Share

RAHASIA MASA LALU

Author: Pendosa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-23 13:08:00

Yura sangat terkejut ketika orang-orang yang menyaksikan kecelakaan itu langsung meringkusnya. Sementara beberapa warga lain berusaha mengevakuasi korban dari dalam mobil.

“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!” Yura memberontak sekuat tenaga. Dua orang pria paruh baya menahan kedua lengannya seperti sedang menangkap seorang penjahat.

“Jangan melawan! Kamu sudah membahayakan nyawa orang lain.”

“Aku hanya ingin menolongnya.”

“Menolong apanya? Kamu yang membuat dia celaka!”

Beberapa warga yang sebelumnya duduk di warung menganggap Yura sudah kehilangan akal sehat. Sebelum kecelakaan terjadi, mereka melihat Yura berjalan sempoyongan sambil menangis dan berbicara sendiri. Tak lama kemudian, perempuan itu berdiri di tengah jalan dengan kedua tangan terentang.

“Pak, tolong lepaskan saya. Saya akan bertanggung jawab.”

“Rumahmu di mana?”

“Saya tidak punya rumah.”

Yura tidak sanggup mengakui tempat tinggalnya. Ia terlalu malu jika keluarganya tahu bahwa dirinya baru saja mencoba mengakhiri hidup.

“Geledah saja tasnya. Kalau perlu, kita laporkan ke polisi.”

“Jangan, Pak!” Panik, Yura berusaha melepaskan diri. “Tolong jangan laporkan saya.”

Salah satu pria itu merampas tas Yura, lalu mengambil dompet dan ponselnya.

“Nama keluargamu siapa?”

Yura menggelengkan kepala. Ia tidak ingin siapa pun menghubungi keluarganya, tetapi tidak memiliki pilihan lain.

***

“Kenapa kamu sampai nekat melakukan hal seperti itu, Nak?” Hadi menatap Yura dengan kecewa sekaligus iba. “Apa karena Malik menikahi Amira?”

Yura menunduk.

“Kalau kamu bilang sejak awal bahwa kamu keberatan, Paman bisa membatalkan pernikahan itu. Tidak perlu ada yang menikah.”

Apa kalian pernah memberiku pilihan? batin Yura getir. Kalian semua terus mendesakku, seolah perasaanku tidak pernah penting.

Yura tidak menjawab. Tidak ada gunanya menjelaskan luka kepada orang-orang yang sejak awal hanya ingin mendengar kesalahan dirinya.

“Besok kita masih harus membicarakan masalah ini,” lanjut Hadi.

“Aku capek. Aku mau istirahat.” Yura segera bangkit dan masuk ke kamarnya. Namun, baru saja pintu tertutup, ia melihat Amira duduk di tepi ranjang.

“Mengapa kamu di sini?” tanya Yura datar.

Amira berdiri. “Aku tahu kamu cuma pura-pura bunuh diri untuk mencari simpati Mas Malik, tapi sekarang dia suamiku. Dia milikku. Jangan pernah berpikir untuk merebutnya dariku.”

Yura menatap adiknya tanpa ekspresi. “Aku tidak tertarik pada barang bekas, apalagi sampah seperti suamimu,” balas Yura dengan nada sarkas.

Wajah Amira memerah. “Kamu yang sampah! Mas Malik sudah membuangmu. Seharusnya kamu sadar diri. Kamu kumuh, makanya dia memilihku.”

“Sampah memang pantas dibuang ke tempat sampah.”

“Jangan bicara sembarangan tentang Mas Malik!” Amira menunjuk wajah Yura. “Kalau tidak, akan kurusak mulutmu.”

Untuk pertama kalinya, Yura tidak mundur. Ia mengambil gunting di atas meja rias, lalu menodongkannya ke arah Amira.

Amira panik dan langsung mundur beberapa langkah. Yura tersenyum kecil, lalu menggunting sisa undangan pernikahan yang batal.

Potongan-potongan kertas itu jatuh ke lantai seperti serpihan hidupnya yang selama ini dipaksakan untuk tetap utuh.

“Keluar dari kamarku sebelum kesabaranku habis.”

Amira terdiam. Ia tidak pernah melihat Yura menatapnya seperti itu. Ketika Yura melangkah maju, Amira mundur dan segera berlari keluar.

Setelah pintu tertutup, Yura duduk di tepi ranjang. Ada rasa lega yang singkat, tetapi rasa bersalah segera kembali menghimpitnya. Ia belum sempat melihat wajah pria yang ditabraknya. Orang-orang sudah lebih dulu menahannya.

Beberapa saat kemudian, terdengar isak tangis dari kamar sebelah. Yura menempelkan telinga ke dinding.

“Kenapa kamu menangis, Sayang?” suara Malik terdengar lembut.

“Kak Yura mengancamku, dia menodongku dengan gunting.” Amira terisak. “Dia bilang akan menusukku kalau aku tidak meninggalkanmu. Aku takut, Mas.”

Malik terdiam sejenak. “Kamu yakin Yura benar-benar berkata begitu?”

“Kamu tidak percaya padaku?”

“Tentu aku percaya.”

Amira kembali menangis. “Kak Yura selalu merebut semua yang kumiliki. Perhatian Ayah, kasih sayang Mas Hirka, bahkan sekarang kamu. Dia juga yang memfitnahku sampai Mas Hirka membatalkan pertunangan kami.”

“Kamu tidak perlu takut. Aku bukan Hirka.” Suara Malik terdengar penuh keyakinan. “Aku akan selalu setia kepadamu.”

Yura mengepalkan tangan. Jadi, selama ini Amira yang menghasut Malik? Apakah semua kebohongan itu yang membuat pria itu meninggalkannya?

Untuk pertama kalinya, Yura mulai meragukan kisah yang selama ini dipercayainya.

***

Di rumah sakit, seorang perempuan cantik berlari menuju ruang dokter. Wajahnya pucat dan napasnya tersengal.

“Dokter, bagaimana keadaan Adrian?” tanya Soraya.

Dokter Rian, sahabat Adrian Fernandes, menatap Soraya dengan berat hati. “Dia masih koma. Untuk sementara, belum boleh dijenguk.”

“Apakah dia akan sadar?”

“Kami belum bisa memastikan.”

Soraya menggenggam ujung bajunya. Lima hari lagi, ia dan Adrian seharusnya melangsungkan pernikahan. Ia masih berharap kecelakaan itu hanya akan menunda rencana mereka beberapa hari.

Namun, dokter Rian melanjutkan dengan suara pelan, “Kakinya juga mengalami cedera berat.”

“Tapi, dia masih bisa sembuh, kan?” Soraya bertanya cepat. “Dia masih bisa berjalan?”

Dokter Rian menggeleng. “Kakinya lumpuh permanen.”

Bahu Soraya langsung terkulai. Ia menatap pintu ruang perawatan dengan mata berkaca-kaca. Pria sempurna yang lima hari lagi akan menjadi suaminya kini terbaring tak berdaya, dengan masa depan yang tidak lagi sama.

***

“Pokoknya, aku tidak mau menikah dengan Adrian!”

Suara Soraya menggema di seluruh ruang keluarga. Wajah cantiknya memerah karena emosi. Sejak tadi ia terus berdebat dengan kedua orang tuanya yang tak henti-hentinya memaksanya untuk tetap melangsungkan pernikahan.

Abram menghela napas panjang. Ia benar-benar tidak ingin membatalkan pernikahan putrinya dengan Adrian Fernandez, pewaris salah satu perusahaan terbesar di dunia.

Apalagi Aray Fernandez bukanlah pria yang mudah memaafkan. Sekali seseorang menyakiti keluarganya, pria itu tidak akan pernah melupakannya.

“Bukankah dulu kamu sendiri yang mati-matian ingin menikah dengan Adrian?” tanya Abram dengan suara tertahan. “Kamu mengejarnya selama bertahun-tahun. Sekarang, setelah pernikahan tinggal menghitung hari, kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran? Apa yang akan dikatakan keluarga Fernandez?”

Soraya tertawa sinis. “Itu dulu, Pa! Sekarang semuanya sudah berubah.”

Ia mengibaskan rambutnya dengan kasar. “Adrian yang dulu sempurna. Tampan, sukses, dan punya masa depan cerah. Tapi sekarang?”

Soraya menunjuk ke arah pintu dengan tatapan jijik. “Dia lumpuh permanen!”

Lea yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. “Jangan bicara seperti itu tentang calon suamimu.”

“Aku tidak peduli!” Soraya berteriak.

“Aku tidak mau menghabiskan hidupku bersama pria cacat!”

Kedua orang tuanya terdiam.

Soraya menarik napas kasar, lalu melanjutkan dengan suara bergetar. “Apa kata orang-orang nanti? Soraya, seorang supermodel terkenal, menikah dengan pria lumpuh? Aku akan menjadi bahan tertawaan! Aku malu, Pa. Aku malu!”

Abram mengepalkan tangannya. “Tapi pernikahan itu sudah dipersiapkan. Tinggal beberapa hari lagi. Kalau kita membatalkannya, Aray Fernandez bisa menarik seluruh investasinya dari perusahaan keluarga kita.”

Ia menatap putrinya penuh tekanan. “Kamu tahu sendiri apa artinya itu.”

“Aku tidak peduli!” Soraya membentak.

“Persetan dengan perusahaan itu! Aku juga tidak peduli dengan kekayaan keluarga Fernandez. Aku tidak akan menikah dengan orang lumpuh!”

Ia meraih benda-benda di atas meja lalu melemparkannya satu per satu hingga pecah berantakan.

Lea segera berdiri. “Soraya, tenangkan dirimu.”

Namun, Soraya justru mengambil sebilah pisau buah dari atas meja. Dalam sekejap, ujung pisau itu sudah menempel di pergelangan tangannya.

“Soraya!”

Abram dan Lea sontak panik.

“Apa yang kamu lakukan?!”

Air mata mulai mengalir di pipi Soraya. “Kalau kalian tetap memaksaku menikah dengan Adrian, lebih baik aku mati!”

Tangannya semakin menekan pisau ke kulit. “Kalian harus memilih. Pernikahan itu atau kehilangan aku.”

***

Rumah sakit. Suasana di ruang rawat VIP terasa begitu mencekam.

Adrian masih terbaring tak berdaya di atas ranjang. Salah satu kakinya terpasang gips, sementara sebagian wajahnya masih tertutup perban akibat kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.

Jeni duduk di samping ranjang sambil menangis.

“Anakku harus sembuh.” Tangannya menggenggam jemari Adrian yang dingin.

“Cari dokter terbaik. Kalau perlu, bawa Adrian ke luar negeri. Jangan biarkan anakku seperti ini.”

“Tenang, Tante.” Dokter Rian berdiri di sampingnya.

“Saya sudah meminta dokter spesialis saraf terbaik untuk menangani Adrian. Fasilitas di rumah sakit ini juga sangat lengkap. Untuk sementara, lebih baik Adrian dirawat di sini karena kondisinya belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh.”

Belum sempat Jeni menjawab, suara ponsel terdengar dari saku celana Aray.

Aray mengangkatnya. “Ada apa?”

Suara Abram terdengar dari seberang. “Aray, sebelumnya aku minta maaf.”

Nada suara itu membuat alis Aray berkerut. “Apa maksudmu?”

“Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan Soraya dan Adrian.”

“Apa?” Tatapan Aray langsung berubah tajam.

“Pernikahan itu harus dibatalkan.”

“Jangan bercanda, Abram.” Nada suara Aray terdengar dingin. “Pernikahan tinggal beberapa hari lagi. Kau tidak bisa seenaknya membatalkannya.”

“Aku juga tidak menginginkan ini.” Abram terdengar putus asa. “Tapi Soraya mengancam akan bunuh diri jika aku tetap memaksanya menikah dengan Adrian.”

Hening. Aray menatap Adrian yang terbaring tak berdaya.

Putranya sedang menghadapi masa paling sulit dalam hidupnya dan tepat ketika Adrian membutuhkan seseorang untuk berdiri di sisinya, wanita yang selama ini dicintainya justru memilih pergi.

“Baik.” Suara Aray terdengar sangat tenang. Terlalu tenang. “Tapi ingat satu hal, Abram.”

“Apa?”

“Kau akan menanggung akibat dari keputusan ini.”

Klik.

Aray memutuskan sambungan.

Jeni segera menatap suaminya. “Kenapa?”

Aray diam beberapa detik. “Pernikahan batal.”

“Apa?” Wajah Jeni langsung pucat.

Ia menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. “Bagaimana mungkin mereka melakukan ini pada Adrian?”

Aray tidak menjawab. Tatapannya justru beralih kepada Dokter Rian.

“Rian.”

“Iya, Om?”

“Siapa yang menyebabkan kecelakaan Adrian?”

Dokter Rian terdiam sejenak. “Seorang wanita muda. Usianya dua puluh satu tahun.”

Aray mengernyit. “Siapa namanya?”

“Yura Malayeka.”

Tubuh Aray seketika menegang. “...Yura Malayeka?”

“Iya, Om.”

Wajah Aray yang semula penuh amarah perlahan kehilangan warna. “Siapa nama kedua orang tuanya?”

Dokter Rian tampak heran. “Andi Bagaskara dan Alma Wijayanti.”

Tangan Aray mendadak gemetar. “Mereka...”

“Mereka sudah meninggal saat Yura masih berusia delapan tahun.”

Ponsel di tangan Aray terlepas.

Bruk!

Benda itu jatuh ke lantai.

Ingatan tiga belas tahun lalu tiba-tiba kembali menghantam pikirannya. Wajah seorang gadis kecil, tangisan, dua jasad, dan sebuah rahasia yang selama ini ia kubur begitu dalam.

Dunia ternyata benar-benar sempit. Terlalu sempit hingga masa lalu kembali mengetuk pintunya melalui orang yang sama.

“Bawa Yura kepadaku.”

Suara Aray terdengar berat.

“Sekarang.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   WAJAH YANG SAMA

    “Ma-maaf...” ucap Yura terbata-bata.Ia segera turun dari ranjang. Gerakannya tergesa, seolah takut keberadaannya di sana justru semakin menyulut amarah Adrian.Yura menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat, berusaha menyembunyikan kegugupan yang semakin menjadi-jadi. Tatapan Adrian begitu tajam hingga membuatnya tidak berani mengangkat wajah.“Buang seprai dan bantal itu. Ganti dengan yang baru.”Adrian membuka laci di samping ranjang, mengambil sebotol disinfektan kain, lalu melemparkannya ke arah Yura. Botol itu jatuh tepat di dekat kaki wanita tersebut.“Semprot seluruh ranjangku dengan itu. Aku tidak mau kuman dari tubuhmu mengotori tempat tidurku.”Yura terdiam. Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada lemparan botol tadi. Namun, ia tidak membantah.“Baik.”Yura membungkuk, mengambil botol tersebut dengan tangan gemetar, lalu meletakkannya di atas meja kecil.Ia mulai mengganti seprai dan sarung bantal. Setiap gerakannya dilakukan dalam diam, meskipun dadanya terasa

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   ADRIAN MARAH

    Adrian memandangi jahitan di keningnya melalui kaca kecil, lalu mengusapnya dengan lembut.“Apa ini akan membekas?” tanya Adrian pada Dokter Rian yang merupakan sahabatnya.“Sangat bisa, sekarang zaman sudah canggih. Wajahmu pasti akan bisa kembali seperti sedia kala, Adrian.”“Tapi, tidak dengan kakiku,” balas Adrian dengan putus asa.Rian menghela napas berat, lalu menatap Adrian dengan ekspresi datar. “Aku tahu ini pasti berat bagimu, tapi kamu jangan putus asa. Aku akan mencoba mencari metode pengobatan agar kakimu bisa sembuh.”“Tidak perlu menjual harapan dengan kebohonganmu.”Adrian melempar kaca ke dada Rian, membuat dokter muda itu kelimpungan menangkapnya. Adrian merasa kacau karena dirinya tidak akan bisa sembuh dan menjadi lumpuh untuk selamanya.Hati Adrian sangat hancur saat Sonya, wanita yang sangat dicintainya mencampakkannya begitu saja. Dunia Adrian terasa runtuh karena kondisinya, ia merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi.“Adrian, kenapa kau mau menikahi wanita y

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   13 TAHUN YANG LALU

    Tiga belas tahun laluAray berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan napas tersengal. Beberapa jam sebelumnya, ia menerima telepon bahwa Adrian mengalami kecelakaan. Putranya yang baru berusia lima belas tahun menabrak sepasang suami istri di jalan utama.Di depan ruang ICU, adik Aray langsung berdiri.“Bagaimana keadaan Adrian?”“Dia sudah melewati masa kritis.” Adiknya menahan napas sebelum melanjutkan. “Namun, benturan di kepalanya cukup keras. Dokter menduga Adrian mengalami amnesia.”Aray menatap melalui kaca ICU. Adrian terbaring dengan kepala diperban dan selang infus menancap di tangannya. Wajah remaja itu tampak begitu pucat, jauh dari sosok anak yang pagi tadi tertawa ketika menerima hadiah ulang tahun darinya.“Dia sudah sadar?”“Sebentar. Dia tidak mengenali siapa pun, bahkan tidak tahu namanya sendiri. Karena terus mengeluh kesakitan, dokter memberinya obat penenang.”Aray menekan telapak tangannya ke dada. Untuk pertama kalinya, ia merasa hadiah yang diberikannya tela

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   RAHASIA MASA LALU

    Yura sangat terkejut ketika orang-orang yang menyaksikan kecelakaan itu langsung meringkusnya. Sementara beberapa warga lain berusaha mengevakuasi korban dari dalam mobil.“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!” Yura memberontak sekuat tenaga. Dua orang pria paruh baya menahan kedua lengannya seperti sedang menangkap seorang penjahat.“Jangan melawan! Kamu sudah membahayakan nyawa orang lain.”“Aku hanya ingin menolongnya.”“Menolong apanya? Kamu yang membuat dia celaka!”Beberapa warga yang sebelumnya duduk di warung menganggap Yura sudah kehilangan akal sehat. Sebelum kecelakaan terjadi, mereka melihat Yura berjalan sempoyongan sambil menangis dan berbicara sendiri. Tak lama kemudian, perempuan itu berdiri di tengah jalan dengan kedua tangan terentang.“Pak, tolong lepaskan saya. Saya akan bertanggung jawab.”“Rumahmu di mana?”“Saya tidak punya rumah.”Yura tidak sanggup mengakui tempat tinggalnya. Ia terlalu malu jika keluarganya tahu bahwa dirinya baru saja mencoba mengakhiri hi

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   KECELAKAAN

    Sekuat tenaga Yura menahan air mata saat melihat Malik mengucapkan ijab kabul untuk Amira. Ketika para saksi serempak menjawab, “Sah,” ia memaksa bibirnya membentuk senyuman.Ia tidak ingin siapa pun menganggapnya sebagai perempuan malang yang baru saja ditinggalkan di hari pernikahannya sendiri.Namun, senyum itu runtuh ketika Malik mencium kening Amira. Wajah pria yang selama dua tahun menjadi tunangannya tampak begitu bahagia—seolah-olah Yura tidak pernah ada dalam hidupnya.“Yang sabar, ya, Ra.” Marina, yang duduk di sebelahnya, mengusap punggung Yura dengan iba.“Aku permisi dulu.”Yura segera bangkit. Ia berjalan cepat menuju kamar. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, pertahanan yang sejak tadi ia bangun runtuh seketika. Ia menangis sejadi-jadinya.Tubuhnya merosot di sisi ranjang, sementara kedua tangannya menutup wajah. Semua orang tahu betapa Yura mencintai Malik.Setiap kali bertemu teman, kerabat, bahkan orang yang baru dikenalnya, Yura selalu saja bercerita tentang

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   BATAL NIKAH

    Hatinya hancur setelah Yura membaca pesan WhatsApp dari calon suaminya yang tiba-tiba membatalkan pernikahan mereka, tepat ketika ijab kabul seharusnya berlangsung.Bukan karena Malik tidak ingin menikah. Melainkan karena pria itu ingin menikahi adik Yura sendiri. Pesan itu masih terpampang jelas di layar ponsel yang gemetar di tangan Yura."Yura, sebelumnya aku minta maaf. Aku mohon kamu mau mengerti perasaanku. Sudah lama aku menahannya. Dulu aku datang ke rumah Pamanmu untuk melamar Amira. Ternyata Amira sudah memiliki tunangan, jadi terpaksa aku melamarmu karena tidak ada pilihan lain.""Sejak pertunangan Amira batal tiga bulan lalu, aku memberanikan diri menghubunginya. Ternyata selama ini aku dan Amira saling mencintai. Kami ingin menikah, tapi kami membutuhkan persetujuanmu.""Aku mohon, ketika Paman dan Bibimu bertanya nanti, katakan bahwa kamu ikhlas jika aku menikahi Amira. Tolong jangan menjadi penghalang dalam hubungan kami."Tangan Yura bergetar hebat. Dalam sekejap, selu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status