Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya

Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya

last updateLast Updated : 2026-08-31
By:  Farid-haUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya Lima tahun lalu, Ica rela diusir dari rumah, meninggalkan agama nenek moyangnya, dan memulai hidup dari nol demi mencintai Al Birru. Ia membangun bisnis suaminya dari garasi kecil hingga menjadi brand muslimah ternama. Semua desain adalah karyanya. Semua kesuksesan adalah hasil keringatnya. Tapi balasannya? Pengkhianatan yang datang dari orang-orang yang dianggap keluarga. Di balik alasan "merawat ibu yang sakit", Al diam-diam menikahi Anita—sepupunya sendiri. Dan yang lebih menyakitkan, seluruh keluarga besar Darmawan tahu dan merestui. Mereka menyalahkan Ica yang "belum sempurna berislam" karena tak berjilbab, padahal tak satu pun dari mereka yang pernah membimbingnya. Alih-alih  melabrak dan mengangguk pada suami dan sang madu, Ica justru  tersenyum Ketika tahu Anita — istri kedua Al Birru ingin mencuri desainnya untuk perlombaan bergengsi. "Silakan ambil desainku. Tapi siap-siap tanggung akibatnya." Prinsip Ica, bukan dirinya yang harus hancur, tapi para pengkhianat tidak tahu diri itu  harus runtuh di tangannya. Bukan untuk balas dendam, melainkan untuk memberi pelajaran yang tidak bisa mereka lupakan. 

View More

Chapter 1

Kejutan Dari Kejutan

Bab 1

“Alhamdulillah, akhirnya kalian sah menjadi suami istri. Ibu bahagia banget.” Suara Ibu mertua terdengar jelas di balik pintu. Bibirku yang hendak mengucapkan salam terkatup rapat seketika.

Aku mematung di depan pintu, mencuri dengar pembicaraan mereka. Sepertinya ada sesuatu yang sengaja mereka rahasiakan. Tapi, kenapa harus dirahasiakan. Memangnya siapa yang menikah?

“Anita juga lega, Bu. Akhirnya bisa bersama dengan Mas Al tanpa harus takut dosa lagi.”

Tubuhku membeku seketika, seolah baru saja disiram air es seember besar. Kapan mereka menikah? Bukankah mereka itu sepupuan?

Jadi, ini alasan Mas Al menginap di rumah ibu beberapa hari. Ternyata bukan untuk merawat ibu, tapi mempersiapkan pernikahan mereka? Tega kamu Mas?

Dengan alasan merawat ibu, aku rela ditinggal Mas Al beberapa hari di sini. Di rumah aku sibuk merawat Nadira yang sedang sakit sekaligus mengurus butik seorang diri tanpa mengganggunya. Aku kira itu sebagai baktiku pada mertua. Tapi ternyata kepercayaanku dikhianati oleh mereka.

Aku sengaja jauh-jauh datang ke sini untuk memberi kejutan pada Ibu dan Mas Al, tapi justru aku yang dibuat terkejut.

“Tapi, Nit, kamu harus tetap jaga sikap. Jangan sampai Ica tahu kalau kita sudah menikah.”

Allah … rasanya sakit sekali mendengar suara Mas Al. Tidak tersirat penyesalan sedikit pun.

Kakiku rasanya tidak punya tulang, lemas hingga tidak kuat menahan berat badan sendiri. Reflek, aku mencari tembok untuk bersandar. Dadaku rasanya sesak seketika hingga kesulitan bernapas. Hingga tanpa terasa air mata menetes membasahi pipi.

“Tenang aja, Mas. Aku akan bersikap seperti biasa, sebagai sepupumu. Di depan Mbak Ica, aku tidak akan pernah menunjukkan bahwa kita suami istri. Aku pun akan berusaha keras untuk biasa saja jika kalian suap-suapan seperti biasanya. Atau jika kamu melayani Mbak Ica seperti biasanya. Ya, meski mungkin nanti aku akan menelan rasa cemburu seorang diri.”

Suara Anita yang mendayu manja menusuk jantungku. Hingga membuat tanganku bergetar. Perempuan yang kukira tulus menganggapku saudara itu ternyata ahli bersandiwara. Dia sudah mempersiapkan mental jauh-jauh hari sebelum ketahuan sebagai pasangan suami istri.

Tanganku mencengkram pinggiran tembok dengan kuat hingga telapak tangan ini terluka. Beberapa kali dia sempat memergoki kami sedang suap-suapan di ruang makan Ibu. Tapi, kenapa ia juga tega menjadi orang ketiga di antara kami?

Dan kamu, Mas. Kenapa tega mengkhianati aku? Apa salahku? Aku punya anak, tidak pernah menuntut ini itu padamu. Aku mandiri, bahkan juga membantu usahamu. Aku juga selalu berlaku baik pada ibumu. Dan yang paling penting, aku rela meninggalkan agamaku sebelumnya demi kamu, Mas!

“Kalau Ica tahu juga nggak papalah, Al? Biarin aja dia tahu. Toh, cepat atau lambat ia akan tahu juga!” protes perempuan yang tidak pernah aku bantah ucapannya itu begitu menyakitkan.

Iya, aku sangat menghormati dan menyayangi Bu Nurmala, mertuaku. Hingga aku tidak pernah membantah ucapannya. Setiap permintaannya tidak pernah aku tolak. Setiap titahnya selalu aku jalankan. Tapi, apa balasannya? Dia tega memberikan aku madu. Padahal, dia juga seorang ibu.

Aku menahan napas menunggu jawaban Mas Al.

“Bu, Ica itu sudah berkorban banyak untuk kita. Dia juga yang membantu usahaku hingga berkembang seperti sekarang. Selain itu, Ica juga sudah rela menjadi mualaf karena aku. Jadi, rasanya tidak adil kalau tiba-tiba tahu aku menikah lagi, Bu.”

Itu kamu tahu semua pengorbananku, Mas. Tapi, kenapa kamu tetap mengkhianati aku? Apa karena aku belum berjilbab seperti permintaanmu waktu itu? Apa karena aku melahirkan anak perempuan, sedang ibumu sangat menginginkan cucu lelaki?

“Sudah kewajibannya membantu usahamu, Al. Ica kan istrimu. Kalau masalah mualaf, itu kan kemauannya sendiri. Kita tidak pernah memaksa.” Bu Nurmala kembali bersuara, tanpa rasa bersalah sama sekali.

Kalian memang tidak memaksaku. Tapi, kamu memberikan pilihan yang sulit padaku waktu itu, Bu. Kalau aku mau menikahi anakmu maka harus mau memeluk Islam. Bodohnya, aku memilih memeluk Islam meninggalkan keluargaku demi cinta anakmu yang semu, Bu. Dan kamu tahu itu, tapi tetap mengkhianati aku!

Padahal, dulu orang tuaku sudah mengingatkan. Sayangnya aku keras kepala.

“Kamu rela meninggalkan agama nenek moyang kita demi seorang lelaki yang belum tentu setia sama kamu, Ica!” Ucapan ayah lima tahun silam kembali terngiang. Sayangnya, aku yang bebal memilih mempertahankan cinta daripada keluarga dan agama keluargaku.

Wajah keras ayah kembali melintas dalam ingatanku.

Air mataku semakin deras membanjiri pipi ketika teringat suaraku sendiri pada waktu itu.

“Ayah, Bunda, aku sudah besar. Berhak menentukan pilihan hidup. Meski tanpa izin kalian, aku tetap akan masuk Islam dan menikah dengan Mas Al Birru. Dia lelaki yang bertanggung jawab. Mencintaiku tanpa syarat!”

Bunda menatapku dengan pandangan kosong. Tapi, dadanya terlihat naik turun menahan emosi. Ayah sendiri sudah tidak mau menatapku, membuang muka ke arah lain.

“Baiklah kalau itu mau kamu, Ica! Silakan kamu memeluk Islam. Silakan menikah dengan cinta sejatimu itu! Tapi, jangan pernah kembali ke rumah ini. Kita tidak punya ikatan apa pun! Kamu bukan lagi anakku! Aku tidak pernah melahirkan anak pembangkang seperti kamu. Pergilah! Hiduplah sesuai dengan keinginanmu!” Suara ayah yang bergetar waktu itu kembali menyayat hati ini.

Pada saat itu Bu Nurmala juga tahu aku diusir dari rumah orang tua, gara-gara mengikuti anaknya. Tapi, kenapa seolah itu bukan urusan mereka.

Aku tersenyum tipis di dalam tangis. Ternyata, di dalam diri perempuan yang aku kira penuh kasih sayang itu menyimpan kemunafikan yang luar biasa. Dan sialnya, aku baru tahu sekarang?

“Tapi, Bu. Aku mohon jangan beritahu Icha tentang pernikahanku dengan Anita. Biar aku sendiri yang menyampaikan secara pelan-pelan di waktu yang tepat. Kalian jangan ada yang berani mendahului aku. Kalau kalian gegabah, Ica bisa pergi begitu saja. Dan itu merugikan kita.”

Suara Mas Al membuatku menggelengkan kepala kuat-kuat. Air mataku semakin deras.

Mas Al sengaja merahasiakan ini bukan untuk menjaga hati, tapi karena tidak mau rugi atas kepergianku nanti.

“Tega kamu membohongi dan membodohi aku, Mas! Tega kamu!

Kamu tahu, aku diusir dari keluargaku gara-gara memilih hidup bersamamu. Tapi, apa balasanmu? Apa?” Ingin rasanya aku menjerit di depannya. Namun, semua kata-kata itu berhenti di tenggorokan. Aku tidak boleh gegabah. Kalau mereka mau bermain cantik, aku juga tidak boleh kalah.

Aku menyusut air mata dengan kasar lalu tersenyum tipis.

Baiklah, Mas. Akan kuikuti permainan kalian! Dan kita lihat siapa yang akan menang! Dan satu lagi yang harus kamu tahu, pantang bagiku kembali ke keluargaku dengan kekalahan!

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status