Teilen

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Pendosa

BATAL NIKAH

last update Veröffentlichungsdatum: 23.08.2026 13:03:51

Hatinya hancur setelah Yura membaca pesan W******p dari calon suaminya yang tiba-tiba membatalkan pernikahan mereka, tepat ketika ijab kabul seharusnya berlangsung.

Bukan karena Malik tidak ingin menikah. Melainkan karena pria itu ingin menikahi adik Yura sendiri. Pesan itu masih terpampang jelas di layar ponsel yang gemetar di tangan Yura.

"Yura, sebelumnya aku minta maaf. Aku mohon kamu mau mengerti perasaanku. Sudah lama aku menahannya. Dulu aku datang ke rumah Pamanmu untuk melamar Amira. Ternyata Amira sudah memiliki tunangan, jadi terpaksa aku melamarmu karena tidak ada pilihan lain."

"Sejak pertunangan Amira batal tiga bulan lalu, aku memberanikan diri menghubunginya. Ternyata selama ini aku dan Amira saling mencintai. Kami ingin menikah, tapi kami membutuhkan persetujuanmu."

"Aku mohon, ketika Paman dan Bibimu bertanya nanti, katakan bahwa kamu ikhlas jika aku menikahi Amira. Tolong jangan menjadi penghalang dalam hubungan kami."

Tangan Yura bergetar hebat. Dalam sekejap, seluruh tenaganya seolah lenyap. Ponsel itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke pangkuan.

Tatapannya kosong. Napasnya terasa berat, seperti tertahan di dada. Ia meremas ujung kebaya putih yang dikenakannya, berusaha menahan air mata yang sejak tadi mendesak keluar.

Ya Tuhan… kenapa harus seperti ini? Dadanya sesak. Kenapa, Mas Malik? Apa salahku? Yura berseru di dalam hati.

Hari yang selama dua tahun ia nantikan akhirnya tiba. Hari yang seharusnya menjadi awal hidup barunya bersama pria yang ia cintai.

Namun sebelum janji suci itu terucap, Malik justru menghancurkan semuanya. Di hari pernikahannya sendiri, Yura dipermalukan. Bukan hanya oleh calon suaminya. Tetapi juga oleh adiknya sendiri.

Selama dua tahun bertunangan, Yura percaya pada semua ucapan cinta Malik. Ia percaya pada janji-janji yang pernah diucapkan pria itu. Ternyata semuanya tidak lebih dari kebohongan.

“Jangan diteruskan!”

Suara Yura tiba-tiba memecah keheningan saat ia menahan tangan Kiran yang hendak memoleskan lipstik ke bibirnya.

Kiran mengernyit. “Kenapa, Ra? Warnanya Tidak cocok?”

Barulah Kiran melihatnya—air mata yang menggenang di sudut mata sahabatnya.

“Loh, kok malah menangis? Nanti make-up-nya luntur.” Kiran buru-buru mengambil tisu.

“Aku tahu kamu bahagia, sebentar lagi nikah sama laki-laki yang kamu cintai sejak SMA. Tapi tolong, tahan air matanya. Aku sudah susah payah merias kamu.”

Kiran tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. Ia telah mengubah Yura yang sederhana menjadi begitu anggun sebagai pengantin. Tinggal sedikit sentuhan terakhir. Namun, Yura justru menangis.

“Aku batal nikah.” Suara itu bergetar. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh.

“Apa?” Kiran membeku.

“Aku batal nikah, Ran.” Yura menunduk.

“Kenapa?” Kiran langsung panik. “Jangan bilang Malik… hamilin orang?”

Yura menggeleng.

“Atau ditunda?”

Gelengan lagi.

Kiran semakin bingung. “Terus kenapa?”

Yura tidak mampu menjawab. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan ponselnya. Kiran membaca pesan itu.

Semakin lama, wajahnya berubah. Keningnya mengerut, rahangnya mengeras, lalu ia mengembalikan ponsel itu dengan tangan bergetar karena marah.

“Kurang ajar!”

Kiran langsung menarik Yura ke dalam pelukannya. “Tega banget mereka melakukan ini ke kamu, Ra.”

Tangis Yura pecah. Ia membenamkan wajahnya di bahu Kiran. Seluruh kekuatannya runtuh. Kiran mengusap punggungnya pelan.

Padahal Malik sendiri yang datang melamarnya? Yura tidak pernah mengejar cinta itu. Tidak pernah memaksa Malik untuk menikah dengannya.

“Kamu tidak boleh diam saja.”

“Aku harus bagaimana…” suara Yura patah.

“Kamu jangan diam saja ditindas kayak begini, Yura. Sekali-kali kamu juga harus menuntut keadilan, kamu harus lawan mereka.”

“Lalu aku harus apa?”

“Kamu harus mempertahankan hakmu!”

Yura perlahan melepaskan pelukan itu. Ia mengusap air matanya.

“Aku tidak sudi menikah dengan orang seperti Mas Malik.” Tatapannya getir.

Yang paling menyakitkan bukan hanya karena Malik memilih Amira. Melainkan karena Malik menyebut Yura sebagai penghalang dalam hubungan mereka.

“Untuk apa aku mempertahankan pria yang sudah tidak mencintaiku? Kalau aku tetap menikah dengannya, aku yang akan tersiksa.”

Kiran terdiam. Yura tersenyum pahit.

“Aku tidak mau mengemis cinta dari pengkhianat.” Yura tidak mau melucuti harga dirinya lagi dengan mengemis cinta pada pengkhianat seperti Malik.

Malik yang datang membawa harapan, membuat Yura percaya bahwa ia akan menjadi seorang istri. Kini, setelah harapan itu tumbuh begitu besar, Malik membuangnya begitu saja seperti sampah.

Kiran menghela napas. “Iya, kamu benar, Ra. Cowok di dunia ini masih banyak. Yang sabar, ya. Aku yakin kamu bakal dapat pengganti Malik yang jauh lebih baik dari dia.”

Yura memejamkan mata. “Pria memang banyak…” Suaranya lirih. “Tapi belum tentu ada yang mau menikah denganku.”

Kiran mengernyit. “Kenapa berpikir begitu?”

“Mas Malik berpaling karena Amira lebih cantik dariku.”

“Jangan bilang begitu!” Kiran memegang bahunya. “Kamu cantik, Ra. Bahkan lebih dari Amira.”

Yura hanya tersenyum hambar seraya menangis hingga bahunya terguncang.

“Kamu terlalu sibuk membalas budi sampai lupa merawat diri. Dulu kamu putih, sekarang kusam karena kerja di bawah matahari.”

“Itu pekerjaanku.”

“Kalau begitu cari yang lain.” Kiran menatapnya serius.

“Bangkit, Ra. Jangan biarkan mereka lihat kamu hancur.”

Yura menghela napas. “Cari kerja itu tidak mudah.”

“Jangan pesimis.” Kiran menggenggam tangannya.

“Kamu harus hidup untuk dirimu sendiri, bukan hanya untuk membalas budi.”

Ucapan itu justru membuat tangis Yura kembali pecah. Sejak kecil, Yura kehilangan kedua orang tuanya. Ia diasuh oleh Paman Hadi dan Bibi Salma.

Jangankan untuk mempertahankan hak-nya, menuntut keadilan pun Yura tak mampu, karena istri dari Pamannya akan menghitung semua jasa-jasanya pada Yura di masa lalu.

Ia tumbuh dengan rasa berutang budi. Namun harga itu mahal. Ia harus selalu mengalah, bahkan ketika hatinya sendiri terluka.

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Yura segera menghapus air matanya, tidak ingin terlihat menyedihkan di mata orang lain, cukup saja Kiran yang tahu segala isi hatinya.

“Masuk.”

Pintu terbuka. Bibi Salma berdiri dengan wajah datar. Yura langsung tahu maksud kedatangannya.

“Nak, bisa kita bicara berdua?”

Yura mengangguk. “Iya, Bi.”

Ia memberi isyarat pada Kiran untuk keluar.

Namun sebelum Kiran pergi, Salma berkata, “Nak Kiran, tolong rias Amira dengan make-up pengantin.”

Jantung Yura seperti diremas. Keputusan itu sudah diambil tanpa bertanya padanya. Kiran menatap Yura sejenak. Yura mengangguk pelan.

“Iya,” jawab Kiran dingin sebelum keluar dan menutup pintu keras.

Yura tahu Kiran marah. Namun ia tidak punya kuasa untuk menahannya.

Salma duduk. “Nak, di luar ada Malik dan keluarganya.”

Yura menunduk.

“Malik bilang dia mencintai Amira dan ingin menikahinya.” Salma menarik napas. “Kamu setuju kalau Amira menggantikan posisimu?”

Yura diam membeku, sudah menduga jika Salma akan berkata begitu.

“Aku harap kamu mundur dengan sukarela. Katakan ke Pamanmu kamu ikhlas.”

Semua itu disampaikan seolah hal biasa tanpa memikirkan luka di hati Yura.

“Tidak mungkin Malik poligami. Amira juga tidak mau jadi istri kedua.”

Yura menggigit bibir, agar air matanya tidak menetes.

“Kasihan Amira. Dia belum bisa move on dari Hirka.”

Hati Yura semakin sakit. Salma hanya memikirkan perasaan Amira tanpa peduli dengan sakit hati yang Yura rasakan. Namun Yura tetap menunjukkan ekspresi tenang meski pun hatinya terasa diremas remas.

“Aku harap kamu mengerti adikmu.”

Yura menarik napas berusaha menahan amarah yang bergemuruh di hatinya. “Iya, Bi. Aku ikuti keinginan mereka.”

Salma tampak lega. “Bagus. Kamu lebih tua, harus mengalah.”

Yura tersenyum pahit. Tidak ada satu pun yang menanyakan bagaimana perasaannya, yang dia pikirkan hanya bagaimana caranya mengobati luka hati Amira setelah Hirka membatalkan pertunangannya dengan Amira yang sampai kini tidak Yura diketahui apa sebabnya.

Salma hanya ingin melihat Amira bahagia, sekalipun dengan cara melukai hati Yura. Salma datang kemari bukan untuk meminta persetujuan dari Yura, tapi memaksa Yura menerima keputusannya secara sepihak.

“Assalamu’alaikum.”

Paman Hadi masuk. Wajahnya berbeda—penuh kekhawatiran.

“Nak, kamu sudah tahu?”

Yura mengangguk. “Sudah, Paman.” Ia tersenyum palsu.

Hadi duduk di sampingnya. “Kalau kamu tidak setuju, Paman batalkan semuanya.”

Yura terdiam sejenak, kemudian menarik napas dalam. “Tidak perlu, Paman.”

“Kenapa?”

“Biarkan mereka menikah.” Dada Yura sesak. “Aku ikhlas.”

Yura merasa jika pengkhianat seperti Amira dan Malik sangat cocok menjadi sepasang suami istri.

Hadi menatapnya lama. “Yakin?”

“Iya.”

Salma menyela, “Yura yang minta sendiri.”

Hadi masih ragu. “Apa kamu dipaksa?”

Yura menatapnya. “Tidak.”

“Aku hanya tidak mau menikah dengan pria seperti Mas Malik.”

Hadi terdiam dengan tatapan dalam, menimbang keputusan yang akan dia ambil.

Yura menunduk. Dalam hatinya ia berkata, "Aku masih punya harga diri dan aku tidak akan menikah dengan orang yang menganggapku tidak pernah ada.

Ia mengangkat wajah. Senyum tipis muncul. Namun di balik itu, hatinya sedang hancur. Hari ini ia kehilangan calon suami. Kehilangan kepercayaan dan mungkin juga kehilangan keluarganya.

Tapi satu hal masih tersisa, harga dirinya.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   TARIK ULUR

    Damian sedang berbicara dengan Sebastian mengenai perusahaan ketika ponselnya bergetar di atas meja. Ia melihat layar, ada nomor tidak dikenal menghubunginya. Damian mengangkat tangan, memberi isyarat agar Sebastian diam."Hallo.""Mr. Damian, saya Adrian pemilik perusahaan xxx.""Ada perlu apa anda menghubungi saya?""Saya menghubungi anda bukan untuk menuduh anda mencuri data perusahaan saya.”"Apa maksud anda?" Damian langsung tersinggung dengan perkataan Adrian.“Orang yang bekerja untuk anda terlibat dalam pencurian data perusahaan saya.”“Kalau begitu, berikan aku buktinya.” Damian terkejut hingga wajahnya memerah karena ini bukan tuduhan kecil.“Saya tidak akan meminta anda bertanggung jawab atas tindakan setiap bawahan anda, tapi saya akan meminta anda bertanggung jawab atas apa yang terjadi setelah saya menunjukkan bukti.”“Kalau memang orang saya terlibat, laporkan kepada polisi.”“Saya bisa melakukan itu.”“Lalu kenapa masih menghubungi saya?”“Karena saya ingin memberi And

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   KEPERGIAN ADRIAN

    Yura berdiri mematung, matanya tidak lepas dari pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.“Bukan.” Yura menggeleng.“Yura, aku Adrian.” Adrian menatap Yura dengan intens.“Kamu bukan Pak Adrian. Pak Adrian sedang di luar negeri untuk terapi. Dia tidak bisa berjalan. Jadi jangan bilang kamu Adrian hanya untuk menutupi kesalahanmu.” Yura menatap kedua kaki pria itu berdiri tegak di lantai. Yura berpikir Andreas sedang menipunya agar bisa lari dari kesalahannya.“Aku memang Adrian.”“Tidak!” Suara Yura meninggi. “Jangan bohong lagi kepadaku!”Adrian menghela napas panjang. “Aku tidak bohong. Kamu ingat saat pertama kali aku berdiri di hadapanmu, kamu bilang aroma parfumku sama dengan aroma parfum Adrian, itu karena aku memang Adrian.”Adrian kemudian menceritakan semuanya. Tentang kondisinya yang perlahan membaik, tentang terapi yang dijalaninya, tentang pemeriksaan lanjutan, tentang bagaimana ia sebenarnya sudah mampu berdiri dan berjalan dalam jarak tertentu, tapi memilih menye

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   PENGAKUAN ADRIAN

    "Aku sudah terlalu lama berada dalam pernikahan yang sebenarnya tidak pernah terasa seperti pernikahan.”Pernyataan Yura membuat hati Adrian semakin kacau, dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menghimpitnya. Ia sudah menduga cepat atau lambat, Yura tetap akan meminta cerai darinya, tapi Adrian tidak menyangka mendengar langsung dari bibir Yura rasanya akan sesakit ini. Yura ingin bercerai darinya. Ironisnya, selama ini Adrian sendiri yang membuat Yura sampai pada keputusan itu. Dan sekarang, ketika Yura akhirnya memutuskan untuk melepaskan pernikahan mereka, Adrian justru merasa dunia sedang runtuh di bawah kakinya.“Tidak,” ucap Adrian pelan.“Apa?” Yura mengerutkan kening.“Jangan bercerai.” Satu kata itu keluar begitu saja, karena Adrian masih belum siap untuk bercerai.“Pak Andreas?” Yura menatapnya bingung. Adrian bangkit dari sofa. “Apa kamu tidak bisa memberinya kesempatan.”Yura terdiam beberapa detik, lalu menghela napas. "Aku sudah memikirkan ini sejak lama, dan

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   CERAI

    Adrian membeku. Yura menyentuh bibirnya sendiri, seolah ingin memastikan bahwa hal itu benar-benar terjadi.“Pak Andreas, kenapa?” ..” Suara Yura bergetar. “Adrian tidak langsung menjawab, mereka berdua saling menatap, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.Adrian bisa melihat jelas keterkejutan di mata Yura. Bukan hanya karena ciuman itu, tetapi karena wanita itu tidak mengerti mengapa seorang pria yang selama ini ia anggap sebagai saudara iparnya tiba-tiba melakukan hal seperti itu.“Aku...” Adrian menelan ludah. “Maaf.”“Kenapa kamu menciumku?” Yura mundur satu langkah.Adrian bingung, posisinya saat ini membuatnya menjadi serba salah. Ingin sekali Adrian mengungkapkan perasaannya.Karena aku merindukanmu, Yura. Selama tiga minggu aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, aku marah melihatmu bersama Raka.Semua jawaban itu berdesakan di kepalanya, tetapi tidak satu pun bisa ia ucapkan.“Aku kehilangan kendali,” jawab Adrian pada akhirnya.“Kehilangan kendali?” Yura menatap Adri

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   CIUMAN

    Adrian baru saja kembali ke Indonesia setelah tiga minggu berada di luar negeri. Begitu mobil memasuki jalan utama, ia menatap ke luar jendela.“Antarkan aku ke toko buku.”“Ke toko buku, Pak?” Sopirnya melirik melalui kaca spion.“Ya.”Adrian ingin melihat tempat Yura bekerja sebelum pulang. Ia sendiri tidak tahu mengapa keinginan itu terasa begitu penting. Setelah tiga minggu tidak bertemu, rasanya melihat Yura dari jauh saja sudah cukup.Tatapannya beralih pada beberapa paper bag yang terletak di sampingnya. Isinya oleh-oleh yang ia pilih selama berada di luar negeri. Entah kenapa, setiap kali melihat sesuatu yang menurutnya akan disukai Yura, ia selalu membelinya.Tiga minggu tidak bertemu perempuan itu membuat Adrian menyadari sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan. Ia selalu memikirkan Yura.Namun, sebelum mobil sampai di toko buku, Adrian melihat sebuah motor melaju tidak jauh di depan mereka. Yura duduk di jok belakang, pria yang mengendarai motor itu adalah Raka. Adrian

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   MASALAH PERUSAHAAN

    Ruang presentasi dipenuhi jajaran direksi, investor, dan beberapa perwakilan perusahaan yang akan menentukan pemenang tender.Adrian duduk di barisan depan bersama timnya. Di atas meja terdapat proposal produk yang sudah mereka persiapkan selama berbulan-bulan.Presentasi dari tim Adrian berjalan lancar. Satu demi satu keunggulan produk dijelaskan. Setelah hampir tiga puluh menit, Adrian berdiri di depan layar."Produk yang kami tawarkan memiliki tiga keunggulan utama. Pertama, efisiensi penggunaan energi. Kedua, sistem keamanan yang terintegrasi dan yang ketiga..."Tim dari Adrian menjelaskan bagian terakhir dengan penuh percaya diri. Konsep tersebut merupakan ide baru yang ia kembangkan bersama timnya, bahkan belum pernah dipublikasikan.Setelah presentasi selesai, Adrian menatap layar sambil menunggu perusahaan pesaing melakukan presentasi. Beberapa menit kemudian, perusahaan pesaing mulai memaparkan produknya. Pesaing itu sedang menjelaskan sebuah fitur yang sama persis dengan ide

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status