Mag-log inSekuat tenaga Yura menahan air mata saat melihat Malik mengucapkan ijab kabul untuk Amira. Ketika para saksi serempak menjawab, “Sah,” ia memaksa bibirnya membentuk senyuman.
Ia tidak ingin siapa pun menganggapnya sebagai perempuan malang yang baru saja ditinggalkan di hari pernikahannya sendiri.
Namun, senyum itu runtuh ketika Malik mencium kening Amira. Wajah pria yang selama dua tahun menjadi tunangannya tampak begitu bahagia—seolah-olah Yura tidak pernah ada dalam hidupnya.
“Yang sabar, ya, Ra.” Marina, yang duduk di sebelahnya, mengusap punggung Yura dengan iba.
“Aku permisi dulu.”
Yura segera bangkit. Ia berjalan cepat menuju kamar. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, pertahanan yang sejak tadi ia bangun runtuh seketika. Ia menangis sejadi-jadinya.
Tubuhnya merosot di sisi ranjang, sementara kedua tangannya menutup wajah. Semua orang tahu betapa Yura mencintai Malik.
Setiap kali bertemu teman, kerabat, bahkan orang yang baru dikenalnya, Yura selalu saja bercerita tentang pria itu. Tentang kebaikan Malik, tentang rencana pernikahan mereka, tentang rumah impian yang ingin mereka bangun bersama.
Ya, Yura memang segila itu mencintai Malik. Yura bahkan menyisihkan sedikit demi sedikit gajinya demi membiayai pesta pernikahan yang seharusnya menjadi miliknya.
Tetapi hari ini? Malik dan Amira-lah yang menikmati semua hasil jerih payahnya. Sungguh ironis.
Sepanjang hari Yura mengurung diri di kamar. Ia bahkan tidak menyentuh makanan. Air matanya terus mengalir hingga make-up di wajahnya luntur dan membuat penampilannya berantakan.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Yura mengusap air matanya lalu meraih ponsel yang terus bergetar di atas ranjang.
Nomor tidak dikenal. Dengan malas, Yura mengangkatnya.
“Halo?”
“Selamat sore. Dengan Kak Yura?”
“Iya. Saya sendiri.”
“Maaf sebelumnya kalau saya mengganggu, Kak. Tadi saya melakukan kesalahan transfer. Saya bermaksud mengirim uang sebesar empat puluh juta rupiah kepada rekening rumah sakit untuk biaya operasi ibu saya di kampung, tetapi uangnya malah masuk ke rekening Kakak.”
Yura mengerutkan kening. “Empat puluh juta?”
“Iya, Kak. Saya mohon bantuannya. Ibu saya harus segera dioperasi. Saya benar-benar sedang panik. Nomor rekening saya sudah saya kirim melalui W******p Kakak. Tolong transfer kembali uangnya, ya, Kak.”
Yura terdiam sejenak, kemudian ia membuka aplikasi mobile banking. Matanya membesar ketika melihat mutasi rekening. Benar. Ada uang masuk sebesar Rp40.000.000.
Tanpa berpikir panjang, Yura mengikuti nomor rekening yang dikirim wanita tersebut dan mentransfer seluruh uang itu.
“Sudah saya kirim.”
“Terima kasih banyak, Kak! Semoga kebaikan Kakak dibalas berlipat ganda.”
Sambungan telepon terputus. Yura meletakkan ponselnya. Ia tidak menyadari bahwa keputusan sederhana yang baru saja dibuatnya akan mengubah jalan hidupnya.
***
Malam semakin larut. Dinding rumah Paman Hadi terlalu tipis untuk menyembunyikan kebahagiaan pasangan yang baru menikah itu. Setiap suara dari kamar Amira terasa seperti pukulan yang diarahkan tepat ke jantung Yura.
Ia meremas seprai hingga buku-buku jarinya memutih. Ingin rasanya ia menutup telinga, tetapi suara itu tetap menembus pikirannya. Malik, pria yang seharusnya mengucapkan janji kepadanya hari ini, sedang menikmati malam pertama bersama adiknya.
Air mata Yura akhirnya surut. Bukan karena rasa sakitnya berkurang, melainkan karena hatinya sudah terlalu lelah untuk terus menangis.
Ia menatap pantulan diri di cermin. Mata sembap, wajah pucat, dan gaun yang dibeli dari tabungan hasil kerjanya sendiri.
Mengapa ia harus bersembunyi di kamar gelap ini, sementara dua orang yang mengkhianatinya menikmati hasil jerih payahnya tanpa rasa bersalah?
Yura menyeka pipinya dengan kasar. Malam ini mereka mungkin berhasil mengambil tunangan, uang, dan impiannya. Namun, mereka tidak akan mendapatkan penyesalan Yura.
Pagi-pagi sekali, Yura menuju kamar mandi belakang. Ia ingin segera berangkat kerja dan menghindari semua penghuni rumah itu. Akan tetapi, langkahnya terhenti di depan pintu kamar mandi.
Amira keluar dengan rambut basah dan handuk yang melilit tubuhnya. Malik menyusul di belakangnya dengan penampilan yang sama. Beberapa bekas kemerahan tampak di leher mereka.
Amira tersenyum, lalu sengaja bergelayut di lengan Malik. “Eh, Kak Yura. Mau ke kamar mandi juga?”
Yura hanya mengangguk. Ia menunduk agar mereka tidak melihat matanya yang bengkak.
“Kalau begitu, aku duluan, Kak.”
Amira menarik Malik pergi. Sebelum masuk ke kamar mandi, Yura sempat mendengar suara mereka dari balik pintu.
“Kayaknya Yura menangis, deh,” kata Malik.
“Kalau kamu jadi menikah dengan Kak Yura, aku yang akan menangis karena patah hati,” jawab Amira, disusul tawa kecil.
“Sudahlah. Jangan membahas dia. Kita lanjutkan kesenangan kita.”
Tangan Yura mengepal. Ia menundukkan kepala, memaksa dirinya tetap diam.
Di tempat kerja, bisik-bisik menyambut kedatangannya. Beberapa karyawan menatap iba, sementara yang lain membicarakannya tanpa berusaha mengecilkan suara.
“Kasihan sekali Yura. Calon suaminya menikah dengan adiknya sendiri.”
“Kalau aku jadi dia, sudah kuhajar Malik dan Amira.”
“Jangan salahkan Malik. Amira jauh lebih cantik.”
Yura berjalan seolah tidak mendengar apa pun. Namun, setiap kalimat menempel di kepalanya. Wulan segera menghampirinya dan menariknya ke tempat yang lebih sepi.
“Yura, kamu sudah tahu?”
“Tahu apa?”
“Berita tentang Malik dan Amira sedang viral.”
Yura mengerutkan kening. Wulan menyodorkan ponselnya. Di layar tampak rekaman ijab kabul Amira dan Malik. Di sudut video, Yura terlihat menunduk dengan wajah pucat.
“Siapa yang menyebarkannya?”
“Siapa lagi kalau bukan Amira? Dia mengunggahnya lewat akun palsu. Sebagai konten kreator, dia pasti mendapat banyak uang dari video itu.”
Dada Yura sesak. Aib yang ingin ia simpan rapat-rapat kini menjadi tontonan banyak orang.
“Yang sabar, ya.” Wulan memeluknya.
Yura menangis di bahu sahabatnya. Sejak kecil ia selalu mengalah dan memberikan apa pun yang Amira minta. Namun, pengorbanan itu ternyata belum cukup. Amira masih ingin mempermalukannya di depan semua orang.
Dengan mata bengkak dan perut kosong, Yura tetap menjalankan tugasnya sebagai kurir. Ia berkeliling mengantar paket menggunakan sepeda motor matic putih milik perusahaan.
Rasa lapar membuat pandangannya berkunang-kunang. Jalanan mulai berputar. Suara kendaraan terdengar semakin jauh, lalu semuanya menjadi gelap.
BRAAAKKK!
“Bangun! Hei, bangun!”
Percikan air membasahi wajah Yura. Ia mengedipkan mata dan melihat beberapa orang mengerumuninya di sebuah pos jaga.
“Aku ada di mana?”
“Tadi aku melihatmu pingsan di pinggir jalan. Aku membawamu kemari.” Seorang pemuda menyodorkan sebotol air. “Minum dulu.”
Yura meneguk air itu sedikit demi sedikit.
“Rumahmu di mana? Biar kuantar.”
“Tidak usah, Mas. Aku membawa motor.”
“Motor apa?”
“Motor matic putih.”
Pemuda itu menggeleng. “Saat menemukanmu, tidak ada motor di dekatmu.”
Yura langsung berdiri. Ia berlari ke tepi jalan dan menyapu sekeliling dengan tatapan panik.
“Motorku hilang... Ada banyak paket di dalamnya?”
Yura menutup wajahnya. “Ya Tuhan, apa lagi yang harus hilang dariku?”
Motor itu bukan miliknya. Paket-paket di dalamnya juga bukan tanggung jawab yang bisa ia abaikan. Jika semuanya benar-benar hilang, ia tidak tahu bagaimana nasibnya.
Kekhawatiran itu terbukti ketika Pak Hardi memanggilnya ke kantor.
“Kok bisa kamu seceroboh ini?” atasannya membentak. “Reputasi perusahaan bisa rusak gara-gara kelalaianmu!”
“Saya akan mengganti kerugiannya, Pak.”
“Dalam tiga hari, siapkan tiga puluh juta rupiah.”
Yura terperanjat. “Tapi nilai barangnya tidak sampai lima belas juta.”
“Ada biaya keterlambatan dan denda. Kalau tidak sanggup membayar, bersiaplah masuk penjara.”
Yura menunduk. Tiga puluh juta rupiah dalam tiga hari? Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
“Akan saya usahakan.”
Yura baru hendak pergi ketika Pak Hardi memanggilnya lagi.
“Tunggu. Aku bisa memberimu waktu tiga bulan.” Senyum pria itu berubah licik. “Tentu dengan satu syarat.”
Yura menatapnya waspada.
“Kamu harus tidur denganku. Hanya satu malam.”
“Apa?” Darah Yura serasa berhenti mengalir.
“Tidak perlu berpura-pura suci. Kamu pasti kecewa karena gagal merasakan malam pertama bersama calon suamimu. Anggap saja aku menggantikan posisinya.”
Yura menatap Pak Hardi dengan jijik. Luka yang sejak kemarin ia tahan berubah menjadi amarah yang membakar.
“Saya masih punya harga diri, Pak.” Ia berbalik dan membanting pintu kantor.
Malam telah turun ketika Yura berjalan tanpa tujuan. Rumah Paman Hadi terasa seperti neraka. Kantornya tidak lagi menjadi tempat mencari nafkah, melainkan tempat orang lain mencoba membeli kehormatannya.
“Ya Tuhan...” bisiknya. “Di mana keadilan-Mu? Aku sudah tidak sanggup.”
Keputusasaan membawa Yura ke tengah jalan. Saat sorot lampu mobil mendekat, ia memejamkan mata.
Mungkin kematian bisa mengakhiri semuanya.
BRAAAKKK!
Dentuman keras membuat Yura membuka mata. Tubuhnya tidak terasa sakit. Mobil yang tadi melaju ke arahnya justru menabrak tiang listrik di pinggir jalan.
Yura berlari mendekat. Seorang pria tampak tidak sadarkan diri di balik kemudi. Darah mengalir dari pelipisnya. Napas Yura tercekat. Ia ingin mati, tetapi kini seseorang hampir mati di hadapannya.
Dengan tangan gemetar, Yura meraih gagang pintu mobil.
“Bertahanlah. Aku akan menolongmu.”
Pintu itu tidak bergerak. Yura mencoba lagi, lebih keras, sementara asap mulai mengepul dari kap mobil.
Di balik kaca yang retak, pria itu mengangkat wajahnya sedikit. Matanya terbuka, tetapi tatapannya kosong. Lalu bibirnya bergerak, mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar. Yura menempelkan telinga ke kaca.
“Tolong...”
Kalimat itu terputus. Kepala pria tersebut kembali terkulai.
Yura menatapnya dengan jantung berdebar. Dan mengapa kecelakaan ini terasa seperti awal dari masalah yang jauh lebih besar?
Ia kembali menarik pintu mobil sekuat tenaga. “Bertahanlah!”
“Ma-maaf...” ucap Yura terbata-bata.Ia segera turun dari ranjang. Gerakannya tergesa, seolah takut keberadaannya di sana justru semakin menyulut amarah Adrian.Yura menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat, berusaha menyembunyikan kegugupan yang semakin menjadi-jadi. Tatapan Adrian begitu tajam hingga membuatnya tidak berani mengangkat wajah.“Buang seprai dan bantal itu. Ganti dengan yang baru.”Adrian membuka laci di samping ranjang, mengambil sebotol disinfektan kain, lalu melemparkannya ke arah Yura. Botol itu jatuh tepat di dekat kaki wanita tersebut.“Semprot seluruh ranjangku dengan itu. Aku tidak mau kuman dari tubuhmu mengotori tempat tidurku.”Yura terdiam. Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada lemparan botol tadi. Namun, ia tidak membantah.“Baik.”Yura membungkuk, mengambil botol tersebut dengan tangan gemetar, lalu meletakkannya di atas meja kecil.Ia mulai mengganti seprai dan sarung bantal. Setiap gerakannya dilakukan dalam diam, meskipun dadanya terasa
Adrian memandangi jahitan di keningnya melalui kaca kecil, lalu mengusapnya dengan lembut.“Apa ini akan membekas?” tanya Adrian pada Dokter Rian yang merupakan sahabatnya.“Sangat bisa, sekarang zaman sudah canggih. Wajahmu pasti akan bisa kembali seperti sedia kala, Adrian.”“Tapi, tidak dengan kakiku,” balas Adrian dengan putus asa.Rian menghela napas berat, lalu menatap Adrian dengan ekspresi datar. “Aku tahu ini pasti berat bagimu, tapi kamu jangan putus asa. Aku akan mencoba mencari metode pengobatan agar kakimu bisa sembuh.”“Tidak perlu menjual harapan dengan kebohonganmu.”Adrian melempar kaca ke dada Rian, membuat dokter muda itu kelimpungan menangkapnya. Adrian merasa kacau karena dirinya tidak akan bisa sembuh dan menjadi lumpuh untuk selamanya.Hati Adrian sangat hancur saat Sonya, wanita yang sangat dicintainya mencampakkannya begitu saja. Dunia Adrian terasa runtuh karena kondisinya, ia merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi.“Adrian, kenapa kau mau menikahi wanita y
Tiga belas tahun laluAray berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan napas tersengal. Beberapa jam sebelumnya, ia menerima telepon bahwa Adrian mengalami kecelakaan. Putranya yang baru berusia lima belas tahun menabrak sepasang suami istri di jalan utama.Di depan ruang ICU, adik Aray langsung berdiri.“Bagaimana keadaan Adrian?”“Dia sudah melewati masa kritis.” Adiknya menahan napas sebelum melanjutkan. “Namun, benturan di kepalanya cukup keras. Dokter menduga Adrian mengalami amnesia.”Aray menatap melalui kaca ICU. Adrian terbaring dengan kepala diperban dan selang infus menancap di tangannya. Wajah remaja itu tampak begitu pucat, jauh dari sosok anak yang pagi tadi tertawa ketika menerima hadiah ulang tahun darinya.“Dia sudah sadar?”“Sebentar. Dia tidak mengenali siapa pun, bahkan tidak tahu namanya sendiri. Karena terus mengeluh kesakitan, dokter memberinya obat penenang.”Aray menekan telapak tangannya ke dada. Untuk pertama kalinya, ia merasa hadiah yang diberikannya tela
Yura sangat terkejut ketika orang-orang yang menyaksikan kecelakaan itu langsung meringkusnya. Sementara beberapa warga lain berusaha mengevakuasi korban dari dalam mobil.“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!” Yura memberontak sekuat tenaga. Dua orang pria paruh baya menahan kedua lengannya seperti sedang menangkap seorang penjahat.“Jangan melawan! Kamu sudah membahayakan nyawa orang lain.”“Aku hanya ingin menolongnya.”“Menolong apanya? Kamu yang membuat dia celaka!”Beberapa warga yang sebelumnya duduk di warung menganggap Yura sudah kehilangan akal sehat. Sebelum kecelakaan terjadi, mereka melihat Yura berjalan sempoyongan sambil menangis dan berbicara sendiri. Tak lama kemudian, perempuan itu berdiri di tengah jalan dengan kedua tangan terentang.“Pak, tolong lepaskan saya. Saya akan bertanggung jawab.”“Rumahmu di mana?”“Saya tidak punya rumah.”Yura tidak sanggup mengakui tempat tinggalnya. Ia terlalu malu jika keluarganya tahu bahwa dirinya baru saja mencoba mengakhiri hi
Sekuat tenaga Yura menahan air mata saat melihat Malik mengucapkan ijab kabul untuk Amira. Ketika para saksi serempak menjawab, “Sah,” ia memaksa bibirnya membentuk senyuman.Ia tidak ingin siapa pun menganggapnya sebagai perempuan malang yang baru saja ditinggalkan di hari pernikahannya sendiri.Namun, senyum itu runtuh ketika Malik mencium kening Amira. Wajah pria yang selama dua tahun menjadi tunangannya tampak begitu bahagia—seolah-olah Yura tidak pernah ada dalam hidupnya.“Yang sabar, ya, Ra.” Marina, yang duduk di sebelahnya, mengusap punggung Yura dengan iba.“Aku permisi dulu.”Yura segera bangkit. Ia berjalan cepat menuju kamar. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, pertahanan yang sejak tadi ia bangun runtuh seketika. Ia menangis sejadi-jadinya.Tubuhnya merosot di sisi ranjang, sementara kedua tangannya menutup wajah. Semua orang tahu betapa Yura mencintai Malik.Setiap kali bertemu teman, kerabat, bahkan orang yang baru dikenalnya, Yura selalu saja bercerita tentang
Hatinya hancur setelah Yura membaca pesan WhatsApp dari calon suaminya yang tiba-tiba membatalkan pernikahan mereka, tepat ketika ijab kabul seharusnya berlangsung.Bukan karena Malik tidak ingin menikah. Melainkan karena pria itu ingin menikahi adik Yura sendiri. Pesan itu masih terpampang jelas di layar ponsel yang gemetar di tangan Yura."Yura, sebelumnya aku minta maaf. Aku mohon kamu mau mengerti perasaanku. Sudah lama aku menahannya. Dulu aku datang ke rumah Pamanmu untuk melamar Amira. Ternyata Amira sudah memiliki tunangan, jadi terpaksa aku melamarmu karena tidak ada pilihan lain.""Sejak pertunangan Amira batal tiga bulan lalu, aku memberanikan diri menghubunginya. Ternyata selama ini aku dan Amira saling mencintai. Kami ingin menikah, tapi kami membutuhkan persetujuanmu.""Aku mohon, ketika Paman dan Bibimu bertanya nanti, katakan bahwa kamu ikhlas jika aku menikahi Amira. Tolong jangan menjadi penghalang dalam hubungan kami."Tangan Yura bergetar hebat. Dalam sekejap, selu







