah berhenti berputar.Kata-kata Ica masih bergema di telingaku. Mari kita bercerai!Aku membeku. Kakiku terasa lemas. Tangan yang tadi mengepal kini terkulai di samping tubuh.Dia benar-benar sudah tahu semua. Dan kini siap untuk berpisah.Wajahku pasti pucat pasi. Rasanya, darah ini mengalir lebih lambat, seolah tubuh ini sedang memproses informasi yang baru saja kudengar.Ica menatapku dengan tatapan dingin. Tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Tidak ada lagi cinta dari sorot matanya. "Ca... kamu... kamu bercanda, kan?" Suaraku terdengar serak.Ica tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang sama. Dingin dan tajam.Dia serius. Tidak bercanda. Aku menelan ludah dengan susah payahPanik mulai merayap di dadaku. Jantung ini berdegup kencang. Otakku berputar cepat, mencari cara untuk menyelamatkan situasi."Ca, dengar….” Aku melangkah ke arahnya. Tanganku terulur, ingin menyentuh lengannya.Tapi Ica mundur selangkah. Tanganku mengambang d
“Kirain, kamu masih mau menenangkan Anita dulu, Mas?” Aku yang duduk di sofa langsung berdiri, menyambut Al yang baru membuka pintu.Padahal, Al pulang lebih dulu daripada aku, tapi dia baru sampai setelah tiga jam aku di rumah. Pasti, dia baru saja menghangatkan ranjang Anita terlebih dahulu. Upaya mengobati kekecewaan istri mudanya yang hanya mendapatkan juara harapan 3 setelah aku review Karyanya. “Kamu belum tidur?” Al berjalan ke arahku dengan kikuk. “Gimana aku bisa tidur dengan tenang, kalau suamiku saja menyimpan banyak rahasia.” Aku tersenyum tipis lalu kembali duduk di sofa ruang tamu.Al melepaskan jasnya, berusaha terlihat tenang.“Rahasia apa yang aku sembunyikan?” Ia menatapku sekilas sebelum melepaskan jam yang melingkar di tangannya. “Justru kamu yang menyimpan banyak rahasia, Ca! Bagaimana bisa seorang desainer butik kecil seperti kamu bisa hadir sebagai tamu kehormatan di acara bergengsi itu?” Dia menatapku kembali. Kali ini penuh selidik.Aku tersenyum tipis,







