Tangan Weni melingkar makin erat di leher Tama. Deru napas hangatnya berembus tepat di kulit leher Tama, sementara tubuh bahagianya menyandar makin pasrah pada dada bidang pria muda itu di tengah remangnya kounter dapur. "Pijitin sebentar dong, Mas Ganteng... bahu aku beneran pegel banget gara-gara nugas seharian," bisik Weni manja, memiringkan kepalanya dengan tatapan mata yang setengah terpejam. 'Duh, bocah satu ini kalau udah nempel jam dua pagi gini daya magnetnya melebihi kulkas dua pintu,' batin Tama membuang napas pelan. "Nggak di sini juga, Wen. Ini udah jam dua lewat, kalau kedengaran Bi Surti atau Mbak Wina turun kan berabe," balas Tama pelan, namun jemari tegapnya tetap melangkah menekan titik-titik pegal di sekitar tengkuk dan bahu mulus Weni. "Eshhh…Ahhh… enakkk banget, Ta…" rintih Weni halus, kepalanya terkulai makin dalam di dada Tama saat pijatan presisi itu mengu
Last Updated : 2026-09-21 Read more