مشاركة

KECELAKAAN

مؤلف: Pendosa
last update تاريخ النشر: 2026-08-23 13:05:05

Sekuat tenaga Yura menahan air mata saat melihat Malik mengucapkan ijab kabul untuk Amira. Ketika para saksi serempak menjawab, “Sah,” ia memaksa bibirnya membentuk senyuman.

Ia tidak ingin siapa pun menganggapnya sebagai perempuan malang yang baru saja ditinggalkan di hari pernikahannya sendiri.

Namun, senyum itu runtuh ketika Malik mencium kening Amira. Wajah pria yang selama dua tahun menjadi tunangannya tampak begitu bahagia—seolah-olah Yura tidak pernah ada dalam hidupnya.

“Yang sabar, ya, Ra.” Marina, yang duduk di sebelahnya, mengusap punggung Yura dengan iba.

“Aku permisi dulu.”

Yura segera bangkit. Ia berjalan cepat menuju kamar. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, pertahanan yang sejak tadi ia bangun runtuh seketika. Ia menangis sejadi-jadinya.

Tubuhnya merosot di sisi ranjang, sementara kedua tangannya menutup wajah. Semua orang tahu betapa Yura mencintai Malik.

Setiap kali bertemu teman, kerabat, bahkan orang yang baru dikenalnya, Yura selalu saja bercerita tentang pria itu. Tentang kebaikan Malik, tentang rencana pernikahan mereka, tentang rumah impian yang ingin mereka bangun bersama.

Ya, Yura memang segila itu mencintai Malik. Yura bahkan menyisihkan sedikit demi sedikit gajinya demi membiayai pesta pernikahan yang seharusnya menjadi miliknya.

Tetapi hari ini? Malik dan Amira-lah yang menikmati semua hasil jerih payahnya. Sungguh ironis.

Sepanjang hari Yura mengurung diri di kamar. Ia bahkan tidak menyentuh makanan. Air matanya terus mengalir hingga make-up di wajahnya luntur dan membuat penampilannya berantakan.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Yura mengusap air matanya lalu meraih ponsel yang terus bergetar di atas ranjang.

Nomor tidak dikenal. Dengan malas, Yura mengangkatnya.

“Halo?”

“Selamat sore. Dengan Kak Yura?”

“Iya. Saya sendiri.”

“Maaf sebelumnya kalau saya mengganggu, Kak. Tadi saya melakukan kesalahan transfer. Saya bermaksud mengirim uang sebesar empat puluh juta rupiah kepada rekening rumah sakit untuk biaya operasi ibu saya di kampung, tetapi uangnya malah masuk ke rekening Kakak.”

Yura mengerutkan kening. “Empat puluh juta?”

“Iya, Kak. Saya mohon bantuannya. Ibu saya harus segera dioperasi. Saya benar-benar sedang panik. Nomor rekening saya sudah saya kirim melalui W******p Kakak. Tolong transfer kembali uangnya, ya, Kak.”

Yura terdiam sejenak, kemudian ia membuka aplikasi mobile banking. Matanya membesar ketika melihat mutasi rekening. Benar. Ada uang masuk sebesar Rp40.000.000.

Tanpa berpikir panjang, Yura mengikuti nomor rekening yang dikirim wanita tersebut dan mentransfer seluruh uang itu.

“Sudah saya kirim.”

“Terima kasih banyak, Kak! Semoga kebaikan Kakak dibalas berlipat ganda.”

Sambungan telepon terputus. Yura meletakkan ponselnya. Ia tidak menyadari bahwa keputusan sederhana yang baru saja dibuatnya akan mengubah jalan hidupnya.

***

Malam semakin larut. Dinding rumah Paman Hadi terlalu tipis untuk menyembunyikan kebahagiaan pasangan yang baru menikah itu. Setiap suara dari kamar Amira terasa seperti pukulan yang diarahkan tepat ke jantung Yura.

Ia meremas seprai hingga buku-buku jarinya memutih. Ingin rasanya ia menutup telinga, tetapi suara itu tetap menembus pikirannya. Malik, pria yang seharusnya mengucapkan janji kepadanya hari ini, sedang menikmati malam pertama bersama adiknya.

Air mata Yura akhirnya surut. Bukan karena rasa sakitnya berkurang, melainkan karena hatinya sudah terlalu lelah untuk terus menangis.

Ia menatap pantulan diri di cermin. Mata sembap, wajah pucat, dan gaun yang dibeli dari tabungan hasil kerjanya sendiri.

Mengapa ia harus bersembunyi di kamar gelap ini, sementara dua orang yang mengkhianatinya menikmati hasil jerih payahnya tanpa rasa bersalah?

Yura menyeka pipinya dengan kasar. Malam ini mereka mungkin berhasil mengambil tunangan, uang, dan impiannya. Namun, mereka tidak akan mendapatkan penyesalan Yura.

Pagi-pagi sekali, Yura menuju kamar mandi belakang. Ia ingin segera berangkat kerja dan menghindari semua penghuni rumah itu. Akan tetapi, langkahnya terhenti di depan pintu kamar mandi.

Amira keluar dengan rambut basah dan handuk yang melilit tubuhnya. Malik menyusul di belakangnya dengan penampilan yang sama. Beberapa bekas kemerahan tampak di leher mereka.

Amira tersenyum, lalu sengaja bergelayut di lengan Malik. “Eh, Kak Yura. Mau ke kamar mandi juga?”

Yura hanya mengangguk. Ia menunduk agar mereka tidak melihat matanya yang bengkak.

“Kalau begitu, aku duluan, Kak.”

Amira menarik Malik pergi. Sebelum masuk ke kamar mandi, Yura sempat mendengar suara mereka dari balik pintu.

“Kayaknya Yura menangis, deh,” kata Malik.

“Kalau kamu jadi menikah dengan Kak Yura, aku yang akan menangis karena patah hati,” jawab Amira, disusul tawa kecil.

“Sudahlah. Jangan membahas dia. Kita lanjutkan kesenangan kita.”

Tangan Yura mengepal. Ia menundukkan kepala, memaksa dirinya tetap diam.

Di tempat kerja, bisik-bisik menyambut kedatangannya. Beberapa karyawan menatap iba, sementara yang lain membicarakannya tanpa berusaha mengecilkan suara.

“Kasihan sekali Yura. Calon suaminya menikah dengan adiknya sendiri.”

“Kalau aku jadi dia, sudah kuhajar Malik dan Amira.”

“Jangan salahkan Malik. Amira jauh lebih cantik.”

Yura berjalan seolah tidak mendengar apa pun. Namun, setiap kalimat menempel di kepalanya. Wulan segera menghampirinya dan menariknya ke tempat yang lebih sepi.

“Yura, kamu sudah tahu?”

“Tahu apa?”

“Berita tentang Malik dan Amira sedang viral.”

Yura mengerutkan kening. Wulan menyodorkan ponselnya. Di layar tampak rekaman ijab kabul Amira dan Malik. Di sudut video, Yura terlihat menunduk dengan wajah pucat.

“Siapa yang menyebarkannya?”

“Siapa lagi kalau bukan Amira? Dia mengunggahnya lewat akun palsu. Sebagai konten kreator, dia pasti mendapat banyak uang dari video itu.”

Dada Yura sesak. Aib yang ingin ia simpan rapat-rapat kini menjadi tontonan banyak orang.

“Yang sabar, ya.” Wulan memeluknya.

Yura menangis di bahu sahabatnya. Sejak kecil ia selalu mengalah dan memberikan apa pun yang Amira minta. Namun, pengorbanan itu ternyata belum cukup. Amira masih ingin mempermalukannya di depan semua orang.

Dengan mata bengkak dan perut kosong, Yura tetap menjalankan tugasnya sebagai kurir. Ia berkeliling mengantar paket menggunakan sepeda motor matic putih milik perusahaan.

Rasa lapar membuat pandangannya berkunang-kunang. Jalanan mulai berputar. Suara kendaraan terdengar semakin jauh, lalu semuanya menjadi gelap.

BRAAAKKK!

“Bangun! Hei, bangun!”

Percikan air membasahi wajah Yura. Ia mengedipkan mata dan melihat beberapa orang mengerumuninya di sebuah pos jaga.

“Aku ada di mana?”

“Tadi aku melihatmu pingsan di pinggir jalan. Aku membawamu kemari.” Seorang pemuda menyodorkan sebotol air. “Minum dulu.”

Yura meneguk air itu sedikit demi sedikit.

“Rumahmu di mana? Biar kuantar.”

“Tidak usah, Mas. Aku membawa motor.”

“Motor apa?”

“Motor matic putih.”

Pemuda itu menggeleng. “Saat menemukanmu, tidak ada motor di dekatmu.”

Yura langsung berdiri. Ia berlari ke tepi jalan dan menyapu sekeliling dengan tatapan panik.

“Motorku hilang... Ada banyak paket di dalamnya?”

Yura menutup wajahnya. “Ya Tuhan, apa lagi yang harus hilang dariku?”

Motor itu bukan miliknya. Paket-paket di dalamnya juga bukan tanggung jawab yang bisa ia abaikan. Jika semuanya benar-benar hilang, ia tidak tahu bagaimana nasibnya.

Kekhawatiran itu terbukti ketika Pak Hardi memanggilnya ke kantor.

“Kok bisa kamu seceroboh ini?” atasannya membentak. “Reputasi perusahaan bisa rusak gara-gara kelalaianmu!”

“Saya akan mengganti kerugiannya, Pak.”

“Dalam tiga hari, siapkan tiga puluh juta rupiah.”

Yura terperanjat. “Tapi nilai barangnya tidak sampai lima belas juta.”

“Ada biaya keterlambatan dan denda. Kalau tidak sanggup membayar, bersiaplah masuk penjara.”

Yura menunduk. Tiga puluh juta rupiah dalam tiga hari? Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?

“Akan saya usahakan.”

Yura baru hendak pergi ketika Pak Hardi memanggilnya lagi.

“Tunggu. Aku bisa memberimu waktu tiga bulan.” Senyum pria itu berubah licik. “Tentu dengan satu syarat.”

Yura menatapnya waspada.

“Kamu harus tidur denganku. Hanya satu malam.”

“Apa?” Darah Yura serasa berhenti mengalir.

“Tidak perlu berpura-pura suci. Kamu pasti kecewa karena gagal merasakan malam pertama bersama calon suamimu. Anggap saja aku menggantikan posisinya.”

Yura menatap Pak Hardi dengan jijik. Luka yang sejak kemarin ia tahan berubah menjadi amarah yang membakar.

“Saya masih punya harga diri, Pak.” Ia berbalik dan membanting pintu kantor.

Malam telah turun ketika Yura berjalan tanpa tujuan. Rumah Paman Hadi terasa seperti neraka. Kantornya tidak lagi menjadi tempat mencari nafkah, melainkan tempat orang lain mencoba membeli kehormatannya.

“Ya Tuhan...” bisiknya. “Di mana keadilan-Mu? Aku sudah tidak sanggup.”

Keputusasaan membawa Yura ke tengah jalan. Saat sorot lampu mobil mendekat, ia memejamkan mata.

Mungkin kematian bisa mengakhiri semuanya.

BRAAAKKK!

Dentuman keras membuat Yura membuka mata. Tubuhnya tidak terasa sakit. Mobil yang tadi melaju ke arahnya justru menabrak tiang listrik di pinggir jalan.

Yura berlari mendekat. Seorang pria tampak tidak sadarkan diri di balik kemudi. Darah mengalir dari pelipisnya. Napas Yura tercekat. Ia ingin mati, tetapi kini seseorang hampir mati di hadapannya.

Dengan tangan gemetar, Yura meraih gagang pintu mobil.

“Bertahanlah. Aku akan menolongmu.”

Pintu itu tidak bergerak. Yura mencoba lagi, lebih keras, sementara asap mulai mengepul dari kap mobil.

Di balik kaca yang retak, pria itu mengangkat wajahnya sedikit. Matanya terbuka, tetapi tatapannya kosong. Lalu bibirnya bergerak, mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar. Yura menempelkan telinga ke kaca.

“Tolong...”

Kalimat itu terputus. Kepala pria tersebut kembali terkulai.

Yura menatapnya dengan jantung berdebar. Dan mengapa kecelakaan ini terasa seperti awal dari masalah yang jauh lebih besar?

Ia kembali menarik pintu mobil sekuat tenaga. “Bertahanlah!”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   TARIK ULUR

    Damian sedang berbicara dengan Sebastian mengenai perusahaan ketika ponselnya bergetar di atas meja. Ia melihat layar, ada nomor tidak dikenal menghubunginya. Damian mengangkat tangan, memberi isyarat agar Sebastian diam."Hallo.""Mr. Damian, saya Adrian pemilik perusahaan xxx.""Ada perlu apa anda menghubungi saya?""Saya menghubungi anda bukan untuk menuduh anda mencuri data perusahaan saya.”"Apa maksud anda?" Damian langsung tersinggung dengan perkataan Adrian.“Orang yang bekerja untuk anda terlibat dalam pencurian data perusahaan saya.”“Kalau begitu, berikan aku buktinya.” Damian terkejut hingga wajahnya memerah karena ini bukan tuduhan kecil.“Saya tidak akan meminta anda bertanggung jawab atas tindakan setiap bawahan anda, tapi saya akan meminta anda bertanggung jawab atas apa yang terjadi setelah saya menunjukkan bukti.”“Kalau memang orang saya terlibat, laporkan kepada polisi.”“Saya bisa melakukan itu.”“Lalu kenapa masih menghubungi saya?”“Karena saya ingin memberi And

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   KEPERGIAN ADRIAN

    Yura berdiri mematung, matanya tidak lepas dari pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.“Bukan.” Yura menggeleng.“Yura, aku Adrian.” Adrian menatap Yura dengan intens.“Kamu bukan Pak Adrian. Pak Adrian sedang di luar negeri untuk terapi. Dia tidak bisa berjalan. Jadi jangan bilang kamu Adrian hanya untuk menutupi kesalahanmu.” Yura menatap kedua kaki pria itu berdiri tegak di lantai. Yura berpikir Andreas sedang menipunya agar bisa lari dari kesalahannya.“Aku memang Adrian.”“Tidak!” Suara Yura meninggi. “Jangan bohong lagi kepadaku!”Adrian menghela napas panjang. “Aku tidak bohong. Kamu ingat saat pertama kali aku berdiri di hadapanmu, kamu bilang aroma parfumku sama dengan aroma parfum Adrian, itu karena aku memang Adrian.”Adrian kemudian menceritakan semuanya. Tentang kondisinya yang perlahan membaik, tentang terapi yang dijalaninya, tentang pemeriksaan lanjutan, tentang bagaimana ia sebenarnya sudah mampu berdiri dan berjalan dalam jarak tertentu, tapi memilih menye

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   PENGAKUAN ADRIAN

    "Aku sudah terlalu lama berada dalam pernikahan yang sebenarnya tidak pernah terasa seperti pernikahan.”Pernyataan Yura membuat hati Adrian semakin kacau, dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menghimpitnya. Ia sudah menduga cepat atau lambat, Yura tetap akan meminta cerai darinya, tapi Adrian tidak menyangka mendengar langsung dari bibir Yura rasanya akan sesakit ini. Yura ingin bercerai darinya. Ironisnya, selama ini Adrian sendiri yang membuat Yura sampai pada keputusan itu. Dan sekarang, ketika Yura akhirnya memutuskan untuk melepaskan pernikahan mereka, Adrian justru merasa dunia sedang runtuh di bawah kakinya.“Tidak,” ucap Adrian pelan.“Apa?” Yura mengerutkan kening.“Jangan bercerai.” Satu kata itu keluar begitu saja, karena Adrian masih belum siap untuk bercerai.“Pak Andreas?” Yura menatapnya bingung. Adrian bangkit dari sofa. “Apa kamu tidak bisa memberinya kesempatan.”Yura terdiam beberapa detik, lalu menghela napas. "Aku sudah memikirkan ini sejak lama, dan

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   CERAI

    Adrian membeku. Yura menyentuh bibirnya sendiri, seolah ingin memastikan bahwa hal itu benar-benar terjadi.“Pak Andreas, kenapa?” ..” Suara Yura bergetar. “Adrian tidak langsung menjawab, mereka berdua saling menatap, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.Adrian bisa melihat jelas keterkejutan di mata Yura. Bukan hanya karena ciuman itu, tetapi karena wanita itu tidak mengerti mengapa seorang pria yang selama ini ia anggap sebagai saudara iparnya tiba-tiba melakukan hal seperti itu.“Aku...” Adrian menelan ludah. “Maaf.”“Kenapa kamu menciumku?” Yura mundur satu langkah.Adrian bingung, posisinya saat ini membuatnya menjadi serba salah. Ingin sekali Adrian mengungkapkan perasaannya.Karena aku merindukanmu, Yura. Selama tiga minggu aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, aku marah melihatmu bersama Raka.Semua jawaban itu berdesakan di kepalanya, tetapi tidak satu pun bisa ia ucapkan.“Aku kehilangan kendali,” jawab Adrian pada akhirnya.“Kehilangan kendali?” Yura menatap Adri

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   CIUMAN

    Adrian baru saja kembali ke Indonesia setelah tiga minggu berada di luar negeri. Begitu mobil memasuki jalan utama, ia menatap ke luar jendela.“Antarkan aku ke toko buku.”“Ke toko buku, Pak?” Sopirnya melirik melalui kaca spion.“Ya.”Adrian ingin melihat tempat Yura bekerja sebelum pulang. Ia sendiri tidak tahu mengapa keinginan itu terasa begitu penting. Setelah tiga minggu tidak bertemu, rasanya melihat Yura dari jauh saja sudah cukup.Tatapannya beralih pada beberapa paper bag yang terletak di sampingnya. Isinya oleh-oleh yang ia pilih selama berada di luar negeri. Entah kenapa, setiap kali melihat sesuatu yang menurutnya akan disukai Yura, ia selalu membelinya.Tiga minggu tidak bertemu perempuan itu membuat Adrian menyadari sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan. Ia selalu memikirkan Yura.Namun, sebelum mobil sampai di toko buku, Adrian melihat sebuah motor melaju tidak jauh di depan mereka. Yura duduk di jok belakang, pria yang mengendarai motor itu adalah Raka. Adrian

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   MASALAH PERUSAHAAN

    Ruang presentasi dipenuhi jajaran direksi, investor, dan beberapa perwakilan perusahaan yang akan menentukan pemenang tender.Adrian duduk di barisan depan bersama timnya. Di atas meja terdapat proposal produk yang sudah mereka persiapkan selama berbulan-bulan.Presentasi dari tim Adrian berjalan lancar. Satu demi satu keunggulan produk dijelaskan. Setelah hampir tiga puluh menit, Adrian berdiri di depan layar."Produk yang kami tawarkan memiliki tiga keunggulan utama. Pertama, efisiensi penggunaan energi. Kedua, sistem keamanan yang terintegrasi dan yang ketiga..."Tim dari Adrian menjelaskan bagian terakhir dengan penuh percaya diri. Konsep tersebut merupakan ide baru yang ia kembangkan bersama timnya, bahkan belum pernah dipublikasikan.Setelah presentasi selesai, Adrian menatap layar sambil menunggu perusahaan pesaing melakukan presentasi. Beberapa menit kemudian, perusahaan pesaing mulai memaparkan produknya. Pesaing itu sedang menjelaskan sebuah fitur yang sama persis dengan ide

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status