Saat Maura melihat punggung Arka yang semakin jauh, senyum getir terukir di bibirnya. Dia menggeleng. Kehangatan yang sempat dirasakannya selama beberapa menit tadi hanyalah ilusi, sebuah kekeliruan sesaat.Ketika Aurora muncul, Arka langsung kembali seperti biasanya. Rasanya seolah tidak ada tempat bagi siapa pun di dunianya selain Aurora. Adapun Maura? Dia kembali membiarkan dirinya bertindak bodoh dengan berharap sesuatu akan berubah.Dia berdiri diam di dapur, menelan rasa pahit yang menyumbat tenggorokannya, lalu berjongkok dan membersihkan tepung di lantai sedikit demi sedikit.Begitulah hidupnya.Setelah selesai membersihkan semuanya, dia kembali memasak untuk Madeline. Belakangan ini, nafsu makan wanita itu kurang baik, tetapi berbeda jika Maura yang memasak. Bahkan hidangan sederhana pun menjadi istimewa. Maura membuat bakso yang lembut, telur kukus dengan udang, serta sup iga dan ubi yang hangat.Saat membawanya ke ruang makan, Madeline langsung menyuruhnya duduk."Maura, kam
Ler mais