Mag-log inAdrian memandangi jahitan di keningnya melalui kaca kecil, lalu mengusapnya dengan lembut.
“Apa ini akan membekas?” tanya Adrian pada Dokter Rian yang merupakan sahabatnya.
“Sangat bisa, sekarang zaman sudah canggih. Wajahmu pasti akan bisa kembali seperti sedia kala, Adrian.”
“Tapi, tidak dengan kakiku,” balas Adrian dengan putus asa.
Rian menghela napas berat, lalu menatap Adrian dengan ekspresi datar. “Aku tahu ini pasti berat bagimu, tapi kamu jangan putus asa. Aku akan mencoba mencari metode pengobatan agar kakimu bisa sembuh.”
“Tidak perlu menjual harapan dengan kebohonganmu.”
Adrian melempar kaca ke dada Rian, membuat dokter muda itu kelimpungan menangkapnya. Adrian merasa kacau karena dirinya tidak akan bisa sembuh dan menjadi lumpuh untuk selamanya.
Hati Adrian sangat hancur saat Sonya, wanita yang sangat dicintainya mencampakkannya begitu saja. Dunia Adrian terasa runtuh karena kondisinya, ia merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi.
“Adrian, kenapa kau mau menikahi wanita yang sudah membuatmu seperti ini?” tanya Rian.
Ia merasa ada yang janggal, pikirannya terus bertanya-tanya mengapa Adrian bahkan belum pernah melihat Yura, tapi tetap mau menikahi wanita itu.
“Aku akan membuat wanita itu kehilangan kebebasan dan tidak akan mendapatkan cinta dari siapa pun,” desis Adrian dengan tatapan dingin. Yura harus merasakan sakit dan penderitaan yang ia rasakan saat ini.
“Jadi kamu menikahi wanita itu hanya untuk balas dendam.” Rian terperangah mengetahui tujuan Adrian yang sebenarnya, sebab ia tahu Adrian bukanlah tipe pria yang suka mempermainkan wanita.
“Papa juga akan menghapusku dari daftar ahli waris,” lanjut Adrian dengan tatapan kosong.
“Apa?!” pekik Rian. “Aku tidak habis pikir dengan Om Aray. Bukannya menjebloskan wanita itu ke penjara, dia malah menikahkannya denganmu.”
“Entahlah.” Adrian juga merasa Aray tidak adil karena lebih membela Yura, padahal dialah korbannya.
***
Suara kipas angin gantung yang berderit nyaring memenuhi ruangan Kantor Polisi. Yura berdiri canggung di depan meja pelayanan. Yura mendekati petugas yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
"Selamat sore, Pak. Saya mau menanyakan perkembangan laporan pencurian motor dan paket saya bulan Juni tanggal 15."
"Atas nama siapa?"
"Yura Malayeka."
"Yura Malayeka." Aipda Bambang mengetik keyboard komputer.
"Oh, yang paket hilang itu? Belum ada perkembangan, Mbak. Anggota kami masih berusaha mencarinya." Ujar Aibda Bambang tanpa mengalihkan pandangannya pada pertandingan bola yang ia tonton di hpnya.
"Tapi Pak, itu motor milik paman saya dan paketnya milik perusahaan tempat saya bekerja. Motornya juga dipakai untuk kerja, kalau tidak ada motor, saya akan kerja menggunakan apa."
"Loh, yang menghilangkan motormu kan, bukan saya. Kenapa marahnya ke saya."
"Kan, sudah tugas anda melayani masyarakat." Yura protes karena merasa polisi tidak serius menangani kasusnya. "Apa belum ada cek CCTV di sekitar lokasi?"
Helatan napas berat dari Aibda Bambang. "Mbak, laporan pencurian di daerah sini itu banyak. Ditunggu saja di rumah. Kalau ada kabar, nanti kami kabari. Ini surat tanda terima laporannya saja dulu, buat bukti kalau Mbak sudah lapor."
"Tapi Pak..."
"Sudah ya, Mbak. Kami sedang ada urusan lain. Ditunggu saja prosesnya."
Yura menerima lembaran kertas itu dengan tangan gemetar. Sikap polisi yang acuh tak acuh membuat dadanya makin sesak.
Yura meremas kertas laporan itu rapat-rapat. Rasa sedihnya perlahan berubah menjadi kemarahan—ia tahu, kini ia harus memperjuangkan nasibnya sendiri tanpa mengandalkan bantuan siapa pun.
***
Setelah menandatangani surat pernikahan, Aray membawa Yura tinggal di rumah pribadi milik Adrian. Sebuah foto keluarga yang tergantung di dinding menarik perhatian Yura saat mereka berjalan melewati ruang tamu.
“Pak, apa Adrian punya saudara kembar?” tanya Yura karena melihat dua wajah yang serupa di dalam foto tersebut.
“Iya, Andreas dan Adrian adalah saudara kembar.”
Aray mengantar Yura ke kamar termegah di kediaman itu—yang merupakan kamar milik Adrian. “Ini kamarmu, aku harap kamu betah tinggal di sini.”
“Kamar ini terlalu besar untuk saya, apa ada kamar lain yang lebih kecil dan sederhana?” Yura merasa gelisah dan tidak enak hati diperlakukan istimewa, padahal ia adalah orang yang telah mencelakai putra Aray. Ia sadar pernikahan ini bukanlah pernikahan biasa, melainkan ikatan yang dibangun atas dasar tanggung jawab dan rasa bersalah.
“Sekarang kamu adalah istri Adrian, dan kamar ini sudah menjadi kamarmu juga.” Aray menggiring Yura menuju ruang ganti, lalu membuka pintu lemari kaca yang lebarnya menyerupai ruangan tersendiri.
“Taruh saja pakaianmu di sini, masih banyak ruang. Sekarang istirahatlah, kamu pasti lelah.”
“Tidak usah, Pak. Saya bisa menatanya sendiri,” tolak Yura sopan.
“Baiklah, terserah kamu. Aku harus kembali ke rumah sakit untuk menjaga Adrian.”
“Baik, Pak. Terima kasih banyak, dan maaf sudah membuat putra Anda begini.” Yura menunduk malu, dihantui rasa bersalah yang membuatnya tidak pernah tenang.
Aray tersenyum tipis, lalu berbalik pergi. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia berharap Yura kelak bisa memaafkan perbuatan Adrian di masa lalu terhadap kedua orang tuanya. Bisa jadi, musibah yang menimpa Adrian saat ini adalah teguran dari Tuhan, apalagi Aray sendiri ikut andil menutupi kesalahan putranya.
Yura memindahkan pakaian dari dalam tasnya ke lemari, lalu beristirahat di atas ranjang empuk yang luas. Baru beberapa detik ia memejamkan mata, Jeni—ibu mertuanya—sudah datang menghampiri dengan ekspensi sinis.
“Wah, enak sekali ya bisa tidur nyenyak di sini setelah membuat anakku lumpuh?” Jeni melipat tangan sambil menggelengkan kepala mengejek.
Yura seketika membuka mata dan terperanjat duduk, dadanya langsung terasa sesak mendengar sindiran itu.
“Maaf, saya tahu saya salah. Saya di sini untuk bertanggung jawab dan menebus semua kesalahan saya,” jawab Yura lirih.
“Bagus kalau kau sadar diri. Sekarang ikut aku!” Jeni bergegas keluar kamar, dan Yura membuntutinya hingga sampai di area cuci dan jemur pakaian.
“Cuci semua pakaian itu dengan tangan!” Jeni menunjuk tumpukan baju di dalam bak besar menggunakan kakinya. “Jangan pakai mesin cuci, itu baju-baju mahal. Pisahkan pakaian putih dari yang lain. Setelah selesai, setrika pakaian yang sudah kering, lalu cuci piring-piring kotor di dapur.”
Meski asisten rumah tangga di rumah itu banyak, Jeni sengaja melimpahkan semua pekerjaan berat kepada Yura sebagai bentuk hukuman. Ia bahkan berencana meliburkan beberapa pekerja selama Adrian berobat ke luar negeri.
“Baik,” jawab Yura patuh.
Jeni tiba-tiba melemparkan sebotol obat ke pangkuan Yura. “Lain kali kalau mau bunuh diri, minum racun sekalian biar tidak menyulitkan orang! Jangan coba-coba berulah di rumah ini, wanita pembawa sial!” Jeni melepas sarung tangannya dan membuangnya sembarangan sebelum berlalu.
Yura terduduk lemas, air matanya menetes. Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan kasih sayang keluarga yang tulus.
***
Sudah hampir 1 bulan, Yura tinggal di rumah Adrian. Di sana ia diperlakukan layaknya seorang pembantu, tiada hari tanpa hinaan dari Jeni untuknya.
Usai mengerjakan pekerjaan rumah, Yura mengambil ponsel di atas nakas. Ada banyak nomor telepon tidak dikenal yang membuat keningnya berkerut penasaran. Sedetik kemudian ponsel itu kembali berdering, dan Yura pun menerima panggilan tersebut.
“Selamat siang, dengan Yura Malayeka?”
“Iya, benar. Ini dengan siapa?”
“Saya dari petugas pinjaman daring. Tagihan Anda sebesar Rp40.000.000 sudah jatuh tempo, mohon segera dibayar agar bunganya tidak semakin tinggi.”
Yura terkejut bagai disambar petir, merasa tidak pernah meminjam uang di pinjol sebanyak itu. “Ini pasti ada yang salah, saya tidak pernah meminjam uang sebanyak itu di pinjol,” bantah Yura dengan jantung berdebar.
“Anda jangan menyangkal, bukti transaksi ada. Uang senilai Rp40.000.000 masuk ke rekening Anda. Kalau Anda tidak mau membayar, terpaksa masalah ini akan kami bawa ke kepolisian.”
Terbesit di ingatan Yura, waktu itu memang ada uang sebesar Rp40.000.000 masuk ke rekeningnya, tapi Yura malah mentransfer uang itu pada wanita yang mengaku salah transfer padanya.
“Pak, saya akan ke bank dulu untuk mengecek mutasi di rekening saya.”
“Baik, saya tunggu itikad baik Anda untuk membayar semua tagihan pinjol.”
Yura pergi ke bank untuk melihat riwayat transaksi yang dilakukannya selama beberapa bulan ini.
“Iya, benar. Satu bulan yang lalu Anda mendaftar pinjol, uang senilai Rp40.000.000 sukses ditransfer ke rekening Anda, beberapa menit kemudian Anda mentransfer uang tersebut ke rekening Mulyadi Longso, ” ujar teller bank setelah mengecek riwayat transaksi di rekening Yura.
Deg.
Jantung Yura serasa disambar petir dan sejenak terhenti berdetak. Bahunya terkulai lemas menyadari dirinya sudah ditipu orang dengan dalih salah transfer. Yura merasa bodoh, mengapa bisa percaya begitu saja dengan mudahnya. Kepala Yura rasanya ingin meledak akibat masalah bertubi-tubi terus menimpanya, dadanya sesak memikirkan cobaan hidup yang terus saja menyiksa batinnya.
***
Enam bulan berlalu begitu cepat. Selama itu pula Yura tidak pernah bertemu dengan Adrian karena pria itu menjalani pengobatan di luar negeri bersama dengan Aray. Yura menjalani hari-harinya sebagai seorang pembantu di rumah suaminya sendiri tanpa mengeluh.
Suatu sore, usai membereskan pekerjaan rumah, Yura merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang.
BYUUUURRRR!
“Siapa yang mengizinkanmu tidur di ranjangku?!”
Yura seketika terbangun, terbatuk-batuk sambil mengusap wajahnya yang basah kuyup. Begitu matanya terbuka lebar, napasnya tercekat mendapati sosok pria yang menyiramnya dengan segelas air dingin itu berada di hadapannya.
“Ma-maaf...” ucap Yura terbata-bata.Ia segera turun dari ranjang. Gerakannya tergesa, seolah takut keberadaannya di sana justru semakin menyulut amarah Adrian.Yura menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat, berusaha menyembunyikan kegugupan yang semakin menjadi-jadi. Tatapan Adrian begitu tajam hingga membuatnya tidak berani mengangkat wajah.“Buang seprai dan bantal itu. Ganti dengan yang baru.”Adrian membuka laci di samping ranjang, mengambil sebotol disinfektan kain, lalu melemparkannya ke arah Yura. Botol itu jatuh tepat di dekat kaki wanita tersebut.“Semprot seluruh ranjangku dengan itu. Aku tidak mau kuman dari tubuhmu mengotori tempat tidurku.”Yura terdiam. Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada lemparan botol tadi. Namun, ia tidak membantah.“Baik.”Yura membungkuk, mengambil botol tersebut dengan tangan gemetar, lalu meletakkannya di atas meja kecil.Ia mulai mengganti seprai dan sarung bantal. Setiap gerakannya dilakukan dalam diam, meskipun dadanya terasa
Adrian memandangi jahitan di keningnya melalui kaca kecil, lalu mengusapnya dengan lembut.“Apa ini akan membekas?” tanya Adrian pada Dokter Rian yang merupakan sahabatnya.“Sangat bisa, sekarang zaman sudah canggih. Wajahmu pasti akan bisa kembali seperti sedia kala, Adrian.”“Tapi, tidak dengan kakiku,” balas Adrian dengan putus asa.Rian menghela napas berat, lalu menatap Adrian dengan ekspresi datar. “Aku tahu ini pasti berat bagimu, tapi kamu jangan putus asa. Aku akan mencoba mencari metode pengobatan agar kakimu bisa sembuh.”“Tidak perlu menjual harapan dengan kebohonganmu.”Adrian melempar kaca ke dada Rian, membuat dokter muda itu kelimpungan menangkapnya. Adrian merasa kacau karena dirinya tidak akan bisa sembuh dan menjadi lumpuh untuk selamanya.Hati Adrian sangat hancur saat Sonya, wanita yang sangat dicintainya mencampakkannya begitu saja. Dunia Adrian terasa runtuh karena kondisinya, ia merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi.“Adrian, kenapa kau mau menikahi wanita y
Tiga belas tahun laluAray berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan napas tersengal. Beberapa jam sebelumnya, ia menerima telepon bahwa Adrian mengalami kecelakaan. Putranya yang baru berusia lima belas tahun menabrak sepasang suami istri di jalan utama.Di depan ruang ICU, adik Aray langsung berdiri.“Bagaimana keadaan Adrian?”“Dia sudah melewati masa kritis.” Adiknya menahan napas sebelum melanjutkan. “Namun, benturan di kepalanya cukup keras. Dokter menduga Adrian mengalami amnesia.”Aray menatap melalui kaca ICU. Adrian terbaring dengan kepala diperban dan selang infus menancap di tangannya. Wajah remaja itu tampak begitu pucat, jauh dari sosok anak yang pagi tadi tertawa ketika menerima hadiah ulang tahun darinya.“Dia sudah sadar?”“Sebentar. Dia tidak mengenali siapa pun, bahkan tidak tahu namanya sendiri. Karena terus mengeluh kesakitan, dokter memberinya obat penenang.”Aray menekan telapak tangannya ke dada. Untuk pertama kalinya, ia merasa hadiah yang diberikannya tela
Yura sangat terkejut ketika orang-orang yang menyaksikan kecelakaan itu langsung meringkusnya. Sementara beberapa warga lain berusaha mengevakuasi korban dari dalam mobil.“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!” Yura memberontak sekuat tenaga. Dua orang pria paruh baya menahan kedua lengannya seperti sedang menangkap seorang penjahat.“Jangan melawan! Kamu sudah membahayakan nyawa orang lain.”“Aku hanya ingin menolongnya.”“Menolong apanya? Kamu yang membuat dia celaka!”Beberapa warga yang sebelumnya duduk di warung menganggap Yura sudah kehilangan akal sehat. Sebelum kecelakaan terjadi, mereka melihat Yura berjalan sempoyongan sambil menangis dan berbicara sendiri. Tak lama kemudian, perempuan itu berdiri di tengah jalan dengan kedua tangan terentang.“Pak, tolong lepaskan saya. Saya akan bertanggung jawab.”“Rumahmu di mana?”“Saya tidak punya rumah.”Yura tidak sanggup mengakui tempat tinggalnya. Ia terlalu malu jika keluarganya tahu bahwa dirinya baru saja mencoba mengakhiri hi
Sekuat tenaga Yura menahan air mata saat melihat Malik mengucapkan ijab kabul untuk Amira. Ketika para saksi serempak menjawab, “Sah,” ia memaksa bibirnya membentuk senyuman.Ia tidak ingin siapa pun menganggapnya sebagai perempuan malang yang baru saja ditinggalkan di hari pernikahannya sendiri.Namun, senyum itu runtuh ketika Malik mencium kening Amira. Wajah pria yang selama dua tahun menjadi tunangannya tampak begitu bahagia—seolah-olah Yura tidak pernah ada dalam hidupnya.“Yang sabar, ya, Ra.” Marina, yang duduk di sebelahnya, mengusap punggung Yura dengan iba.“Aku permisi dulu.”Yura segera bangkit. Ia berjalan cepat menuju kamar. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, pertahanan yang sejak tadi ia bangun runtuh seketika. Ia menangis sejadi-jadinya.Tubuhnya merosot di sisi ranjang, sementara kedua tangannya menutup wajah. Semua orang tahu betapa Yura mencintai Malik.Setiap kali bertemu teman, kerabat, bahkan orang yang baru dikenalnya, Yura selalu saja bercerita tentang
Hatinya hancur setelah Yura membaca pesan WhatsApp dari calon suaminya yang tiba-tiba membatalkan pernikahan mereka, tepat ketika ijab kabul seharusnya berlangsung.Bukan karena Malik tidak ingin menikah. Melainkan karena pria itu ingin menikahi adik Yura sendiri. Pesan itu masih terpampang jelas di layar ponsel yang gemetar di tangan Yura."Yura, sebelumnya aku minta maaf. Aku mohon kamu mau mengerti perasaanku. Sudah lama aku menahannya. Dulu aku datang ke rumah Pamanmu untuk melamar Amira. Ternyata Amira sudah memiliki tunangan, jadi terpaksa aku melamarmu karena tidak ada pilihan lain.""Sejak pertunangan Amira batal tiga bulan lalu, aku memberanikan diri menghubunginya. Ternyata selama ini aku dan Amira saling mencintai. Kami ingin menikah, tapi kami membutuhkan persetujuanmu.""Aku mohon, ketika Paman dan Bibimu bertanya nanti, katakan bahwa kamu ikhlas jika aku menikahi Amira. Tolong jangan menjadi penghalang dalam hubungan kami."Tangan Yura bergetar hebat. Dalam sekejap, selu







