ANMELDENKetika Suamiku Menikahi Sepupunya Lima tahun lalu, Ica rela diusir dari rumah, meninggalkan agama nenek moyangnya, dan memulai hidup dari nol demi mencintai Al Birru. Ia membangun bisnis suaminya dari garasi kecil hingga menjadi brand muslimah ternama. Semua desain adalah karyanya. Semua kesuksesan adalah hasil keringatnya. Tapi balasannya? Pengkhianatan yang datang dari orang-orang yang dianggap keluarga. Di balik alasan "merawat ibu yang sakit", Al diam-diam menikahi Anita—sepupunya sendiri. Dan yang lebih menyakitkan, seluruh keluarga besar Darmawan tahu dan merestui. Mereka menyalahkan Ica yang "belum sempurna berislam" karena tak berjilbab, padahal tak satu pun dari mereka yang pernah membimbingnya. Alih-alih melabrak dan mengangguk pada suami dan sang madu, Ica justru tersenyum Ketika tahu Anita — istri kedua Al Birru ingin mencuri desainnya untuk perlombaan bergengsi. "Silakan ambil desainku. Tapi siap-siap tanggung akibatnya." Prinsip Ica, bukan dirinya yang harus hancur, tapi para pengkhianat tidak tahu diri itu harus runtuh di tangannya. Bukan untuk balas dendam, melainkan untuk memberi pelajaran yang tidak bisa mereka lupakan.
Mehr anzeigenPOV AnitaTiga hari yang lalu.Aku menatap piring di depanku yang masih penuh. Nafsu makanku hilang akhir-akhir ini. Sejak Bu Nurmala datang dan menetap di kontrakanku.Padahal, awalnya aku senang sekali ketika Bu Nurmala—yang juga budeku—menghubungi dan bilang akan tinggal bersama di tempatku. Aku pikir, ini kesempatan bagus. Mertua yang sekaligus bude itu pasti akan membantuku menghadapi Ica. Dulu, aku berharap ia akan mendukung rencanaku untuk menjadi istri Al satu-satunya. Tapi nyatanya?Perempuan itu hanya merepotkanku saja!"Anita, tolong buatkan Ibu teh manis hangat ya.""Anita, kamar mandinya kurang bersih. Kamu harus rajin-rajin membersihkan.""Anita, masak nasinya jangan keras-keras. Ibu tidak suka. Ibu lebih suka yang lembek."Itu sederet komplain dari Bu Nurmala. Belum lagi, sifatnya yang suka memerintah dengan paksa. Seolah aku ini ART-nya!Pernah suatu hari, aku yang sedang di kamar mandi diteriaki oleh Bu Nurmala dari ruang makan."Anita, buatkan sup ayam sekarang juga
Aku berusaha tersenyum hangat menyambut kedatangan Bu Nurmala. Meski di dalam hati bertanya-tanya, kenapa ia datang ke sini?Aku melirik arloji di pergelangan tangan ini. Terlalu cepat Ibu sampai di sini jika datang dari kampung halaman. Perempuan setengah umur ini pasti sudah tinggal di rumah Anita terlebih dahulu. “Bagaimana kondisi Nadira? Kenapa bisa sakit?” Bu Nurmala menatapku dengan pandangan menyalahkan. Oh, dia sudah mendapatkan laporan dari anaknya?Aku menarik napas panjang, lalu mengulurkan tangan ke arahnya untuk salaman. Setelah mencium punggung tangannya, aku menatap Bu Nurmala dengan tenang. “Kenapa Nadira sakit? Berarti ia masih manusia, Bu. Kalau malaikat atau jin, dia tidak akan pernah sakit.” Aku menjawab dengan asal.“Kamu! Ditanya orang tua baik-baik kok jawabnya ketus begitu!” Al nimpali dari arah belakang punggungku.Aku mengabaikannya. Lalu mengulas senyum pada ibu. “Kalau ibu mau istirahat, silakan ke kamar tamu. Nadira sedang tidur. Atau, kalau Ibu mau
Bagaimana mungkin Al punya fotoku dengan Darel? Dapat dari mana dia? Apa mungkin lelaki itu mengawasiku? “Jadi, ini alasanmu ngotot ini bercerai, Ca?” Al menatapku dengan tajam. “Supaya kamu bebas menjalin hubungan dengan lelaki ini?” Al maju ke arahku selangkah demi selangkah dengan tatapan yang menghujam.Seketika darahku mendidih melihat gerakan kepala Al Birru. Spontan tanganku mengepalkan dengan kuat. “Jangan samakan aku dengan kamu yang suka selingkuh, Mas!” tegasku dengan dada bergemuruh karena menahan emosi. Aku mundur selangkah demi selangkah. Sayangnya, usahaku untuk menghindari Al sia-sia. Ia berhasil mencengkram pundakku. Al menatapku sambil menyeringai.“Maling mana ada yang ngaku, Ca!” “Kamu, sedang bercermin pada diri sendiri, Mas?” Aku membalasnya dengan senyum geli. “Kamu juga nggak mau mengakui kan awalnya, kalau sudah berselingkuh dengan Anita. Kalian pura-pura hanya sebatas sepupu, padahal sudah bermain gila di belakangku cukup lama, kan?” Al membeku se
Setengah sebelas malam, aku bersiap untuk istirahat. "Mama... Mama….” Suara Nadira terdengar lemah. Aku yang sudah di depan pintu kamar Nadira segera menarik handle pintu dengan cepat. “Iya, Sayang. Ini Mama, Nak.” Dengan langkah lebar, aku berjalan menuju ranjangnya. Nadira terbaring di kasur dengan wajah memerah. Napasnya terdengar berat. Tangannya menggenggam boneka kelinci kesayangannya dengan erat.“Ma … Mama ….” Suaranya lirih dan bergetar. Aku meraba keningnya. Ya Allah ….Panas banget. Nadira langsung meraih tanganku, minta dipeluk. Gegas, aku merapatkan tubuh ke arahnya. Memeluknya dengan erat. Lalu mencium keningnya yang hangat dengan lembut. Apa ini gara-gara hujan-hujanan tadi sore ya? Tapi, biasanya aman-aman aja bila Nadira main hujan-hujanan. “Sabar ya, Sayang. Minum obat dulu ya?” Aku menatapnya dengan lembut. “Pahit nggak?” rengeknya.“Nggak terlalu, Sayang. Mau ya, biar cepat sembuh ya, Nak.”“Tapi, Mama jangan pergi setelah ini ya?” “Iya, Sayang. Mama t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rezensionen