Mag-log inTiga belas tahun lalu
Aray berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan napas tersengal. Beberapa jam sebelumnya, ia menerima telepon bahwa Adrian mengalami kecelakaan. Putranya yang baru berusia lima belas tahun menabrak sepasang suami istri di jalan utama.
Di depan ruang ICU, adik Aray langsung berdiri.
“Bagaimana keadaan Adrian?”
“Dia sudah melewati masa kritis.” Adiknya menahan napas sebelum melanjutkan. “Namun, benturan di kepalanya cukup keras. Dokter menduga Adrian mengalami amnesia.”
Aray menatap melalui kaca ICU. Adrian terbaring dengan kepala diperban dan selang infus menancap di tangannya. Wajah remaja itu tampak begitu pucat, jauh dari sosok anak yang pagi tadi tertawa ketika menerima hadiah ulang tahun darinya.
“Dia sudah sadar?”
“Sebentar. Dia tidak mengenali siapa pun, bahkan tidak tahu namanya sendiri. Karena terus mengeluh kesakitan, dokter memberinya obat penenang.”
Aray menekan telapak tangannya ke dada. Untuk pertama kalinya, ia merasa hadiah yang diberikannya telah berubah menjadi senjata.
“Bagaimana dengan pasangan yang ditabraknya?”
Adiknya menundukkan kepala. “Mereka meninggal setelah menjalani perawatan.”
Aray memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, terbayang Adrian yang memohon agar diizinkan membawa mobil itu sendiri. Ia mengabulkannya karena tidak ingin mengecewakan putranya. Kini, dua orang tewas dan Adrian terbaring tanpa ingatan.
“CCTV?” tanyanya lirih.
“Rekaman di ruas jalan itu hilang. Hanya rekaman hari ini yang tidak tersimpan.”
Aray membuka mata. Ada kejanggalan dalam kabar itu, tetapi rasa takut terhadap masa depan Adrian menenggelamkan semua pertanyaan.
“Jangan biarkan berita ini keluar.” Suaranya mengeras. “Terutama jangan beri tahu Adrian. Dia bahkan tidak tahu siapa dirinya. Kalau mengetahui bahwa dirinya menyebabkan kematian dua orang, hidupnya bisa hancur.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
Aray menatap putranya dari balik kaca. “Cari pengemudi yang bersedia mengaku sebagai pelaku. Aku akan menanggung semua biayanya. Pastikan Adrian tidak terseret kasus ini.”
Adiknya terdiam cukup lama, lalu mengangguk.
“Baik.”
Aray tahu keputusan itu salah. Namun, ia tetap mengambilnya. Sejak saat itu, ia tidak hanya menyembunyikan kesalahan Adrian dari dunia, tetapi juga dari putranya sendiri.
***
Ruang jenazah berada di ujung lorong yang dingin dan sepi. Aray datang setelah memastikan kondisi Adrian stabil. Ia ingin melihat keluarga korban, meski tidak tahu apa yang dapat dilakukannya untuk menebus dua nyawa yang telah hilang.
Di sana, seorang anak perempuan duduk di lantai. Tubuh kecilnya berguncang hebat. Di hadapannya, dua jenazah ditutupi kain putih.
“Ayah… Ibu… jangan pergi.” Suara gadis itu pecah. “Aku takut sendirian. Kalau kalian tidak ada, aku tinggal dengan siapa?”
Aray berhenti melangkah.
Ia pernah mengira rasa bersalah hanya akan datang ketika seseorang mengakui kesalahannya. Ternyata, rasa bersalah juga bisa tumbuh dari tangis seorang anak yang bahkan tidak tahu mengapa hidupnya direnggut dalam satu malam.
“Siapa namanya?” tanya Aray kepada adiknya.
“Yura Malayeka. Anak tunggal korban. Usianya delapan tahun.”
Aray memandang gadis kecil itu. Yura memeluk lututnya sendiri, seolah-olah tubuhnya adalah satu-satunya tempat berlindung yang tersisa.
“Pastikan kebutuhan hidupnya terpenuhi,” kata Aray. “Biaya sekolah, tempat tinggal, semuanya. Jangan pernah menyebutnya sebagai santunan dari keluarga kita. Anggap saja itu tanggung jawab yang harus kita pikul.”
Namun, uang tidak pernah bisa mengembalikan ayah dan ibu seorang anak.
Masa sekarang
Aray kembali menatap Yura yang berdiri di hadapannya. Gadis kecil di ruang jenazah itu telah tumbuh menjadi perempuan muda, tetapi sorot matanya masih menyimpan kesepian yang sama.
“Jadi, kamu Yura Malayeka?”
Yura mengangguk kaku. Jemarinya saling meremas di depan tubuh.
“Adrian mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan itu,” ujar Aray. “Pernikahannya dengan Soraya seharusnya berlangsung lima hari lagi. Namun, setelah mengetahui kondisi Adrian, Soraya membatalkannya.”
Yura menundukkan wajah. Ia sudah merasa bersalah karena kecelakaan itu. Mendengar bahwa Adrian juga kehilangan calon istrinya membuat napasnya terasa semakin berat.
“Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak pernah berniat mencelakainya.”
“Aku tahu.” Aray menatapnya tajam. “Tetapi permintaan maaf tidak mengubah kenyataan. Anakku kehilangan kemampuan untuk berjalan dan sekarang, masa depannya ikut runtuh.”
Hadi, paman Yura, maju setengah langkah.
“Kalau Anda hanya ingin menyalahkan Yura, kami akan pergi. Dia juga tidak bermaksud untuk mencelakai putra anda.”
“Aku tidak memanggil kalian untuk menyalahkannya.” Aray menarik napas panjang. “Aku ingin menawarkan jalan keluar.”
Yura menatapnya dengan bingung.
“Adrian akan menikah denganmu.”
“Apa?”
Lorong itu seolah mendadak kehilangan suara. Yura tidak pernah membayangkan akan mendapat penawaran yang membuatnya dilema.
“Tidak.” Hadi langsung menolak. “Yura bukan barang yang bisa dipakai untuk menutup masalah di keluarga anda. Dia tidak boleh dipaksa menikah dengan pria yang bahkan belum pernah ia kenal.”
Aray tidak membantah. “Aku tidak akan memaksanya. Keputusan terakhir tetap ada pada Yura. Putraku lumpuh dan ditinggal pergi oleh calon istrinya setelah kecelakaan itu.”
Yura menoleh kepada pamannya. Hadi menggenggam bahunya, berusaha memberikan keberanian. Namun, wajah Yura justru dipenuhi pergulatan.
Ia teringat rumah kecil yang kini terasa seperti tempat menumpang. Ia teringat utang-utang yang menumpuk setelah motornya hilang, pekerjaan yang terancam, dan penghinaan Malik serta Amira yang membuatnya ingin menghilang dari hadapan semua orang. Hidupnya sudah berantakan jauh sebelum Aray datang menawarkan pernikahan itu.
Tetapi alasan terbesarnya bukan uang ataupun tempat tinggal.
Ia terus terbayang wajah Adrian di ranjang rumah sakit. Pria itu kehilangan masa depan karena dirinya. Jika ia pergi begitu saja, siapa yang akan bertanggung jawab?
“Yura, jangan membuat keputusan saat sedang merasa bersalah,” kata Hadi lembut. “Menikah bukan hukuman. Kamu tidak harus mengorbankan hidupmu.”
Yura menggigit bibir. Air matanya menggenang, tetapi ia menahannya. Sejak kecil ia sudah biasa menghadapi masalah, membuatnya merasa hidupnya tidak lagi berarti.
“Paman benar. Pernikahan bukan hukuman.” Ia mengangkat wajah. “Karena itu, aku tidak menerimanya sebagai hukuman.”
“Lalu?”
“Saya akan menikah dengan Adrian.”
Hadi menatapnya tidak percaya dengan keputusan yang Yura buat.
“Yura…”
“Saya memang tidak bisa membuat kaki Pak Adrian kembali normal.” Suaranya bergetar, tetapi setiap katanya terdengar jelas. “Namun, saya bisa mempertanggungjawabkan perbuatan saya.”
Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis tanpa kebahagiaan.
“Lagipula, bukankah lebih baik menikah dengan pria yang terluka daripada tetap berharap kepada pria yang sudah mempermalukan saya?”
Hadi memahami sindiran itu. Ia tahu Yura sedang berusaha menyembunyikan luka lain di balik keputusan tersebut.
“Kamu yakin?” tanya Aray. Kali ini suaranya tidak lagi mengancam. “Kalau kamu berubah pikiran, aku tidak akan mengejarmu.”
Yura mengangguk. “Saya yakin.”
“Jangan katakan itu hanya karena merasa berutang.”
“Saya tidak mengatakan bahwa saya bahagia dengan keputusan ini.” Yura menatap pintu ruang rawat Adrian. “Saya hanya ingin bertanggung jawab
“Ma-maaf...” ucap Yura terbata-bata.Ia segera turun dari ranjang. Gerakannya tergesa, seolah takut keberadaannya di sana justru semakin menyulut amarah Adrian.Yura menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat, berusaha menyembunyikan kegugupan yang semakin menjadi-jadi. Tatapan Adrian begitu tajam hingga membuatnya tidak berani mengangkat wajah.“Buang seprai dan bantal itu. Ganti dengan yang baru.”Adrian membuka laci di samping ranjang, mengambil sebotol disinfektan kain, lalu melemparkannya ke arah Yura. Botol itu jatuh tepat di dekat kaki wanita tersebut.“Semprot seluruh ranjangku dengan itu. Aku tidak mau kuman dari tubuhmu mengotori tempat tidurku.”Yura terdiam. Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada lemparan botol tadi. Namun, ia tidak membantah.“Baik.”Yura membungkuk, mengambil botol tersebut dengan tangan gemetar, lalu meletakkannya di atas meja kecil.Ia mulai mengganti seprai dan sarung bantal. Setiap gerakannya dilakukan dalam diam, meskipun dadanya terasa
Adrian memandangi jahitan di keningnya melalui kaca kecil, lalu mengusapnya dengan lembut.“Apa ini akan membekas?” tanya Adrian pada Dokter Rian yang merupakan sahabatnya.“Sangat bisa, sekarang zaman sudah canggih. Wajahmu pasti akan bisa kembali seperti sedia kala, Adrian.”“Tapi, tidak dengan kakiku,” balas Adrian dengan putus asa.Rian menghela napas berat, lalu menatap Adrian dengan ekspresi datar. “Aku tahu ini pasti berat bagimu, tapi kamu jangan putus asa. Aku akan mencoba mencari metode pengobatan agar kakimu bisa sembuh.”“Tidak perlu menjual harapan dengan kebohonganmu.”Adrian melempar kaca ke dada Rian, membuat dokter muda itu kelimpungan menangkapnya. Adrian merasa kacau karena dirinya tidak akan bisa sembuh dan menjadi lumpuh untuk selamanya.Hati Adrian sangat hancur saat Sonya, wanita yang sangat dicintainya mencampakkannya begitu saja. Dunia Adrian terasa runtuh karena kondisinya, ia merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi.“Adrian, kenapa kau mau menikahi wanita y
Tiga belas tahun laluAray berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan napas tersengal. Beberapa jam sebelumnya, ia menerima telepon bahwa Adrian mengalami kecelakaan. Putranya yang baru berusia lima belas tahun menabrak sepasang suami istri di jalan utama.Di depan ruang ICU, adik Aray langsung berdiri.“Bagaimana keadaan Adrian?”“Dia sudah melewati masa kritis.” Adiknya menahan napas sebelum melanjutkan. “Namun, benturan di kepalanya cukup keras. Dokter menduga Adrian mengalami amnesia.”Aray menatap melalui kaca ICU. Adrian terbaring dengan kepala diperban dan selang infus menancap di tangannya. Wajah remaja itu tampak begitu pucat, jauh dari sosok anak yang pagi tadi tertawa ketika menerima hadiah ulang tahun darinya.“Dia sudah sadar?”“Sebentar. Dia tidak mengenali siapa pun, bahkan tidak tahu namanya sendiri. Karena terus mengeluh kesakitan, dokter memberinya obat penenang.”Aray menekan telapak tangannya ke dada. Untuk pertama kalinya, ia merasa hadiah yang diberikannya tela
Yura sangat terkejut ketika orang-orang yang menyaksikan kecelakaan itu langsung meringkusnya. Sementara beberapa warga lain berusaha mengevakuasi korban dari dalam mobil.“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!” Yura memberontak sekuat tenaga. Dua orang pria paruh baya menahan kedua lengannya seperti sedang menangkap seorang penjahat.“Jangan melawan! Kamu sudah membahayakan nyawa orang lain.”“Aku hanya ingin menolongnya.”“Menolong apanya? Kamu yang membuat dia celaka!”Beberapa warga yang sebelumnya duduk di warung menganggap Yura sudah kehilangan akal sehat. Sebelum kecelakaan terjadi, mereka melihat Yura berjalan sempoyongan sambil menangis dan berbicara sendiri. Tak lama kemudian, perempuan itu berdiri di tengah jalan dengan kedua tangan terentang.“Pak, tolong lepaskan saya. Saya akan bertanggung jawab.”“Rumahmu di mana?”“Saya tidak punya rumah.”Yura tidak sanggup mengakui tempat tinggalnya. Ia terlalu malu jika keluarganya tahu bahwa dirinya baru saja mencoba mengakhiri hi
Sekuat tenaga Yura menahan air mata saat melihat Malik mengucapkan ijab kabul untuk Amira. Ketika para saksi serempak menjawab, “Sah,” ia memaksa bibirnya membentuk senyuman.Ia tidak ingin siapa pun menganggapnya sebagai perempuan malang yang baru saja ditinggalkan di hari pernikahannya sendiri.Namun, senyum itu runtuh ketika Malik mencium kening Amira. Wajah pria yang selama dua tahun menjadi tunangannya tampak begitu bahagia—seolah-olah Yura tidak pernah ada dalam hidupnya.“Yang sabar, ya, Ra.” Marina, yang duduk di sebelahnya, mengusap punggung Yura dengan iba.“Aku permisi dulu.”Yura segera bangkit. Ia berjalan cepat menuju kamar. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, pertahanan yang sejak tadi ia bangun runtuh seketika. Ia menangis sejadi-jadinya.Tubuhnya merosot di sisi ranjang, sementara kedua tangannya menutup wajah. Semua orang tahu betapa Yura mencintai Malik.Setiap kali bertemu teman, kerabat, bahkan orang yang baru dikenalnya, Yura selalu saja bercerita tentang
Hatinya hancur setelah Yura membaca pesan WhatsApp dari calon suaminya yang tiba-tiba membatalkan pernikahan mereka, tepat ketika ijab kabul seharusnya berlangsung.Bukan karena Malik tidak ingin menikah. Melainkan karena pria itu ingin menikahi adik Yura sendiri. Pesan itu masih terpampang jelas di layar ponsel yang gemetar di tangan Yura."Yura, sebelumnya aku minta maaf. Aku mohon kamu mau mengerti perasaanku. Sudah lama aku menahannya. Dulu aku datang ke rumah Pamanmu untuk melamar Amira. Ternyata Amira sudah memiliki tunangan, jadi terpaksa aku melamarmu karena tidak ada pilihan lain.""Sejak pertunangan Amira batal tiga bulan lalu, aku memberanikan diri menghubunginya. Ternyata selama ini aku dan Amira saling mencintai. Kami ingin menikah, tapi kami membutuhkan persetujuanmu.""Aku mohon, ketika Paman dan Bibimu bertanya nanti, katakan bahwa kamu ikhlas jika aku menikahi Amira. Tolong jangan menjadi penghalang dalam hubungan kami."Tangan Yura bergetar hebat. Dalam sekejap, selu







