Dedi membeku sejenak, lalu bilang, “Nggak masuk akal.” Lalu, melambaikan tangannya dan pergi begitu saja.Setelah dia pergi, aku menghubungi pengacara.“Bantu aku buatkan surat cerai.”Malam harinya, aku bermimpi tentang anak yang terpaksa digugurkan itu. Saat terbangun sambil menangis di tengah malam, bagian bawahku terasa basah kuyup.Dengan bantuan cahaya bulan, aku melihat hamparan warna merah darah.Dalam keadaan panik, aku tergesa-gesa menelepon Dedi.“Dedi, cepat antar aku ke rumah sakit, aku….”Namun, terdengar suara Dedi di balik telepon yang berat,“Helen baru saja mimpi buruk, aku sedang menemaninya.”“Rara, kamu harus belajar mandiri dan kuat. Kalau hanya bisa bergantung seperti benalu, orang-orang akan memandangmu sebelah mata.”Harapan terakhir padanya kini telah sirna sepenuhnya.Hanya saja darah mengalir semakin deras.Aku memaksakan tubuhku yang lemas untuk bergegas ke rumah sakit, tapi malah dihalang oleh pembantu di depan pintu.“Nyonya, Pak Dedi bilang kamu harus m
Baca selengkapnya