LOGIN“Ma-maaf...” ucap Yura terbata-bata.
Ia segera turun dari ranjang. Gerakannya tergesa, seolah takut keberadaannya di sana justru semakin menyulut amarah Adrian.
Yura menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat, berusaha menyembunyikan kegugupan yang semakin menjadi-jadi. Tatapan Adrian begitu tajam hingga membuatnya tidak berani mengangkat wajah.
“Buang seprai dan bantal itu. Ganti dengan yang baru.”
Adrian membuka laci di samping ranjang, mengambil sebotol disinfektan kain, lalu melemparkannya ke arah Yura. Botol itu jatuh tepat di dekat kaki wanita tersebut.
“Semprot seluruh ranjangku dengan itu. Aku tidak mau kuman dari tubuhmu mengotori tempat tidurku.”
Yura terdiam. Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada lemparan botol tadi. Namun, ia tidak membantah.
“Baik.”
Yura membungkuk, mengambil botol tersebut dengan tangan gemetar, lalu meletakkannya di atas meja kecil.
Ia mulai mengganti seprai dan sarung bantal. Setiap gerakannya dilakukan dalam diam, meskipun dadanya terasa sesak.
Sebegitu menjijikkannya aku di matanya?
Hanya karena hidupnya pernah berada di titik paling rendah, Adrian menganggap dirinya seperti sesuatu yang penuh kuman.
Namun Yura memilih menelan semua rasa sakit itu. Ia tahu Adrian jauh lebih terluka.
Pria itu harus menjalani hidup di atas kursi roda karena kecelakaan yang mengubah seluruh kehidupannya. Sementara Yura merasa dirinya adalah salah satu alasan di balik kehancuran tersebut.
Maka, meskipun setiap perkataan Adrian melukai hatinya, Yura berusaha memakluminya.
Beberapa menit kemudian, ranjang itu kembali rapi dan bersih. Yura mundur beberapa langkah.
“Sudah.”
Adrian tidak menjawab.
Pria itu mengarahkan kursi rodanya mendekati ranjang. Tangannya mencengkeram sisi kasur, lalu ia mencoba mengangkat tubuhnya.
Sekali, gagal. Ia mencoba lagi. Tubuhnya hanya berhasil terangkat sedikit sebelum kembali jatuh ke kursi roda. Wajah Adrian memerah menahan frustrasi.
“Ah! Dasar kaki sialan!” Ia memukul pahanya sendiri dengan kepalan tangan.
Yura yang melihatnya tidak tega. “Biar aku bantu.”
Tanpa menunggu jawaban, Yura melangkah mendekat dan meraih tangan Adrian. Namun, baru saja tangannya menyentuh pria itu—
“JANGAN SENTUH AKU!” Adrian mendorong tubuh Yura sekuat tenaga.
Tubuh Yura kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Ia jatuh tersungkur di lantai.
“Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!”
Adrian bernapas berat. Kemarahan, rasa frustrasi, dan keputusasaan bercampur menjadi satu di wajahnya.
“Aku jadi seperti ini karena kamu!” bentaknya. “Kalau waktu itu kau memang ingin mati, kenapa harus menyusahkan orang lain?!”
Yura membeku. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya menggenang di pelupuk mata.
“Maaf...” Hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.
Adrian tertawa hambar. “Maaf?” Tatapannya penuh kepahitan. “Untuk apa kau terus mengucapkan kata itu? Apa dengan meminta maaf kakiku bisa berjalan lagi?”
Yura menunduk semakin dalam. “Tidak...”
“Lalu apa gunanya?” Suara Adrian bergetar menahan emosi. “Sihir apa yang kau berikan kepada papaku sampai dia memaksaku menikahi wanita yang telah membuatku menjadi pria tidak berguna seperti sekarang?”
Air mata Yura akhirnya jatuh.
Ia ingin menjelaskan bahwa tidak pernah ada niat untuk menghancurkan hidup Adrian. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya pun tidak pernah meminta semua ini terjadi. Namun, tidak satu pun kata mampu melewati tenggorokannya.
Adrian mengusap wajahnya kasar. Ketika melihat Yura menangis, sorot matanya sempat berubah. Ada sesal yang sekilas muncul, tetapi segera ia sembunyikan.
“Pergi.”
Yura mengangkat wajah.
“Aku muak melihat wajahmu.” Adrian menunjuk pintu. “Keluar dari kamarku!”
Yura menggigit bibirnya agar tangisnya tidak semakin terdengar. Ia berdiri dengan lutut yang masih terasa sakit, kemudian berjalan menuju pintu.
Tidak ada satu pun orang yang menginginkannya, tidak setelah semua yang terjadi.
Begitu keluar dari kamar Adrian, Yura berjalan tanpa tujuan. Pandangannya kabur oleh air mata. Ia terus melangkah melewati lorong hingga tidak menyadari seseorang datang dari arah berlawanan.
Bruk!
Tubuhnya menabrak seseorang. Ia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh, tetapi sepasang tangan dengan sigap menangkap tubuhnya.
“Pelan-pelan.” Suara pria itu terdengar tenang.
Yura membeku. Ia perlahan mengangkat wajah, darahnya seolah berhenti mengalir. Wajah pria di hadapannya... Sama persis dengan Adrian. Namun, ada satu perbedaan besar. Pria itu berdiri tegak dengan kedua kakinya.
“Andreas...” gumam Yura spontan.
Pria itu mengernyit kecil.
Yura segera tersadar. Ia buru-buru melepaskan diri dari pelukan Andreas dan mundur beberapa langkah. Ini pertama kalinya mereka bertemu.
Andreas menatapnya dengan tenang. Berbeda dengan Adrian yang selalu memiliki sorot mata penuh kemarahan, tatapan Andreas justru teduh. Aroma parfum maskulin yang melekat di tubuhnya juga membuat Yura semakin gugup.
“Kau pasti Yura.”
Yura hanya mengangguk.
Andreas memperhatikan wajah wanita itu. Mata Yura merah dan basah, sementara pipinya masih dipenuhi bekas air mata. Senyumnya menghilang.
“Siapa yang membuatmu menangis?”
Yura terdiam. Pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya kembali sesak. Ia menundukkan kepala, berusaha menahan tangis yang kembali mendesak keluar.
Andreas semakin yakin bahwa sesuatu telah terjadi.
“Yura,” panggilnya lembut. “Apa Adrian yang membuatmu menangis?”
Yura menggigit bibirnya. Ia tidak menjawab. Namun, diamnya sudah cukup menjadi jawaban bagi Andreas. Tatapan pria itu perlahan berubah serius.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Andreas merasa ada sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar pernikahan paksa di antara saudara kembarnya dan wanita ini.
“Ma-maaf...” ucap Yura terbata-bata.Ia segera turun dari ranjang. Gerakannya tergesa, seolah takut keberadaannya di sana justru semakin menyulut amarah Adrian.Yura menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat, berusaha menyembunyikan kegugupan yang semakin menjadi-jadi. Tatapan Adrian begitu tajam hingga membuatnya tidak berani mengangkat wajah.“Buang seprai dan bantal itu. Ganti dengan yang baru.”Adrian membuka laci di samping ranjang, mengambil sebotol disinfektan kain, lalu melemparkannya ke arah Yura. Botol itu jatuh tepat di dekat kaki wanita tersebut.“Semprot seluruh ranjangku dengan itu. Aku tidak mau kuman dari tubuhmu mengotori tempat tidurku.”Yura terdiam. Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada lemparan botol tadi. Namun, ia tidak membantah.“Baik.”Yura membungkuk, mengambil botol tersebut dengan tangan gemetar, lalu meletakkannya di atas meja kecil.Ia mulai mengganti seprai dan sarung bantal. Setiap gerakannya dilakukan dalam diam, meskipun dadanya terasa
Adrian memandangi jahitan di keningnya melalui kaca kecil, lalu mengusapnya dengan lembut.“Apa ini akan membekas?” tanya Adrian pada Dokter Rian yang merupakan sahabatnya.“Sangat bisa, sekarang zaman sudah canggih. Wajahmu pasti akan bisa kembali seperti sedia kala, Adrian.”“Tapi, tidak dengan kakiku,” balas Adrian dengan putus asa.Rian menghela napas berat, lalu menatap Adrian dengan ekspresi datar. “Aku tahu ini pasti berat bagimu, tapi kamu jangan putus asa. Aku akan mencoba mencari metode pengobatan agar kakimu bisa sembuh.”“Tidak perlu menjual harapan dengan kebohonganmu.”Adrian melempar kaca ke dada Rian, membuat dokter muda itu kelimpungan menangkapnya. Adrian merasa kacau karena dirinya tidak akan bisa sembuh dan menjadi lumpuh untuk selamanya.Hati Adrian sangat hancur saat Sonya, wanita yang sangat dicintainya mencampakkannya begitu saja. Dunia Adrian terasa runtuh karena kondisinya, ia merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi.“Adrian, kenapa kau mau menikahi wanita y
Tiga belas tahun laluAray berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan napas tersengal. Beberapa jam sebelumnya, ia menerima telepon bahwa Adrian mengalami kecelakaan. Putranya yang baru berusia lima belas tahun menabrak sepasang suami istri di jalan utama.Di depan ruang ICU, adik Aray langsung berdiri.“Bagaimana keadaan Adrian?”“Dia sudah melewati masa kritis.” Adiknya menahan napas sebelum melanjutkan. “Namun, benturan di kepalanya cukup keras. Dokter menduga Adrian mengalami amnesia.”Aray menatap melalui kaca ICU. Adrian terbaring dengan kepala diperban dan selang infus menancap di tangannya. Wajah remaja itu tampak begitu pucat, jauh dari sosok anak yang pagi tadi tertawa ketika menerima hadiah ulang tahun darinya.“Dia sudah sadar?”“Sebentar. Dia tidak mengenali siapa pun, bahkan tidak tahu namanya sendiri. Karena terus mengeluh kesakitan, dokter memberinya obat penenang.”Aray menekan telapak tangannya ke dada. Untuk pertama kalinya, ia merasa hadiah yang diberikannya tela
Yura sangat terkejut ketika orang-orang yang menyaksikan kecelakaan itu langsung meringkusnya. Sementara beberapa warga lain berusaha mengevakuasi korban dari dalam mobil.“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!” Yura memberontak sekuat tenaga. Dua orang pria paruh baya menahan kedua lengannya seperti sedang menangkap seorang penjahat.“Jangan melawan! Kamu sudah membahayakan nyawa orang lain.”“Aku hanya ingin menolongnya.”“Menolong apanya? Kamu yang membuat dia celaka!”Beberapa warga yang sebelumnya duduk di warung menganggap Yura sudah kehilangan akal sehat. Sebelum kecelakaan terjadi, mereka melihat Yura berjalan sempoyongan sambil menangis dan berbicara sendiri. Tak lama kemudian, perempuan itu berdiri di tengah jalan dengan kedua tangan terentang.“Pak, tolong lepaskan saya. Saya akan bertanggung jawab.”“Rumahmu di mana?”“Saya tidak punya rumah.”Yura tidak sanggup mengakui tempat tinggalnya. Ia terlalu malu jika keluarganya tahu bahwa dirinya baru saja mencoba mengakhiri hi
Sekuat tenaga Yura menahan air mata saat melihat Malik mengucapkan ijab kabul untuk Amira. Ketika para saksi serempak menjawab, “Sah,” ia memaksa bibirnya membentuk senyuman.Ia tidak ingin siapa pun menganggapnya sebagai perempuan malang yang baru saja ditinggalkan di hari pernikahannya sendiri.Namun, senyum itu runtuh ketika Malik mencium kening Amira. Wajah pria yang selama dua tahun menjadi tunangannya tampak begitu bahagia—seolah-olah Yura tidak pernah ada dalam hidupnya.“Yang sabar, ya, Ra.” Marina, yang duduk di sebelahnya, mengusap punggung Yura dengan iba.“Aku permisi dulu.”Yura segera bangkit. Ia berjalan cepat menuju kamar. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, pertahanan yang sejak tadi ia bangun runtuh seketika. Ia menangis sejadi-jadinya.Tubuhnya merosot di sisi ranjang, sementara kedua tangannya menutup wajah. Semua orang tahu betapa Yura mencintai Malik.Setiap kali bertemu teman, kerabat, bahkan orang yang baru dikenalnya, Yura selalu saja bercerita tentang
Hatinya hancur setelah Yura membaca pesan WhatsApp dari calon suaminya yang tiba-tiba membatalkan pernikahan mereka, tepat ketika ijab kabul seharusnya berlangsung.Bukan karena Malik tidak ingin menikah. Melainkan karena pria itu ingin menikahi adik Yura sendiri. Pesan itu masih terpampang jelas di layar ponsel yang gemetar di tangan Yura."Yura, sebelumnya aku minta maaf. Aku mohon kamu mau mengerti perasaanku. Sudah lama aku menahannya. Dulu aku datang ke rumah Pamanmu untuk melamar Amira. Ternyata Amira sudah memiliki tunangan, jadi terpaksa aku melamarmu karena tidak ada pilihan lain.""Sejak pertunangan Amira batal tiga bulan lalu, aku memberanikan diri menghubunginya. Ternyata selama ini aku dan Amira saling mencintai. Kami ingin menikah, tapi kami membutuhkan persetujuanmu.""Aku mohon, ketika Paman dan Bibimu bertanya nanti, katakan bahwa kamu ikhlas jika aku menikahi Amira. Tolong jangan menjadi penghalang dalam hubungan kami."Tangan Yura bergetar hebat. Dalam sekejap, selu







