Share

Topeng Mertua

Author: Farid-ha
last update publish date: 2026-08-22 04:34:24

“Aku tadi dengar Mbak Ica dari mana, seminar?” Anita menoleh ke arahku sambil menyodorkan air mineral dari kardus yang ada di samping sofa.

Aku mengangguk tipis.

“Wah keren ya, Mbak. Meski sudah menikah masih punya kesempatan belajar.” Tatapan Anita penuh kekaguman.

“Zaman sekarang, perempuan itu harus upgrade, Anita. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi, untuk diri sendiri. Soalnya, kalau nggak upgrade diri takutnya nggak bisa apa-apa jika ditinggal pergi pasangannya. Apalagi zaman sekarang itu pelakor nggak tahu diri itu ngeri-ngeri. Mereka tidak bisa diam melihat laki orang lain sukses. Inginnya langsung nempel dan menguasai harta pria tersebut tanpa peduli istri sahnya. Dan lelaki yang sudah ditempeli pelakor itu cepat atau lambat bakal melupakan istri sahnya. Dan aku tidak ingin itu terjadi.” Aku pura-pura bergidik ngeri.

Anita tersenyum kecut. Lalu ia segera menunduk, menyembunyikan wajahnya. Kenapa? Apa merasa tertampar dengan kata-kataku.

“Wanita baik-baik tidak akan pernah ditinggal selingkuh oleh suaminya. Kalau suami menikah lagi, itu artinya ada yang kurang dari istrinya. Mungkin suaminya menginginkan istri yang Sholihah, sementara istrinya selalu mengumbar rambutnya ke mana-mana. Mungkin, suaminya yang ingin istri yang pandai ilmu agamanya. Bukan yang penting sekedar islam.”

Aku kembali mencengkram tas dengan kuat untuk meredam gemuruhnya dada. Semua kata-kata ibu tadi seolah sindiran untukku yang belum mengamalkan ajaran Islam dengan benar.

“Jadi kamu pikir aku bukan wanita baik-baik hanya karena belum berjilbab? Sehingga sengaja kalian hadirkan Anita di antara kami, Bu?” Ingin rasanya aku membantah demikian, tapi rasanya nggak seru kalau langsung kubongkar sekarang. Mereka sudah lama membohongi aku, maka sebaiknya dikuliti secara bertahap.

“Jadi maksud Ibu, Anita juga bukan wanita baik-baik karena suaminya direbut sama pelakor?” Anita mendongak dengan wajah memerah.

“Kalau itu berbeda!” Wajah ibu ikutan memerah. “Bukan Anita yang kurang baik, tapi suaminya aja nggak tahu dirinya.”

Aku tersenyum tipis.

“Nah jadi kesimpulannya, kalau ada pelakor di dalam satu rumah tangga itu belum tentu salah istrinya dong, Bu. Tapi, suaminyalah yang tidak tahu diri. Setuju nggak, Nit?” Aku menoleh ke arah Anita yang membeku di tempat duduknya. Perempuan itu terpaksa mengangguk.

“Karena suami yang baik ketika melihat kekurangan istrinya dia akan berusaha memperbaiki istrinya terlebih dahulu. Akan bicara baik-baik, bukan tiba-tiba menghadirkan wanita lain dalam rumah tangganya untuk mencari kebahagiaan semu. Karena sebenarnya pelakor itu juga belum tentu lebih baik dari istri sahnya, ya kan, Nit?”

Aku tersenyum puas di dalam hati saat melihat wajah Anita yang pias. Kena kamu, Nit.

“Wah … cincin Ibu baru.”

Mata Anita berbinar ketika menatap jari ibu untuk mengalihkan pembicaraan. Ibu hanya terdiam.

“Mbak Ica yang ngasih, Bu?” Anita menoleh ke arahku. Aku mengangguk tipis.

“Iya dikasih sama Ica. Tapi kan pake uangnya Albiru.” Ucapan Ibu membuat senyum di bibirku pudar seketika. Sepertinya perempuan tua ini mau balas dendam atas kata-kata yang menyenggol Anita tadi.

“Ah, gitu. Kirain pake uang Mbak Ica sendiri.” Anita tersenyum tipis, penuh ejekan.

“Iyalah, Nit. Emang Ica punya uang dari mana kalau bukan dari hasil kerja kerasnya Al?”

“Tapi, aku kan juga ikut bekerja, Bu. Mengawasi pekerjaan ketika Mas Al nggak ada di tempat seperti saat ini,” protesku.

Bu Nurmala tersenyum tipis ke arahku.

“Sebagai seorang istri, itu memang tugasmu menggantikan posisi suami di saat tidak ada. Tapi, bukan berarti kamu punya penghasilan sendiri. Semua harta kalian itu milik anakku,” ucap Bu Nurmala dengan nada sinis.

“Bu, yakin semua itu milik Mas Al?” tanyaku untuk memastikan.

“Iyalah punya anakku. Memangnya kamu punya apa? Usaha itu dibangun oleh Al Birru dengan kerja kerasnya sendiri.”

Jawaban Bu Nurmala membuat tanganku mengepal kuat.

Oh, jadi ini yang ada di pikiran Bu Nurmala selama ini? Aku nggak punya andil apa-apa pada usaha anaknya?

“Ada apa ini ribut-ribut?” Mas Al masuk dengan membawa plastik bening berisi gorengan yang masih panas. Pasti sengaja untuk menghilangkan jejak kemesraan mereka tadi.

“Ah, nggak ada apa-apa, Al. Ibu hanya bilang kalau sudah menjadi kewajiban istri membantu usaha suaminya.” Bu Nurmala beranjak dari tempat duduk.

Mas Al menatapku sambil mengerutkan kening. Aku hanya tersenyum tipis sambil mengedikkan bahu. Seolah tidak paham dengan ucapan Ibu.

“Ibu mau istirahat. Kalau kamu masih mau di sini silakan, Ca.” Ibu berjalan ke arah kamarnya dibantu Anita. Padahal, bisa jalan sendiri. Anita pasti ingin kabur dari hadapanku. Takut aku serang kembali mungkin.

Aku membeku menatap punggung perempuan yang lima tahun ini menjadi mertuaku. Ternyata, aku tidak benar-benar mengenalnya. Sebab selama 5 tahun ini dia sudah menggunakan topeng kepalsuan di depanku. Dan bodohnya, aku baru tahu hari ini. Ironis!

Tapi baguslah, dengan kejadian ini aku jadi punya ide untuk menekan anaknya nanti.

“Sayang, aku tadi beli gorengan cireng isi dulu. Jadi maaf ditinggal lama. Kita makan yuk, mumpung masih anget. Ini kan cemilan kesukaan kamu.” Mas Al hendak menarik tanganku. Tapi segera kutarik kembali.

“Mas, sepertinya ibu sudah sehat. Dan di sini juga ada Anita. Gimana kalau kita pulang saja? Jujur, aku keteteran kalau nggak ada kamu. Capek antara ngurus pekerjaan dan ngurus Nadira.”

Mas Al tampak terdiam.

“Terserah sih kamu mau pulang kapan. Kalau kamu nggak mau pulang sekarang juga nggak papa kok. Aku bisa pulang sendiri. Tapi, nggak janji desain baru itu akan kukerjakan secepatnya.”

Mendengar kata desain, Mas Al langsung berubah. Tanpa pikir panjang ia langsung mengatakan oke.

Aku tersenyum tipis. Ternyata segampang itu membuatmu mengangguk di depanku, Mas!

“Kalau gitu, Mas pamit dulu sama Ibu, Sayang.” Aku mengangguk.

Jangankan pamit pada ibumu, Mas. Aku juga akan mengizinkan kamu pamit pada Anita, orang ketiga di antara kita, Mas. Anggap saja sebagai salam perpisahan di antara kalian, sebelum kalian berdua menghadapi kenyataan pahit di depan nanti.

Sambil menunggu Mas Al ke luar dari kamar Ibu, aku makan cireng isi dengan santai. Entah apa yang mereka bahas di dalam sana hingga sudah lebih dari setengah jam, tapi Mas Al belum keluar juga. Apa mungkin ada drama tangisan dari Anita? Atau Ibu sedang ngasih wejangan ke anak sulungnya itu? Ah, entahlah. Aku harus tetap tenang apa pun yang terjadi di dalam sana. Marah hanya akan menghabiskan tenagaku yang tinggal sedikit lagi.

Akhirnya mereka keluar juga setelah aku menunggu lebih dari empat puluh menit.

“Kamu mau pulang, Ca?” Ibu menyapaku dengan suara dibuat setenang mungkin.

Aku mengangguk.

“Maaf, Bu. Anaknya dibawa pulang dulu ya?” Aku pura-pura bercanda.

Ibu terpaksa mengangguk.

“Maaf nggak bisa lama-lama di sini, Bu. Karena aku sudah meninggalkan Nadira lebih dari delapan jam. Dari jam lima pagi aku pergi dari rumah.”

“Iya, bawalah Al pulang. Maaf kalau tadi perkataan ibu menyinggung perasaanmu.”

Aku menatap lekat mata perempuan tua di hadapanku. Mencari ketulusan dari sana. Sayangnya nggak aku temukan. Lagi, hanya topeng kepalsuan. Dia sengaja minta maaf pasti atas permintaan Mas Al.

“Nggak papa, Bu. Aku juga tidak memasukkan kata-kata ibu ke dalam hati. Tapi, langsung ke dalam jantung.” Wajah mereka bertiga langsung tampak tegang.

“Bercanda.” Aku mengikuti backsound yang pernah viral itu untuk memecah ketegangan di antara mereka.

Setelah pamit aku langsung masuk mobil, disusul oleh Mas Al.

“Mas, aku capek banget. Pengen tidur ya.”

Tanpa menunggu persetujuan Mas Al, aku langsung memejamkan mata. Aku pura-pura tidur di samping Mas Al yang mengendarai mobilku. Demi menghindari obrolan dengannya. Saat ini aku tidak ingin berbicara dengan penghianat, aku hanya ingin segera sampai rumah, bertemu dengan Nadira dan mulai menjalankan rencana yang sudah tersusun rapi di kepala.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya    Hitam di Atas Putih

    “Sayang, tolong datang ke kantor hari ini.”Aku mencebik membaca pesan dari Mas Al.“Untuk apa, Mas? Aku ingin istirahat di rumah hari ini.” Pesan balasan terkirim.“Aku butuh desain yang baru secepatnya. Tolong kamu kerjakan dengan segera, Sayang. Kalau bisa hari ini.”Bibirku terangkat tipis.Sudah kebaca apa yang ia inginkan.“Kenapa harus buru-buru? Bukankah baru seminggu yang lalu kita merilis koleksi terakhir?” balasku.“Pasar butuh kesegaran, Sayang. Tim marketing sudah tidak sabar. Tolong ya, demi kemajuan bisnis kita.”Aku tersenyum tipis membaca pesan itu. Demi kemajuan bisnismu, atau demi kelancaran perlombaan Anita?“Baiklah, Mas. Aku akan ke sana setelah Nadira bangun.”Aku mematikan layar ponselku. Niat hati aku ingin istirahat di rumah hari ini, menemani Nadira yang sedang masa pemulihan. Tapi, sebagai istri yang baik, aku harus mentaati perintah suami, bukan?Setelah bermain dengan Nadira sejenak, aku berangkat ke tempat kerja. Sesampainya di kantor, Mas Al langsung

  • Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya    Silakan Ambil

    Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar Nadira. Namun, bocah empat tahun itu sudah tidur pulas, meski sesekali alisnya berkerut dan tangannya meremas selimut. “Tadi Nadira rewel nggak, Mbak?” tanyaku pada suster yang mengurus Nadira. Perempuan yang baru menyelesaikan salatnya itu menoleh ke arahku.“Bagun tidur tadi pagi sempat tantrum cukup lama, Bu. Pengen sama Bunda, katanya. Sempat kasihan mendengar tangisnya yang menyayat. Tapi, mau menghubungi ibu juga nggak tega. Ibu kan sudah membayar seminar lumayan mahal.” Aku tersenyum tipis meski dalam hati ada yang ngilu. Bisa kubayangkan bagaimana sedihnya Nadira ketika bangun tidur sudah tidak menemui bunganya. Terlebih, Nadira masih dalam masa pemulihannya, biasanya anak ini akan bermanja-manja sama ibunya. Tapi, pagi ini berbeda. Aku melangkah pelan ke arah ranjang putriku. Duduk di tepi kasur, lalu mengusap rambut halusnya."Maafkan Bunda, Sayang," bisikku pelan, nyaris tak terdengar. Air mataku menggenang lagi. "Semua

  • Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya    Topeng Mertua

    “Aku tadi dengar Mbak Ica dari mana, seminar?” Anita menoleh ke arahku sambil menyodorkan air mineral dari kardus yang ada di samping sofa. Aku mengangguk tipis. “Wah keren ya, Mbak. Meski sudah menikah masih punya kesempatan belajar.” Tatapan Anita penuh kekaguman.“Zaman sekarang, perempuan itu harus upgrade, Anita. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi, untuk diri sendiri. Soalnya, kalau nggak upgrade diri takutnya nggak bisa apa-apa jika ditinggal pergi pasangannya. Apalagi zaman sekarang itu pelakor nggak tahu diri itu ngeri-ngeri. Mereka tidak bisa diam melihat laki orang lain sukses. Inginnya langsung nempel dan menguasai harta pria tersebut tanpa peduli istri sahnya. Dan lelaki yang sudah ditempeli pelakor itu cepat atau lambat bakal melupakan istri sahnya. Dan aku tidak ingin itu terjadi.” Aku pura-pura bergidik ngeri.Anita tersenyum kecut. Lalu ia segera menunduk, menyembunyikan wajahnya. Kenapa? Apa merasa tertampar dengan kata-kataku.“Wanita baik-baik tidak akan pernah ditingg

  • Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya    Pura-pura Tulus

    “Assalamualaikum!” Aku mengetuk pintu setelah tidak lagi terdengar obrolan dari dalam rumah tersebut. Hening. Tidak ada jawaban. Sekali lagi aku mengetuk pintu, kali ini tanpa salam. “Iya … sebentar.” Suara Anita terdengar dari arah dalam. Aku mengatur napas, berusaha keras untuk tenang. “Mbak Ica?” Suara Anita bergetar. Tubuhnya terlihat menegang. Ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Aku tersenyum manis, seolah tidak terjadi apa-apa. “Kapan Mbak Ica datang?” Anita berusaha keras untuk menguasai keadaan. “Barusan!” Aku memeluk Anita, lalu cipika cipiki seperti biasa, berusaha keras menutupi rasa sakit di dalam hati. “Sayang? Kok ke sini nggak kabar-kabar?” Mas Al berjalan ke arah kami dengan wajah dibuat setenang mungkin. Seolah tidak pernah melakukan kesalahan fatal. Ah, pandai sekali kamu menyembunyikan pengkhianatanmu, Mas! “Lupa kalau aku ada seminar di hotel, Mas?” Aku meraih tangan Mas Al lalu menciumnya dengan takdzim. “Oh iya. Lupa.” Mas Al ter

  • Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya    Kejutan Dari Kejutan

    Bab 1“Alhamdulillah, akhirnya kalian sah menjadi suami istri. Ibu bahagia banget.” Suara Ibu mertua terdengar jelas di balik pintu. Bibirku yang hendak mengucapkan salam terkatup rapat seketika. Aku mematung di depan pintu, mencuri dengar pembicaraan mereka. Sepertinya ada sesuatu yang sengaja mereka rahasiakan. Tapi, kenapa harus dirahasiakan. Memangnya siapa yang menikah?“Anita juga lega, Bu. Akhirnya bisa bersama dengan Mas Al tanpa harus takut dosa lagi.” Tubuhku membeku seketika, seolah baru saja disiram air es seember besar. Kapan mereka menikah? Bukankah mereka itu sepupuan? Jadi, ini alasan Mas Al menginap di rumah ibu beberapa hari. Ternyata bukan untuk merawat ibu, tapi mempersiapkan pernikahan mereka? Tega kamu Mas? Dengan alasan merawat ibu, aku rela ditinggal Mas Al beberapa hari di sini. Di rumah aku sibuk merawat Nadira yang sedang sakit sekaligus mengurus butik seorang diri tanpa mengganggunya. Aku kira itu sebagai baktiku pada mertua. Tapi ternyata kepercaya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status