LOGINKetika Suamiku Menikahi Sepupunya Lima tahun lalu, Ica rela diusir dari rumah, meninggalkan agama nenek moyangnya, dan memulai hidup dari nol demi mencintai Al Birru. Ia membangun bisnis suaminya dari garasi kecil hingga menjadi brand muslimah ternama. Semua desain adalah karyanya. Semua kesuksesan adalah hasil keringatnya. Tapi balasannya? Pengkhianatan yang datang dari orang-orang yang dianggap keluarga. Di balik alasan "merawat ibu yang sakit", Al diam-diam menikahi Anita—sepupunya sendiri. Dan yang lebih menyakitkan, seluruh keluarga besar Darmawan tahu dan merestui. Mereka menyalahkan Ica yang "belum sempurna berislam" karena tak berjilbab, padahal tak satu pun dari mereka yang pernah membimbingnya. Alih-alih melabrak dan mengangguk pada suami dan sang madu, Ica justru tersenyum Ketika tahu Anita — istri kedua Al Birru ingin mencuri desainnya untuk perlombaan bergengsi. "Silakan ambil desainku. Tapi siap-siap tanggung akibatnya." Prinsip Ica, bukan dirinya yang harus hancur, tapi para pengkhianat tidak tahu diri itu harus runtuh di tangannya. Bukan untuk balas dendam, melainkan untuk memberi pelajaran yang tidak bisa mereka lupakan.
View More“Sayang, tolong datang ke kantor hari ini.”Aku mencebik membaca pesan dari Mas Al.“Untuk apa, Mas? Aku ingin istirahat di rumah hari ini.” Pesan balasan terkirim.“Aku butuh desain yang baru secepatnya. Tolong kamu kerjakan dengan segera, Sayang. Kalau bisa hari ini.”Bibirku terangkat tipis.Sudah kebaca apa yang ia inginkan.“Kenapa harus buru-buru? Bukankah baru seminggu yang lalu kita merilis koleksi terakhir?” balasku.“Pasar butuh kesegaran, Sayang. Tim marketing sudah tidak sabar. Tolong ya, demi kemajuan bisnis kita.”Aku tersenyum tipis membaca pesan itu. Demi kemajuan bisnismu, atau demi kelancaran perlombaan Anita?“Baiklah, Mas. Aku akan ke sana setelah Nadira bangun.”Aku mematikan layar ponselku. Niat hati aku ingin istirahat di rumah hari ini, menemani Nadira yang sedang masa pemulihan. Tapi, sebagai istri yang baik, aku harus mentaati perintah suami, bukan?Setelah bermain dengan Nadira sejenak, aku berangkat ke tempat kerja. Sesampainya di kantor, Mas Al langsung
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar Nadira. Namun, bocah empat tahun itu sudah tidur pulas, meski sesekali alisnya berkerut dan tangannya meremas selimut. “Tadi Nadira rewel nggak, Mbak?” tanyaku pada suster yang mengurus Nadira. Perempuan yang baru menyelesaikan salatnya itu menoleh ke arahku.“Bagun tidur tadi pagi sempat tantrum cukup lama, Bu. Pengen sama Bunda, katanya. Sempat kasihan mendengar tangisnya yang menyayat. Tapi, mau menghubungi ibu juga nggak tega. Ibu kan sudah membayar seminar lumayan mahal.” Aku tersenyum tipis meski dalam hati ada yang ngilu. Bisa kubayangkan bagaimana sedihnya Nadira ketika bangun tidur sudah tidak menemui bunganya. Terlebih, Nadira masih dalam masa pemulihannya, biasanya anak ini akan bermanja-manja sama ibunya. Tapi, pagi ini berbeda. Aku melangkah pelan ke arah ranjang putriku. Duduk di tepi kasur, lalu mengusap rambut halusnya."Maafkan Bunda, Sayang," bisikku pelan, nyaris tak terdengar. Air mataku menggenang lagi. "Semua
“Aku tadi dengar Mbak Ica dari mana, seminar?” Anita menoleh ke arahku sambil menyodorkan air mineral dari kardus yang ada di samping sofa. Aku mengangguk tipis. “Wah keren ya, Mbak. Meski sudah menikah masih punya kesempatan belajar.” Tatapan Anita penuh kekaguman.“Zaman sekarang, perempuan itu harus upgrade, Anita. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi, untuk diri sendiri. Soalnya, kalau nggak upgrade diri takutnya nggak bisa apa-apa jika ditinggal pergi pasangannya. Apalagi zaman sekarang itu pelakor nggak tahu diri itu ngeri-ngeri. Mereka tidak bisa diam melihat laki orang lain sukses. Inginnya langsung nempel dan menguasai harta pria tersebut tanpa peduli istri sahnya. Dan lelaki yang sudah ditempeli pelakor itu cepat atau lambat bakal melupakan istri sahnya. Dan aku tidak ingin itu terjadi.” Aku pura-pura bergidik ngeri.Anita tersenyum kecut. Lalu ia segera menunduk, menyembunyikan wajahnya. Kenapa? Apa merasa tertampar dengan kata-kataku.“Wanita baik-baik tidak akan pernah ditingg
“Assalamualaikum!” Aku mengetuk pintu setelah tidak lagi terdengar obrolan dari dalam rumah tersebut. Hening. Tidak ada jawaban. Sekali lagi aku mengetuk pintu, kali ini tanpa salam. “Iya … sebentar.” Suara Anita terdengar dari arah dalam. Aku mengatur napas, berusaha keras untuk tenang. “Mbak Ica?” Suara Anita bergetar. Tubuhnya terlihat menegang. Ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Aku tersenyum manis, seolah tidak terjadi apa-apa. “Kapan Mbak Ica datang?” Anita berusaha keras untuk menguasai keadaan. “Barusan!” Aku memeluk Anita, lalu cipika cipiki seperti biasa, berusaha keras menutupi rasa sakit di dalam hati. “Sayang? Kok ke sini nggak kabar-kabar?” Mas Al berjalan ke arah kami dengan wajah dibuat setenang mungkin. Seolah tidak pernah melakukan kesalahan fatal. Ah, pandai sekali kamu menyembunyikan pengkhianatanmu, Mas! “Lupa kalau aku ada seminar di hotel, Mas?” Aku meraih tangan Mas Al lalu menciumnya dengan takdzim. “Oh iya. Lupa.” Mas Al ter












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.