LOGIN“Aku tadi dengar Mbak Ica dari mana, seminar?” Anita menoleh ke arahku sambil menyodorkan air mineral dari kardus yang ada di samping sofa.
Aku mengangguk tipis. “Wah keren ya, Mbak. Meski sudah menikah masih punya kesempatan belajar.” Tatapan Anita penuh kekaguman. “Zaman sekarang, perempuan itu harus upgrade, Anita. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi, untuk diri sendiri. Soalnya, kalau nggak upgrade diri takutnya nggak bisa apa-apa jika ditinggal pergi pasangannya. Apalagi zaman sekarang itu pelakor nggak tahu diri itu ngeri-ngeri. Mereka tidak bisa diam melihat laki orang lain sukses. Inginnya langsung nempel dan menguasai harta pria tersebut tanpa peduli istri sahnya. Dan lelaki yang sudah ditempeli pelakor itu cepat atau lambat bakal melupakan istri sahnya. Dan aku tidak ingin itu terjadi.” Aku pura-pura bergidik ngeri. Anita tersenyum kecut. Lalu ia segera menunduk, menyembunyikan wajahnya. Kenapa? Apa merasa tertampar dengan kata-kataku. “Wanita baik-baik tidak akan pernah ditinggal selingkuh oleh suaminya. Kalau suami menikah lagi, itu artinya ada yang kurang dari istrinya. Mungkin suaminya menginginkan istri yang Sholihah, sementara istrinya selalu mengumbar rambutnya ke mana-mana. Mungkin, suaminya yang ingin istri yang pandai ilmu agamanya. Bukan yang penting sekedar islam.” Aku kembali mencengkram tas dengan kuat untuk meredam gemuruhnya dada. Semua kata-kata ibu tadi seolah sindiran untukku yang belum mengamalkan ajaran Islam dengan benar. “Jadi kamu pikir aku bukan wanita baik-baik hanya karena belum berjilbab? Sehingga sengaja kalian hadirkan Anita di antara kami, Bu?” Ingin rasanya aku membantah demikian, tapi rasanya nggak seru kalau langsung kubongkar sekarang. Mereka sudah lama membohongi aku, maka sebaiknya dikuliti secara bertahap. “Jadi maksud Ibu, Anita juga bukan wanita baik-baik karena suaminya direbut sama pelakor?” Anita mendongak dengan wajah memerah. “Kalau itu berbeda!” Wajah ibu ikutan memerah. “Bukan Anita yang kurang baik, tapi suaminya aja nggak tahu dirinya.” Aku tersenyum tipis. “Nah jadi kesimpulannya, kalau ada pelakor di dalam satu rumah tangga itu belum tentu salah istrinya dong, Bu. Tapi, suaminyalah yang tidak tahu diri. Setuju nggak, Nit?” Aku menoleh ke arah Anita yang membeku di tempat duduknya. Perempuan itu terpaksa mengangguk. “Karena suami yang baik ketika melihat kekurangan istrinya dia akan berusaha memperbaiki istrinya terlebih dahulu. Akan bicara baik-baik, bukan tiba-tiba menghadirkan wanita lain dalam rumah tangganya untuk mencari kebahagiaan semu. Karena sebenarnya pelakor itu juga belum tentu lebih baik dari istri sahnya, ya kan, Nit?” Aku tersenyum puas di dalam hati saat melihat wajah Anita yang pias. Kena kamu, Nit. “Wah … cincin Ibu baru.” Mata Anita berbinar ketika menatap jari ibu untuk mengalihkan pembicaraan. Ibu hanya terdiam. “Mbak Ica yang ngasih, Bu?” Anita menoleh ke arahku. Aku mengangguk tipis. “Iya dikasih sama Ica. Tapi kan pake uangnya Albiru.” Ucapan Ibu membuat senyum di bibirku pudar seketika. Sepertinya perempuan tua ini mau balas dendam atas kata-kataku yang menyenggol Anita tadi. “Ah, gitu. Kirain pake uang Mbak Ica sendiri.” Anita tersenyum tipis, penuh ejekan. “Iyalah, Nit. Emang Ica punya uang dari mana kalau bukan dari hasil kerja kerasnya Al?” “Tapi, aku kan juga ikut bekerja, Bu. Mengawasi pekerjaan ketika Mas Al nggak ada di tempat seperti saat ini,” protesku. Bu Nurmala tersenyum tipis ke arahku. “Sebagai seorang istri, itu memang tugasmu menggantikan posisi suami di saat tidak ada. Tapi, bukan berarti kamu punya penghasilan sendiri. Semua harta kalian itu milik anakku,” ucap Bu Nurmala dengan nada sinis. “Bu, yakin semua itu milik Mas Al?” tanyaku untuk memastikan. “Iyalah punya anakku. Memangnya kamu punya apa? Usaha itu dibangun oleh Al Birru dengan kerja kerasnya sendiri.” Jawaban Bu Nurmala membuat tanganku mengepal kuat. Oh, jadi ini yang ada di pikiran Bu Nurmala selama ini? Aku nggak punya andil apa-apa pada usaha anaknya? “Ada apa ini ribut-ribut?” Mas Al masuk dengan membawa plastik bening berisi gorengan yang masih panas. Pasti sengaja untuk menghilangkan jejak kemesraan mereka tadi. “Ah, nggak ada apa-apa, Al. Ibu hanya bilang kalau sudah menjadi kewajiban istri membantu usaha suaminya.” Bu Nurmala beranjak dari tempat duduk. Mas Al menatapku sambil mengerutkan kening. Aku hanya tersenyum tipis sambil mengedikkan bahu. Seolah tidak paham dengan ucapan Ibu. “Ibu mau istirahat. Kalau kamu masih mau di sini silakan, Ca.” Ibu berjalan ke arah kamarnya dibantu Anita. Padahal, bisa jalan sendiri. Anita pasti ingin kabur dari hadapanku. Takut aku serang kembali mungkin. Aku membeku menatap punggung perempuan yang lima tahun ini menjadi mertuaku. Ternyata, aku tidak benar-benar mengenalnya. Sebab selama 5 tahun ini dia sudah menggunakan topeng kepalsuan di depanku. Dan bodohnya, aku baru tahu hari ini. Ironis! Tapi baguslah, dengan kejadian ini aku jadi punya ide untuk menekan anaknya nanti. “Sayang, aku tadi beli gorengan cireng isi dulu. Jadi maaf ditinggal lama. Kita makan yuk, mumpung masih anget. Ini kan cemilan kesukaan kamu.” Mas Al hendak menarik tanganku. Tapi segera kutarik kembali. “Mas, sepertinya ibu sudah sehat. Dan di sini juga ada Anita. Gimana kalau kita pulang saja? Jujur, aku keteteran kalau nggak ada kamu. Capek antara ngurus pekerjaan dan ngurus Nadira.” Mas Al tampak terdiam. “Terserah sih kamu mau pulang kapan. Kalau kamu nggak mau pulang sekarang juga nggak papa kok. Aku bisa pulang sendiri. Tapi, nggak janji desain baru itu akan kukerjakan secepatnya.” Mendengar kata desain, Mas Al langsung berubah. Tanpa pikir panjang ia langsung mengatakan oke. Aku tersenyum tipis. Ternyata segampang itu membuatmu mengangguk di depanku, Mas! “Kalau gitu, Mas pamit dulu sama Ibu, Sayang.” Aku mengangguk. Jangankan pamit pada ibumu, Mas. Aku juga akan mengizinkan kamu pamit pada Anita, orang ketiga di antara kita, Mas. Anggap saja sebagai salam perpisahan di antara kalian, sebelum kalian berdua menghadapi kenyataan pahit di depan nanti. Sambil menunggu Mas Al ke luar dari kamar Ibu, aku makan cireng isi dengan santai. Entah apa yang mereka bahas di dalam sana hingga sudah lebih dari setengah jam, tapi Mas Al belum keluar juga. Apa mungkin ada drama tangisan dari Anita? Atau Ibu sedang ngasih wejangan ke anak sulungnya itu? Ah, entahlah. Aku harus tetap tenang apa pun yang terjadi di dalam sana. Marah hanya akan menghabiskan tenagaku yang tinggal sedikit lagi. Akhirnya mereka keluar juga setelah aku menunggu lebih dari empat puluh menit. “Kamu mau pulang, Ca?” Ibu menyapaku dengan suara dibuat setenang mungkin. Aku mengangguk. “Maaf, Bu. Anaknya dibawa pulang dulu ya?” Aku pura-pura bercanda. Ibu terpaksa mengangguk. “Maaf nggak bisa lama-lama di sini, Bu. Karena aku sudah meninggalkan Nadira lebih dari delapan jam. Dari jam lima pagi aku pergi dari rumah.” “Iya, bawalah Al pulang. Maaf kalau tadi perkataan ibu menyinggung perasaanmu.” Aku menatap lekat mata perempuan tua di hadapanku. Mencari ketulusan dari sana. Sayangnya nggak aku temukan. Lagi, hanya topeng kepalsuan. Dia sengaja minta maaf pasti atas permintaan Mas Al. “Nggak papa, Bu. Aku juga tidak memasukkan kata-kata ibu ke dalam hati. Tapi, langsung ke dalam jantung.” Wajah mereka bertiga langsung tampak tegang. “Bercanda.” Aku mengikuti backsound yang pernah viral itu untuk memecah ketegangan di antara mereka. Setelah pamit aku langsung masuk mobil, disusul oleh Mas Al. “Mas, aku capek banget. Pengen tidur ya.” Tanpa menunggu persetujuan Mas Al, aku langsung memejamkan mata. Aku pura-pura tidur di samping Mas Al yang mengendarai mobilku. Demi menghindari obrolan dengannya. Saat ini aku tidak ingin berbicara dengan penghianat, aku hanya ingin segera sampai rumah, bertemu dengan Nadira dan mulai menjalankan rencana yang sudah tersusun rapi di kepala.Setengah sebelas malam, aku bersiap untuk istirahat. "Mama... Mama….” Suara Nadira terdengar lemah. Aku yang sudah di depan pintu kamar Nadira segera menarik handle pintu dengan cepat. “Iya, Sayang. Ini Mama, Nak.” Dengan langkah lebar, aku berjalan menuju ranjangnya. Nadira terbaring di kasur dengan wajah memerah. Napasnya terdengar berat. Tangannya menggenggam boneka kelinci kesayangannya dengan erat.“Ma … Mama ….” Suaranya lirih dan bergetar. Aku meraba keningnya. Ya Allah ….Panas banget. Nadira langsung meraih tanganku, minta dipeluk. Gegas, aku merapatkan tubuh ke arahnya. Memeluknya dengan erat. Lalu mencium keningnya yang hangat dengan lembut. Apa ini gara-gara hujan-hujanan tadi sore ya? Tapi, biasanya aman-aman aja bila Nadira main hujan-hujanan. “Sabar ya, Sayang. Minum obat dulu ya?” Aku menatapnya dengan lembut. “Pahit nggak?” rengeknya.“Nggak terlalu, Sayang. Mau ya, biar cepat sembuh ya, Nak.”“Tapi, Mama jangan pergi setelah ini ya?” “Iya, Sayang. Mama t
POV Al BirruAku menutup telepon dengan tangan gemetar.Maafkan aku, Ca. Tapi ini satu-satunya cara.Aku menatap layar ponsel dengan napas memburu. Orang yang baru saja kutelepon adalah Pengacara Hendra. Pengacara pribadiku. Pengacara yang sudah kukenal sejak lima tahun lalu. Orang yang membantuku mengurus pernikahan siri kami. Beliau, orang yang tahu semua rahasiaku.Dan sekarang, aku butuh dia untuk menyelamatkan diri. Aku duduk di sofa dengan pikiran yang berputar cepat.Hendra adalah pilihan yang tepat. Dia tahu semua tentang situasiku. Paham tentang pernikahan siriku juga tahu tentang aset-asetku. Dan yang paling penting, ia tahu tentang perjanjian pranikah yang membuatku terjebak.Perjanjian yang membuatku tidak bisa menceraikan Ica tanpa kehilangan segalanya.Tapi Hendra juga tahu cara mencari celah. Cara mencari kelemahan. Cara memutarbalikkan keadaan.Itulah kenapa aku memilih dia.Tiga puluh menit kemudian, ponselku bergetar. Notifikasi pesan masuk.Dari Hendra. "Sudah,
POV Al Birru Ponselku bergetar. Notifikasi pesan masuk. Dari Ica. Aku membuka dengan tangan gemetar. Setelah konfrontasi semalam, aku tidak berani menghadapi Ica lagi. Aku masih termenung di ruang tamu di kontrakan Anita. Aku sedang berpikir apa yang harus kulakukan? Namun, begitu membaca pesan dari Ica membuat darahku seolah berhenti mengalir. Screenshot pesan W******p. Dari nomor yang tidak kukenal. Tapi aku tahu itu Anita. Aku tahu gaya bicaranya. Aku tahu cara dia mengeja. Pesan-pesan provokatif. Menghina Ica. Meminta Ica mundur. Mengaku bahwa aku membelikan mobil baru untuk Anita. Dan di bawah screenshot itu, ada pesan dari Ica. "Kendalikan istri sirimu! Jika tidak bisa membereskan dia, jangan salahkan aku kalau mau pesan ini viral di media sosial!" Jantungku berhenti berdetak. Anita. Apa yang ada dalam pikiranmu, kenapa kamu lakukan hal rendaan seperti ini? Aku langsung menelepon Anita. Tapi tidak diangkat. Aku telepon lagi. Tetap tidak diangkat. Perempuan itu izin
Aku sedang menyeduh kopi ketika ponselku bergetar. Notifikasi pesan masuk. Dari nomor baru, tidak dikenal. Aku mengerutkan kening, saat menatap jam di layar handphonenya. Baru pukul 5.30. Siapa yang mengirim pesan sepagi ini?(Selamat, Mbak. Semalam kamu sudah berhasil membuatku malu. Ah, tidak hanya malu. Tapi kamu juga sukses membuatku kehilangan kesempatan untuk mendapatkan juara satu. Tapi, setelah dipikir-pikir perbuatanmu semalam tidak sepadan dengan kepuasanku. Iya, melihatmu kehilangan segala sesuatu yang selama ini kamu miliki.) Aku hanya mengangkat kedua alis. Sepertinya, semalam Anita tidak bisa tidur dengan tenang. Kemungkinan besar, ia tidak bisa memejamkan mata karena sibuk memikirkan kata-kata yang hendak dikirim padaku pagi ini.(Mbak Icakamu sudah tahu Mas Al menikah lagi. Kenapa sih, nggak mundur saja. Toh, kamu tidak lagi prioritasnya. Kamu bukan lagi dunianya. Kenapa sih nggak mundur aja dari pernikahan kalian?) Aku tersenyum usai membaca pesan tersebut. Senyum
POV Al BirruDunia seolah berhenti berputar.Kata-kata Ica masih bergema di telingaku. Mari kita bercerai!Aku membeku. Kakiku terasa lemas. Tangan yang tadi mengepal kini terkulai di samping tubuh.Dia benar-benar sudah tahu semua. Dan kini siap untuk berpisah.Wajahku pasti pucat pasi. Rasanya, darah ini mengalir lebih lambat, seolah tubuh ini sedang memproses informasi yang baru saja kudengar.Ica menatapku dengan tatapan dingin. Tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Tidak ada lagi cinta dari sorot matanya. "Ca... kamu... kamu bercanda, kan?" Suaraku terdengar serak.Ica tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang sama. Dingin dan tajam.Dia serius. Tidak bercanda. Aku menelan ludah dengan susah payahPanik mulai merayap di dadaku. Jantung ini berdegup kencang. Otakku berputar cepat, mencari cara untuk menyelamatkan situasi."Ca, dengar….” Aku melangkah ke arahnya. Tanganku terulur, ingin menyentuh lengannya.Tapi Ica mundur selangkah. Tanganku mengambang d
“Kirain, kamu masih mau menenangkan Anita dulu, Mas?” Aku yang duduk di sofa langsung berdiri, menyambut Al yang baru membuka pintu.Padahal, Al pulang lebih dulu daripada aku, tapi dia baru sampai setelah tiga jam aku di rumah. Pasti, dia baru saja menghangatkan ranjang Anita terlebih dahulu. Upaya mengobati kekecewaan istri mudanya yang hanya mendapatkan juara harapan 3 setelah aku review Karyanya. “Kamu belum tidur?” Al berjalan ke arahku dengan kikuk. “Gimana aku bisa tidur dengan tenang, kalau suamiku saja menyimpan banyak rahasia.” Aku tersenyum tipis lalu kembali duduk di sofa ruang tamu.Al melepaskan jasnya, berusaha terlihat tenang.“Rahasia apa yang aku sembunyikan?” Ia menatapku sekilas sebelum melepaskan jam yang melingkar di tangannya. “Justru kamu yang menyimpan banyak rahasia, Ca! Bagaimana bisa seorang desainer butik kecil seperti kamu bisa hadir sebagai tamu kehormatan di acara bergengsi itu?” Dia menatapku kembali. Kali ini penuh selidik.Aku tersenyum tipis,







