Share

Silakan Ambil

Author: Farid-ha
last update publish date: 2026-08-27 13:36:58

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar Nadira. Namun, bocah empat tahun itu sudah tidur pulas, meski sesekali alisnya berkerut dan tangannya meremas selimut.

“Tadi Nadira rewel nggak, Mbak?” tanyaku pada suster yang mengurus Nadira.

Perempuan yang baru menyelesaikan salatnya itu menoleh ke arahku.

“Bagun tidur tadi pagi sempat tantrum cukup lama, Bu. Pengen sama Bunda, katanya. Sempat kasihan mendengar tangisnya yang menyayat. Tapi, mau menghubungi ibu juga nggak tega. Ibu kan sudah membayar seminar lumayan mahal.”

Aku tersenyum tipis meski dalam hati ada yang ngilu. Bisa kubayangkan bagaimana sedihnya Nadira ketika bangun tidur sudah tidak menemui bundanya. Terlebih, Nadira masih dalam masa pemulihannya, biasanya anak ini akan bermanja-manja sama ibunya. Tapi, pagi ini berbeda.

Aku melangkah pelan ke arah ranjang putriku. Duduk di tepi kasur, lalu mengusap rambut halusnya.

"Maafkan Bunda, Sayang," bisikku pelan, nyaris tak terdengar. Air mataku menggenang lagi. "Semua ini Bunda lakukan demi masa depanmu. Maaf kalau Bunda harus sering meninggalkan kamu, dan membiarkan kamu merasa kesepian."

Aku memeluk tubuh mungilnya erat-erat, menghirup aroma khas tubuhnya.

Setelah puas mencium keningnya, aku membopong Nadira lalu membawa ke kamarku.

Saat masuk ke kamar utama, Mas Al baru saja selesai melepas baju dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Terdengar suara shower menyala.

Aku menghela napas panjang setelah menidurkan Nadira di atas ranjangku. Aku pun bersiap merebahkan diri di samping Nadira. Namun, urung untuk rebahan setelah melihat ponsel Mas Al yang tergeletak sembarangan di atas nakas. Layarnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari W******p.

Tanpa berpikir panjang, aku melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Jantungku berdegup kencang.

Di jendela notifikasi itu tertulis nama grup, Keluarga Besar Darmawan.

Alisku berkerut.

Keluarga besar Darmawan? Sejak kapan ada grup atas nama kakeknya Mas Al dari pihak ibunya? Kenapa aku tidak dimasukkan ke dalam grup tersebut?

Seketika dadaku bergemuruh hebat. Ada apa dengan grup ini? Kenapa suamiku membuat grup keluarga besar tanpa melibatkan aku, istrinya?

Ah, aku tersenyum kecut seketika saat menyadari sesuatu. Jelas, ia tidak ingin aku mengetahui banyak tentang rahasia pernikahannya yang kemungkinan besar sudah diketahui oleh keluarga besar mereka.

Dengan dada yang sesak aku meraih ponsel itu, berniat membukanya. Namun, apesnya benda pipih tersebut kini menggunakan sandi. Sejak kapan Mas Al mengunci layar handphonenya?

Aku meletakkan ponsel itu di tempatnya kembali dengan perasaan hancur. Ternyata sesakit ini mengetahui pengkhianatan suami. Lelaki yang kuperjuangkan cintanya hingga rela meninggalkan keluarga, yang kubantu usahanya, yang kutemani jatuh bangun dalam membangun bisnis, ternyata sanggup membagi cinta dengan perempuan lain, sepupu Mas Al sendiri dari pihak ibunya.

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jebol juga.

“Kenapa kamu menangis, Sayang?” teguran Mas Al membuatku menoleh ke arah pintu kamar mandi.

“Nggak papa, hanya merasa bersalah sama Nadira karena ia harus kehilangan waktu bersamaku. Aku lebih sibuk di depan komputer menyelesaikan desain untuk produksi tokomu ketimbang menemani tumbuh kembang Nadira, Mas.”

Sengaja kutekan setiap kalimat agar ia merasa bersalah dan sadar diri bahwa aku punya andil besar dalam usahanya.

Dia terdiam. Tanpa menunggu jawabannya, aku berlalu pergi ke kamar mandi. Wajahku kubasuh dengan air dingin, mencoba menenangkan detak jantung yang tak beraturan.

******

Malam harinya, saat napas Mas Al sudah terdengar teratur karena terlelap, aku baru bergerak. Dengan tangan gemetar, aku meraih ponselnya. Perlahan, aku mengambil jari telunjuk Mas Al yang sedang memeluk Nadira, lalu aku menempelkan ke sensor sidik jari di layar handphonenya.

Ponsel terbuka. Aku tersenyum tipis.

Aku menahan napas, mengambil ponselku sendiri. Lalu membuka W******p, memilih menu perangkat tertaut, dan memindai kode QR yang muncul di layar ponsel Mas Al.

Hanya butuh beberapa detik, seluruh riwayat percakapan di ponsel Mas Al kini tersinkronisasi ke ponselku.

Dan detik itu juga, aku langsung membuka grup Keluarga Besar Darmawan.

Tubuhku membeku. Jantungku seolah berhenti berdetak.

Layar ponselku dipenuhi oleh ucapan selamat. Puluhan pesan dari paman, bibi, sepupu, hingga kerabat jauh Mas Al, semuanya mengucapkan selamat atas pernikahan Mas Al dan Anita.

"Selamat ya Al, Nit! Akhirnya kalian sah menjadi suami istri!”

Meski aku sudah memprediksikan, keluarga besar mereka tahu semua, tapi rasanya tetap sakit membaca pesan mereka.

"Anita cantik, anggun. Masya Allah, sholehah, lembut. Cocok banget mendampingi Al.”

"Nah, ini baru menantu idaman. Cantik luar dalam, berakhlak baik. Pasti bisnis baju muslimah Al bakal makin berkah kalau dipegang sama Anita."

"Iya lagi. Bisnis baju muslimahmu pasti akan berkembang pesat jika dipegang oleh Anita, Al. Istrimu yang ini jauh lebih pantas mendampingimu. Kalau Ica kan... ya gitu deh, nggak mau pakai jilbab. Nggak mencerminkan istri pengusaha muslim."

Air mataku kembali jatuh. Kali ini menetes ke layar ponsel, mengaburkan tulisan-tulisan kejam itu.

Ternyata mereka hanya manis di luar, tapi menusuk di dalam! Mereka hanya bisa menghakimi tanpa pernah benar-benar mengajari bagaimana ajaran Islam yang sesungguhnya. Mereka hanya bisa menuntut tanpa benar-benar bisa membimbing.

Apa mereka lupa bahwa dakwah itu seharusnya merangkul, bukan memukul? Bukankah seharusnya mereka itu membimbingku dengan sabar, bukan malah diam-diam menikahkan suamiku dengan perempuan lain hanya karena alasan aku belum sempurna berislam?

Mualaf itu bukankah butuh proses, sedang prosesku sendiri tidak benar-benar dibimbing oleh suami. Lelaki yang seharusnya bertanggung jawab penuh dalam menemani aku berproses. Tapi, kenyataan dia hanya menyambut keislamanku dengan penuh euforia hanya di saat aku mengucapkan kalimat syahadat waktu itu.

Padahal, seharusnya ia paham menjadi mualaf itu tidak sesederhana mengucapkan dua kalimat syahadat. Di balik syahadatku, ada air mata yang tumpah. Ada keluarga yang mengusirku. Ada ayah yang membuangku dari rumah!

Mereka tidak pernah tahu betapa beratnya aku mempertahankan iman ini sendirian, sementara kalian yang seharusnya menjadi keluarga baruku, justru menikamku dari belakang! Dan yang lebih menyakitkan lagi, kalian tega memberiku madu beracun.

Tapi ada yang lebih lebih menyakitkan lagi dari semua ini. Tidak ada satu pun pesan pembelaan dari Mas Al. Tidak ada satu pun pesan yang mengatakan, 'Ica juga baik, dia yang menemani aku merintis bisnis ini dari nol. Ia yang mendesain seluruh style yang ada di butikku.

Padahal Mas Al tahu persis. Semua desain baju-baju muslimah yang menjadi tulang punggung bisnisnya adalah karyaku! Aku adalah mantan desainer di garment besar sebelum menjatuhkan harga diriku demi menikahinya.

Sayangnya, di mata mereka, dan di mata suamiku, semua pengorbananku tidak ada artinya.

Aku menatap wajah Mas Al yang sedang tertidur pulas. Rasanya ingin sekali aku menampar wajah tampan itu. Tapi tidak. Itu terlalu mudah. Aku bersumpah, akan membuat kalian semua menyesal.

*****

Keesokan paginya, aku berusaha menyiapkan segala sesuatunya seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa.

"Pagi, Mas. Sarapan dulu yuk, keburu dingin," ucapku dengan suara semanja mungkin begitu melihat Mas Al masuk ke ruang makan.

Mas Al tampak sedikit terkejut, tapi ia tersenyum balik. "Pagi, Sayang. Wah, makasih ya. Kamu memang terbaik."

Aku hanya tersenyum tipis. Terbaik? Itu hanya ucapan di bibirmu saja, Mas!

Setelah Mas Al berangkat ke kantor, aku kembali ke kamar untuk mengambil ponsel. Gegas aku membuka aplikasi W******p di ponselku, lalu memilih menu perangkat tertaut.

Dan di sana, ada pesan pribadi dari Anita yang masuk ke ponsel Mas Al semalam.

(Mas, desain terbarunya dipercepat ya. Aku harus sudah mempelajari itu sebelum perlombaan itu dimulai.)

( Iya, Sayang. Tapi kamu harus sedikit sabar ya. Karena untuk membujuk Ica mempercepat pembuatan desain itu, aku harus mengalah dulu. Menemaninya di rumah sampai beberapa hari. Biar cepat ada di tanganmu desain tersebut.)

Jawaban Mas Al membuat tanganku mengepal erat hingga kuku-kukunya menusuk ke telapak tangan.

Mereka ingin desainku? Mereka ingin menggunakan karyaku untuk perlombaan Anita?

Aku tersenyum tipis, Silakan kalian ambil desainku, tapi tanggung sendiri akibatnya!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya    Bab 21

    POV Anita. Aku tersenyum simpul saat masuk ke dalam mobil baru. Ya, meski tidak benar-benar baru, tapi ini setidaknya kendaraan yang dibeli Bude Nurmala yang kini resmi menjadi mertuaku. Bahkan, kendaraan ini atas namaku sendiri.Hal yang tidak pernah disangka oleh Ica.Aku mengelus dashboard mobil dengan lembut, seolah sedang menyentuh harta paling berharga. STNK yang tergeletak di depan mata itu bertuliskan namaku. Anita Al Birru. Aku jadi punya ide. Sepertinya asyik kalau ngerjain Ica."Kamu lagi ngelamun apa, Sayang?" Suara Mas Al membuatku menoleh ke arahnya.Aku bergelayut manja di pundaknya, sementara ia yang sedang fokus menyetir ke arah jalan, sesekali menoleh ke arahku."Terima kasih banyak, Sayang. Akhirnya aku bisa punya mobil sendiri.""Jangan terima kasih padaku, tapi pada Ibu yang selalu menyayangi kamu, Sayang." Mas Al tersenyum manis."Itu sudah pasti, Mas. Aku bersyukur banget punya mertua yang sangat menyayangi bahkan menganggapku anak sendiri."Mas Al mengangguk.

  • Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya    Bab 20

    “Apa yang bisa aku bantu, Mbak?” Sepupu Al menjawab suara berat tapi antusias, di ujung sana."Rio, tolong cek dari mana sumber keuangan Mas Al hingga bisa membeli mobil cash hanya dengan menggesek ATM.”“Bukankah suami Mbak Ica itu pengusaha fashion yang cukup sukses.” Rio tertawa kecil.“Tidak sesukses yang kamu pikir.” Aku ikut tertawa. “Sepengetahuanku, seluruh sumber keuangannya sudah aku pegang. Bahkan, gajinya hanya sepuluh juta per bulan. Jadi, dari mana dia dapat uang sebanyak itu?""Siap, Mbak Ica. Aku akan cari tahu."Aku menutup telepon dengan napas yang tertahan. Rio adalah sepupu Al dari jalur ayahnya. Tapi, aku tidak segan meminta bantuannya untuk menyelidiki lelaki yang masih bergelar suamiku. Karena Rio punya dendam tersendiri pada Al. Rio baru pulang dari Jepang, sebagai TKI. Tiga hari lalu, kami bertemu secara tidak sengaja di mall. Tiga hari lalu, aku yang baru selesai berbelanja bersama Nadira di pusat kota berjalan menuju food court di lantai dua. Mataku m

  • Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya    Bab 19

    "Ini apa, kenapa kamu kasih aku ponsel jadul ini?" Al menelisik gawai hitam yang kini ada di tangannya. Ibu jarinya mengusap-usap layar kecil ponsel itu dengan bingung. Al tidak menyangka, singgahnya ke kediaman Anita kali ini justru diberi ponsel jadul. "Ini alat untuk komunikasi kita saat ini." Anita bersandar di sofa, kaki kanannya disilangkan di atas kaki kiri. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Senyum yang tidak mencapai matanya.Al mengerutkan kening mendengar suara Anita. Ia memutar-mutar ponsel itu di tangannya, lalu melemparkannya ke pangkuan sendiri dengan kesal."Hai, ini sudah zaman modern, kita punya alat komunikasi yang canggih. Kenapa kamu justru ingin mundur ke belasan tahun silam?" tangannya menggelepar di udara.Anita tertawa kecil. Ia mencondongkan tubuh ke depan, siku tangannya bertumpu di lutut."Justru yang canggih itu rawan disadap, Mas. Apa kamu nggak merasa aneh dengan Ica akhir-akhir ini?"Al terdiam sejenak. Jemarinya yang tadinya gelisah kini berhenti

  • Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya    Bab 18

    “Gimana, Mbak? Kapan Mas Al akan mengantarkan mobilnya ke sini, Mbak?” Devi menatapku dengan penuh harap.Aku menggeleng. Devi mengerutkan kening. “Mas Al bilang mobilnya belum selesai, masih ada beberapa hal lagi yang harus dibereskan.”“Dan kamu percaya begitu saja, Mbak?”Devi menatapku dengan wajah serius.Aku tersenyum tipis sambil menggeleng.“Kakakmu tidak sebodoh itu, Dev! Belum selesai itu hanya alasan Mas Al. Masalah yang sesungguhnya adalah dia tidak berani melawan Ica, istrinya yang sok berkuasa itu.” Mahasiswi semester empat itu menjentikkan jarinya. “Aku percaya, Mbakku tidak senaif itu.” “Kalau aku senaif yang kamu bayangkan, tidak mungkin ada benda itu, Devi!” Jari telunjukku mengarah pada ponsel jadul yang tergeletak di atas meja makan kami. “Tapi, kenapa kemarin waktu dipermalukan di depan umum. Kelihatan seperti ayam takutnya?”“Karena aku hanya pura-pura, tapi tenang bukan karena lemah hanya sedang mencari celah. Devi manggut-manggut sambil mengangkat k

  • Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya    Bab 17

    Aku menghempaskan tubuh ke kursi sofa ruang tengah dengan kasar. Kepalaku penat. Sekali lagi, penat.Sejak pagi tadi, aku berhadapan dengan Ica yang seperti orang gila. Tiba-tiba melarang membawa mobil. Tiba-tiba main rental mobil. Bahkan mengancam akan menghentikan desain terbaru. Yang lebih parah lagi, mengancam akan bekerja di perusahaan orang lain hanya gara-gara aku melarangnya mengambil mobil SUV yang akan kuberikan pada Anita. Entah kenapa, makin ke sini gaya bicara Ica seolah-olah sedang memegang kendali atas hidupku. Padahal, aku suaminya. Kepala keluarganya. Pemilik butik Alica. Tapi kenapa hari ini aku merasa seperti tikus yang terjebak?Ponselku bergetar di saku celana. Nama Anita tertera di layar. Aku menghela napas panjang sebelum mengangkatnya."Halo, Sayang," jawabku, berusaha terdengar ceria."Mas, gimana mobilnya? Aku sudah nggak sabar mau latihan nyetir." Suara Anita terdengar riang di seberang sana.Aku menelan ludah. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasany

  • Ketika Suamiku Menikahi Sepupunya    Bab 16

    “Hari ini aku butuh mobil, Mas. Kamu bawa motor aja,” ucap sebelum Mas Al melangkah meninggalkan kamar.Dia yang hendak menarik handle pintu kamar berhenti.“Kenapa, mau ke mana kamu? Kamu saja yang naik motor. Aku butuh mobil hari ini. Kalau nggak mau bawa motor, nggak usah pergi. Aku menarik napas dalam-dalam sambil mengepalkan tangan. Mata ini menatap punggungnya yang membelakangiku dengan darah yang mendidih. Sepagi ini sudah dibuat emosi oleh orang yang tidak tahu diri. “Aku ada perlu, perginya ngajak Nadira. Lagian, kenapa nggak kamu sendiri yang naik motor? Mobil itu milikku, kamu cuman pinjem, Mas. Tapi, kenapa kamu jadikan aku seperti pengemis? Padahal mobil itu aku beli sebelum menikah dan menggunakan uangku sendiri.” Dia membalikkan badan, menatapku dengan tajam. “Kenapa kamu seperhitungan itu padaku, Ca? Kenapa?” Suaranya naik beberapa oktaf. Karena kamu, tidak layak diberikan apa pun lagi dari aku, Mas. “Terserah kamu mau beranggapan apa, Mas, yang pasti aku mema

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status