LOGINYura sangat terkejut ketika orang-orang yang menyaksikan kecelakaan itu langsung meringkusnya. Sementara beberapa warga lain berusaha mengevakuasi korban dari dalam mobil.
“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!” Yura memberontak sekuat tenaga. Dua orang pria paruh baya menahan kedua lengannya seperti sedang menangkap seorang penjahat.
“Jangan melawan! Kamu sudah membahayakan nyawa orang lain.”
“Aku hanya ingin menolongnya.”
“Menolong apanya? Kamu yang membuat dia celaka!”
Beberapa warga yang sebelumnya duduk di warung menganggap Yura sudah kehilangan akal sehat. Sebelum kecelakaan terjadi, mereka melihat Yura berjalan sempoyongan sambil menangis dan berbicara sendiri. Tak lama kemudian, perempuan itu berdiri di tengah jalan dengan kedua tangan terentang.
“Pak, tolong lepaskan saya. Saya akan bertanggung jawab.”
“Rumahmu di mana?”
“Saya tidak punya rumah.”
Yura tidak sanggup mengakui tempat tinggalnya. Ia terlalu malu jika keluarganya tahu bahwa dirinya baru saja mencoba mengakhiri hidup.
“Geledah saja tasnya. Kalau perlu, kita laporkan ke polisi.”
“Jangan, Pak!” Panik, Yura berusaha melepaskan diri. “Tolong jangan laporkan saya.”
Salah satu pria itu merampas tas Yura, lalu mengambil dompet dan ponselnya.
“Nama keluargamu siapa?”
Yura menggelengkan kepala. Ia tidak ingin siapa pun menghubungi keluarganya, tetapi tidak memiliki pilihan lain.
***
“Kenapa kamu sampai nekat melakukan hal seperti itu, Nak?” Hadi menatap Yura dengan kecewa sekaligus iba. “Apa karena Malik menikahi Amira?”
Yura menunduk.
“Kalau kamu bilang sejak awal bahwa kamu keberatan, Paman bisa membatalkan pernikahan itu. Tidak perlu ada yang menikah.”
Apa kalian pernah memberiku pilihan? batin Yura getir. Kalian semua terus mendesakku, seolah perasaanku tidak pernah penting.
Yura tidak menjawab. Tidak ada gunanya menjelaskan luka kepada orang-orang yang sejak awal hanya ingin mendengar kesalahan dirinya.
“Besok kita masih harus membicarakan masalah ini,” lanjut Hadi.
“Aku capek. Aku mau istirahat.” Yura segera bangkit dan masuk ke kamarnya. Namun, baru saja pintu tertutup, ia melihat Amira duduk di tepi ranjang.
“Mengapa kamu di sini?” tanya Yura datar.
Amira berdiri. “Aku tahu kamu cuma pura-pura bunuh diri untuk mencari simpati Mas Malik, tapi sekarang dia suamiku. Dia milikku. Jangan pernah berpikir untuk merebutnya dariku.”
Yura menatap adiknya tanpa ekspresi. “Aku tidak tertarik pada barang bekas, apalagi sampah seperti suamimu,” balas Yura dengan nada sarkas.
Wajah Amira memerah. “Kamu yang sampah! Mas Malik sudah membuangmu. Seharusnya kamu sadar diri. Kamu kumuh, makanya dia memilihku.”
“Sampah memang pantas dibuang ke tempat sampah.”
“Jangan bicara sembarangan tentang Mas Malik!” Amira menunjuk wajah Yura. “Kalau tidak, akan kurusak mulutmu.”
Untuk pertama kalinya, Yura tidak mundur. Ia mengambil gunting di atas meja rias, lalu menodongkannya ke arah Amira.
Amira panik dan langsung mundur beberapa langkah. Yura tersenyum kecil, lalu menggunting sisa undangan pernikahan yang batal.
Potongan-potongan kertas itu jatuh ke lantai seperti serpihan hidupnya yang selama ini dipaksakan untuk tetap utuh.
“Keluar dari kamarku sebelum kesabaranku habis.”
Amira terdiam. Ia tidak pernah melihat Yura menatapnya seperti itu. Ketika Yura melangkah maju, Amira mundur dan segera berlari keluar.
Setelah pintu tertutup, Yura duduk di tepi ranjang. Ada rasa lega yang singkat, tetapi rasa bersalah segera kembali menghimpitnya. Ia belum sempat melihat wajah pria yang ditabraknya. Orang-orang sudah lebih dulu menahannya.
Beberapa saat kemudian, terdengar isak tangis dari kamar sebelah. Yura menempelkan telinga ke dinding.
“Kenapa kamu menangis, Sayang?” suara Malik terdengar lembut.
“Kak Yura mengancamku, dia menodongku dengan gunting.” Amira terisak. “Dia bilang akan menusukku kalau aku tidak meninggalkanmu. Aku takut, Mas.”
Malik terdiam sejenak. “Kamu yakin Yura benar-benar berkata begitu?”
“Kamu tidak percaya padaku?”
“Tentu aku percaya.”
Amira kembali menangis. “Kak Yura selalu merebut semua yang kumiliki. Perhatian Ayah, kasih sayang Mas Hirka, bahkan sekarang kamu. Dia juga yang memfitnahku sampai Mas Hirka membatalkan pertunangan kami.”
“Kamu tidak perlu takut. Aku bukan Hirka.” Suara Malik terdengar penuh keyakinan. “Aku akan selalu setia kepadamu.”
Yura mengepalkan tangan. Jadi, selama ini Amira yang menghasut Malik? Apakah semua kebohongan itu yang membuat pria itu meninggalkannya?
Untuk pertama kalinya, Yura mulai meragukan kisah yang selama ini dipercayainya.
***
Di rumah sakit, seorang perempuan cantik berlari menuju ruang dokter. Wajahnya pucat dan napasnya tersengal.
“Dokter, bagaimana keadaan Adrian?” tanya Soraya.
Dokter Rian, sahabat Adrian Fernandes, menatap Soraya dengan berat hati. “Dia masih koma. Untuk sementara, belum boleh dijenguk.”
“Apakah dia akan sadar?”
“Kami belum bisa memastikan.”
Soraya menggenggam ujung bajunya. Lima hari lagi, ia dan Adrian seharusnya melangsungkan pernikahan. Ia masih berharap kecelakaan itu hanya akan menunda rencana mereka beberapa hari.
Namun, dokter Rian melanjutkan dengan suara pelan, “Kakinya juga mengalami cedera berat.”
“Tapi, dia masih bisa sembuh, kan?” Soraya bertanya cepat. “Dia masih bisa berjalan?”
Dokter Rian menggeleng. “Kakinya lumpuh permanen.”
Bahu Soraya langsung terkulai. Ia menatap pintu ruang perawatan dengan mata berkaca-kaca. Pria sempurna yang lima hari lagi akan menjadi suaminya kini terbaring tak berdaya, dengan masa depan yang tidak lagi sama.
***
“Pokoknya, aku tidak mau menikah dengan Adrian!”
Suara Soraya menggema di seluruh ruang keluarga. Wajah cantiknya memerah karena emosi. Sejak tadi ia terus berdebat dengan kedua orang tuanya yang tak henti-hentinya memaksanya untuk tetap melangsungkan pernikahan.
Abram menghela napas panjang. Ia benar-benar tidak ingin membatalkan pernikahan putrinya dengan Adrian Fernandez, pewaris salah satu perusahaan terbesar di dunia.
Apalagi Aray Fernandez bukanlah pria yang mudah memaafkan. Sekali seseorang menyakiti keluarganya, pria itu tidak akan pernah melupakannya.
“Bukankah dulu kamu sendiri yang mati-matian ingin menikah dengan Adrian?” tanya Abram dengan suara tertahan. “Kamu mengejarnya selama bertahun-tahun. Sekarang, setelah pernikahan tinggal menghitung hari, kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran? Apa yang akan dikatakan keluarga Fernandez?”
Soraya tertawa sinis. “Itu dulu, Pa! Sekarang semuanya sudah berubah.”
Ia mengibaskan rambutnya dengan kasar. “Adrian yang dulu sempurna. Tampan, sukses, dan punya masa depan cerah. Tapi sekarang?”
Soraya menunjuk ke arah pintu dengan tatapan jijik. “Dia lumpuh permanen!”
Lea yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. “Jangan bicara seperti itu tentang calon suamimu.”
“Aku tidak peduli!” Soraya berteriak.
“Aku tidak mau menghabiskan hidupku bersama pria cacat!”
Kedua orang tuanya terdiam.
Soraya menarik napas kasar, lalu melanjutkan dengan suara bergetar. “Apa kata orang-orang nanti? Soraya, seorang supermodel terkenal, menikah dengan pria lumpuh? Aku akan menjadi bahan tertawaan! Aku malu, Pa. Aku malu!”
Abram mengepalkan tangannya. “Tapi pernikahan itu sudah dipersiapkan. Tinggal beberapa hari lagi. Kalau kita membatalkannya, Aray Fernandez bisa menarik seluruh investasinya dari perusahaan keluarga kita.”
Ia menatap putrinya penuh tekanan. “Kamu tahu sendiri apa artinya itu.”
“Aku tidak peduli!” Soraya membentak.
“Persetan dengan perusahaan itu! Aku juga tidak peduli dengan kekayaan keluarga Fernandez. Aku tidak akan menikah dengan orang lumpuh!”
Ia meraih benda-benda di atas meja lalu melemparkannya satu per satu hingga pecah berantakan.
Lea segera berdiri. “Soraya, tenangkan dirimu.”
Namun, Soraya justru mengambil sebilah pisau buah dari atas meja. Dalam sekejap, ujung pisau itu sudah menempel di pergelangan tangannya.
“Soraya!”
Abram dan Lea sontak panik.
“Apa yang kamu lakukan?!”
Air mata mulai mengalir di pipi Soraya. “Kalau kalian tetap memaksaku menikah dengan Adrian, lebih baik aku mati!”
Tangannya semakin menekan pisau ke kulit. “Kalian harus memilih. Pernikahan itu atau kehilangan aku.”
***
Rumah sakit. Suasana di ruang rawat VIP terasa begitu mencekam.
Adrian masih terbaring tak berdaya di atas ranjang. Salah satu kakinya terpasang gips, sementara sebagian wajahnya masih tertutup perban akibat kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.
Jeni duduk di samping ranjang sambil menangis.
“Anakku harus sembuh.” Tangannya menggenggam jemari Adrian yang dingin.
“Cari dokter terbaik. Kalau perlu, bawa Adrian ke luar negeri. Jangan biarkan anakku seperti ini.”
“Tenang, Tante.” Dokter Rian berdiri di sampingnya.
“Saya sudah meminta dokter spesialis saraf terbaik untuk menangani Adrian. Fasilitas di rumah sakit ini juga sangat lengkap. Untuk sementara, lebih baik Adrian dirawat di sini karena kondisinya belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh.”
Belum sempat Jeni menjawab, suara ponsel terdengar dari saku celana Aray.
Aray mengangkatnya. “Ada apa?”
Suara Abram terdengar dari seberang. “Aray, sebelumnya aku minta maaf.”
Nada suara itu membuat alis Aray berkerut. “Apa maksudmu?”
“Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan Soraya dan Adrian.”
“Apa?” Tatapan Aray langsung berubah tajam.
“Pernikahan itu harus dibatalkan.”
“Jangan bercanda, Abram.” Nada suara Aray terdengar dingin. “Pernikahan tinggal beberapa hari lagi. Kau tidak bisa seenaknya membatalkannya.”
“Aku juga tidak menginginkan ini.” Abram terdengar putus asa. “Tapi Soraya mengancam akan bunuh diri jika aku tetap memaksanya menikah dengan Adrian.”
Hening. Aray menatap Adrian yang terbaring tak berdaya.
Putranya sedang menghadapi masa paling sulit dalam hidupnya dan tepat ketika Adrian membutuhkan seseorang untuk berdiri di sisinya, wanita yang selama ini dicintainya justru memilih pergi.
“Baik.” Suara Aray terdengar sangat tenang. Terlalu tenang. “Tapi ingat satu hal, Abram.”
“Apa?”
“Kau akan menanggung akibat dari keputusan ini.”
Klik.
Aray memutuskan sambungan.
Jeni segera menatap suaminya. “Kenapa?”
Aray diam beberapa detik. “Pernikahan batal.”
“Apa?” Wajah Jeni langsung pucat.
Ia menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. “Bagaimana mungkin mereka melakukan ini pada Adrian?”
Aray tidak menjawab. Tatapannya justru beralih kepada Dokter Rian.
“Rian.”
“Iya, Om?”
“Siapa yang menyebabkan kecelakaan Adrian?”
Dokter Rian terdiam sejenak. “Seorang wanita muda. Usianya dua puluh satu tahun.”
Aray mengernyit. “Siapa namanya?”
“Yura Malayeka.”
Tubuh Aray seketika menegang. “...Yura Malayeka?”
“Iya, Om.”
Wajah Aray yang semula penuh amarah perlahan kehilangan warna. “Siapa nama kedua orang tuanya?”
Dokter Rian tampak heran. “Andi Bagaskara dan Alma Wijayanti.”
Tangan Aray mendadak gemetar. “Mereka...”
“Mereka sudah meninggal saat Yura masih berusia delapan tahun.”
Ponsel di tangan Aray terlepas.
Bruk!
Benda itu jatuh ke lantai.
Ingatan tiga belas tahun lalu tiba-tiba kembali menghantam pikirannya. Wajah seorang gadis kecil, tangisan, dua jasad, dan sebuah rahasia yang selama ini ia kubur begitu dalam.
Dunia ternyata benar-benar sempit. Terlalu sempit hingga masa lalu kembali mengetuk pintunya melalui orang yang sama.
“Bawa Yura kepadaku.”
Suara Aray terdengar berat.
“Sekarang.”
Damian sedang berbicara dengan Sebastian mengenai perusahaan ketika ponselnya bergetar di atas meja. Ia melihat layar, ada nomor tidak dikenal menghubunginya. Damian mengangkat tangan, memberi isyarat agar Sebastian diam."Hallo.""Mr. Damian, saya Adrian pemilik perusahaan xxx.""Ada perlu apa anda menghubungi saya?""Saya menghubungi anda bukan untuk menuduh anda mencuri data perusahaan saya.”"Apa maksud anda?" Damian langsung tersinggung dengan perkataan Adrian.“Orang yang bekerja untuk anda terlibat dalam pencurian data perusahaan saya.”“Kalau begitu, berikan aku buktinya.” Damian terkejut hingga wajahnya memerah karena ini bukan tuduhan kecil.“Saya tidak akan meminta anda bertanggung jawab atas tindakan setiap bawahan anda, tapi saya akan meminta anda bertanggung jawab atas apa yang terjadi setelah saya menunjukkan bukti.”“Kalau memang orang saya terlibat, laporkan kepada polisi.”“Saya bisa melakukan itu.”“Lalu kenapa masih menghubungi saya?”“Karena saya ingin memberi And
Yura berdiri mematung, matanya tidak lepas dari pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.“Bukan.” Yura menggeleng.“Yura, aku Adrian.” Adrian menatap Yura dengan intens.“Kamu bukan Pak Adrian. Pak Adrian sedang di luar negeri untuk terapi. Dia tidak bisa berjalan. Jadi jangan bilang kamu Adrian hanya untuk menutupi kesalahanmu.” Yura menatap kedua kaki pria itu berdiri tegak di lantai. Yura berpikir Andreas sedang menipunya agar bisa lari dari kesalahannya.“Aku memang Adrian.”“Tidak!” Suara Yura meninggi. “Jangan bohong lagi kepadaku!”Adrian menghela napas panjang. “Aku tidak bohong. Kamu ingat saat pertama kali aku berdiri di hadapanmu, kamu bilang aroma parfumku sama dengan aroma parfum Adrian, itu karena aku memang Adrian.”Adrian kemudian menceritakan semuanya. Tentang kondisinya yang perlahan membaik, tentang terapi yang dijalaninya, tentang pemeriksaan lanjutan, tentang bagaimana ia sebenarnya sudah mampu berdiri dan berjalan dalam jarak tertentu, tapi memilih menye
"Aku sudah terlalu lama berada dalam pernikahan yang sebenarnya tidak pernah terasa seperti pernikahan.”Pernyataan Yura membuat hati Adrian semakin kacau, dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menghimpitnya. Ia sudah menduga cepat atau lambat, Yura tetap akan meminta cerai darinya, tapi Adrian tidak menyangka mendengar langsung dari bibir Yura rasanya akan sesakit ini. Yura ingin bercerai darinya. Ironisnya, selama ini Adrian sendiri yang membuat Yura sampai pada keputusan itu. Dan sekarang, ketika Yura akhirnya memutuskan untuk melepaskan pernikahan mereka, Adrian justru merasa dunia sedang runtuh di bawah kakinya.“Tidak,” ucap Adrian pelan.“Apa?” Yura mengerutkan kening.“Jangan bercerai.” Satu kata itu keluar begitu saja, karena Adrian masih belum siap untuk bercerai.“Pak Andreas?” Yura menatapnya bingung. Adrian bangkit dari sofa. “Apa kamu tidak bisa memberinya kesempatan.”Yura terdiam beberapa detik, lalu menghela napas. "Aku sudah memikirkan ini sejak lama, dan
Adrian membeku. Yura menyentuh bibirnya sendiri, seolah ingin memastikan bahwa hal itu benar-benar terjadi.“Pak Andreas, kenapa?” ..” Suara Yura bergetar. “Adrian tidak langsung menjawab, mereka berdua saling menatap, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.Adrian bisa melihat jelas keterkejutan di mata Yura. Bukan hanya karena ciuman itu, tetapi karena wanita itu tidak mengerti mengapa seorang pria yang selama ini ia anggap sebagai saudara iparnya tiba-tiba melakukan hal seperti itu.“Aku...” Adrian menelan ludah. “Maaf.”“Kenapa kamu menciumku?” Yura mundur satu langkah.Adrian bingung, posisinya saat ini membuatnya menjadi serba salah. Ingin sekali Adrian mengungkapkan perasaannya.Karena aku merindukanmu, Yura. Selama tiga minggu aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, aku marah melihatmu bersama Raka.Semua jawaban itu berdesakan di kepalanya, tetapi tidak satu pun bisa ia ucapkan.“Aku kehilangan kendali,” jawab Adrian pada akhirnya.“Kehilangan kendali?” Yura menatap Adri
Adrian baru saja kembali ke Indonesia setelah tiga minggu berada di luar negeri. Begitu mobil memasuki jalan utama, ia menatap ke luar jendela.“Antarkan aku ke toko buku.”“Ke toko buku, Pak?” Sopirnya melirik melalui kaca spion.“Ya.”Adrian ingin melihat tempat Yura bekerja sebelum pulang. Ia sendiri tidak tahu mengapa keinginan itu terasa begitu penting. Setelah tiga minggu tidak bertemu, rasanya melihat Yura dari jauh saja sudah cukup.Tatapannya beralih pada beberapa paper bag yang terletak di sampingnya. Isinya oleh-oleh yang ia pilih selama berada di luar negeri. Entah kenapa, setiap kali melihat sesuatu yang menurutnya akan disukai Yura, ia selalu membelinya.Tiga minggu tidak bertemu perempuan itu membuat Adrian menyadari sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan. Ia selalu memikirkan Yura.Namun, sebelum mobil sampai di toko buku, Adrian melihat sebuah motor melaju tidak jauh di depan mereka. Yura duduk di jok belakang, pria yang mengendarai motor itu adalah Raka. Adrian
Ruang presentasi dipenuhi jajaran direksi, investor, dan beberapa perwakilan perusahaan yang akan menentukan pemenang tender.Adrian duduk di barisan depan bersama timnya. Di atas meja terdapat proposal produk yang sudah mereka persiapkan selama berbulan-bulan.Presentasi dari tim Adrian berjalan lancar. Satu demi satu keunggulan produk dijelaskan. Setelah hampir tiga puluh menit, Adrian berdiri di depan layar."Produk yang kami tawarkan memiliki tiga keunggulan utama. Pertama, efisiensi penggunaan energi. Kedua, sistem keamanan yang terintegrasi dan yang ketiga..."Tim dari Adrian menjelaskan bagian terakhir dengan penuh percaya diri. Konsep tersebut merupakan ide baru yang ia kembangkan bersama timnya, bahkan belum pernah dipublikasikan.Setelah presentasi selesai, Adrian menatap layar sambil menunggu perusahaan pesaing melakukan presentasi. Beberapa menit kemudian, perusahaan pesaing mulai memaparkan produknya. Pesaing itu sedang menjelaskan sebuah fitur yang sama persis dengan ide







