แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Anya
Saat sedang ragu apakah harus berterus terang, akhirnya dia bicara lebih dulu,

“Rara, uang bensin yang kamu transfer kemarin kurang tiga ribu dua ratus. Aku harap kamu nggak pakai cara licik seperti ini lagi ke depannya.”

“Aku paling nggak suka orang yang nggak menepati janji.”

Mungkin semalam aku tak melihatnya dengan jelas karena terlalu menahan sakit.

Aku menghela napas, lalu mentransfer balik kekurangannya.

Aku menoleh, mengeluarkan setumpuk berkas dan meletakkannya di atas surat cerai, lalu berkata,

“Ini biaya air dan listrik, tanda tangan saja.”

Dedi menandatangani beberapa halaman dan terbiasa mau melihat isi halaman terakhir.

Helen yang memakai gelang kesayangan ibu mertua dan gelang tasbih kesukaan ayah mertua, melompat-lompat masuk dengan gembira,

“Untuk memberi hadiah karena kamu sudah menepati janji, aku akan kasih kamu anugerah khusus untuk menemaniku ke rumah sakit!”

Dedi tertawa pelan, lalu langsung membubuhkan tanda tangan terakhir.

“Iya iya, kalau begitu aku harus berterima kasih atas anugerah dari kamu.”

Aku bertanya,

“Janji apa?”

Raut wajah Dedi sempat tegang sejenak, lalu menjawab,

“Hanya urusan kecil, nggak ada hubungannya denganmu.”

Keduanya berjalan beriringan keluar dengan mesra, membicarakan hal-hal konyol di masa lalu mereka.

Seolah dirikulah orang luar di sana.

Tepat pada saat itu, Brian meneleponku,

“Tiket pesawatnya besok pagi jam 8.30. Rara, kamu benar-benar sudah yakin?”

Aku mengangguk.

Aku sudah memutuskannya sejak awal.

Aku melepas satu-satunya gelang murah yang pernah diberikan Dedi padaku, lalu meletakkannya di dalam laci yang lupa dia kunci.

Saat membuka laci tersebut, aku membeku.

Di dalamnya penuh dengan foto-foto Helen dari kecil hingga dewasa.

Di balik setiap foto tertulis janji-janji yang dibuat Dedi untuknya.

[Aku berjanji akan melindungi Helen seumur hidup.]

[Aku berjanji akan masuk ke universitas yang sama dengan Helen.]

….

[Aku berjanji tak akan mengeluarkan uang sepeser pun untuk wanita lain selain Helen….]

Aku langsung membeku.

Ternyata ini kebenarannya.

Mandiri, dihargai, takut aku merasa tertekan!

Semuanya omong kosong!

Ini semua hanya gara-gara janjinya pada Helen!

Kalau memang tak bisa melupakannya, kok harus datang dan menginjak-injak harga diriku?!

Aku merasa mual, berlari ke kamar mandi dan muntah hebat.

Pada saat yang sama, ponselku menerima pesan dari nomor tak dikenal.

Itu adalah lembar hasil pemeriksaan kehamilan.

[Nona Rara, lihat, Dedi sangat menantikan kelahiran bayi kami.]

[Coba tebak bayinya nanti akan lebih mirip dia atau aku?]

Foto yang dilampirkan memperlihatkan Dedi yang sedang mencium perutnya dengan sangat hati-hati.

Tampak memanjakan dan gugup.

Seketika, seluruh tubuhku membeku.

Tangan yang gemetar perlahan meraba ke arah bagian bawah perutku, di mana pernah ada seorang bayi di sana.

Perut yang tadinya agak membuncit kini sudah kembali rata, tapi rasanya masih nyeri samar-samar.

Hatiku terasa seperti diiris pisau, aku langsung menerjang pergi ke rumah sakit seperti orang gila.

Bagi Dedi, anak wanita itu adalah permata yang sangat dijaga.

Atas dasar apa anakku hanya bisa disebut sebagai ‘biaya yang sudah hangus’?

Bahkan latar belakang foto itu berada di ruang VIP rumah sakit swasta kelas atas.

Dulu saat hamil, aku juga pernah bilang ingin pergi ke rumah sakit swasta, tapi Dedi hanya menolak sambil mengerutkan kening,

“Dilihat dari sudut pandang medis profesional nggak ada bedanya, jangan mau dibodohi kapitalis untuk membayar pengeluaran yang nggak perlu.”

Saat mendobrak pintu kamar rawat inap, Dedi menatapku sambil mengerutkan kening dan berkata,

“Kamu sudah gila?”

Air mataku menetes deras.

“Kok kamu tega memperlakukanku seperti ini?”

Dedi merasa bingung dan tak mengerti.

Helen menutup mulutnya dengan gaya berlebihan dan berkata,

“Dedi, jangan-jangan Rara sudah tahu soal kebenaran anak kalian?”

Aku mendengarnya dan langsung menatap Helen dengan tatapan tajam.

“Kebenaran apa?!”

Seketika, wajah Dedi pun panik.

“Jangan bicara lagi!”

Helen berkata dengan polos,

“Sebenarnya nggak ada masalah sama sekali dengan anak kalian. Dedi yang menyogok dokter untuk berbohong kalau bayinya kelainan.”

Seketika, aku membeku seperti disambar petir di siang bolong.

Muncul kilatan rasa bersalah yang jarang terlihat di wajah Dedi.

“Aku bisa kasih kompensasi padamu.”

Aku membeku. Butuh waktu yang lama, barulah aku mendengar suaraku sendiri,

“Kenapa?”

Dedi tahu betul betapa aku menantikan kehadiran anak ini.

Dia juga tahu betapa diriku dipandang sebelah mata oleh keluarganya setelah anak itu tiada.

Dia juga pernah membelai perutku dengan penuh memanjakan untuk merasakan tendangan bayi yang kuat.

Kok dia tega melakukan ini?

Kok dia masih bisa dengan tenang menyalahkan semua kesalahan padaku?

Membuatku jadi sasaran amarah semua orang.

Helen bersandar di ranjang rumah sakit, memperlihatkan senyuman kemenangan.

“Karena waktu mengejarku dulu, dia pernah berjanji harus aku yang melahirkan anak pertamanya.”

“Dedi sangat menepati janjinya.”

Menepati janji.

Namun, Dedi jelas-jelas juga pernah berjanji padaku, kalau dia akan melindungi aku dan anak kami seumur hidup.

Aku menatap Dedi dengan tatapan kosong, wajahku sangat pucat.

“Itu benar?”

Dedi memijat alisnya dan menjawab,

“Kita masih bisa punya anak lagi ke depannya.”

“Sebagai bentuk kompensasinya, biaya pemeriksaan kehamilan untuk anak berikutnya bisa kubayarkan semuanya.”

Aku tertawa.

“Baiklah.”

Dia menghela napas lega.

“Benarkah?”

Aku berkata,

“Iya. Aku sudah capek, pulang dulu.”

Aku berbalik dan pulang ke rumah kami.

Dedi berniat mengejar.

Namun, Helen berkata dengan manja,

“Dedi, bayinya menendang aku lagi. Cepat marahin bocah nakal ini.”

Pada akhirnya, Dedi tetap tidak mengejar keluar.

Aku menyendiri di rumah semalaman.

Dedi, aku pasti akan kasih sebuah hadiah yang sangat besar untukmu dan Helen.

Keesokan harinya, Dedi sengaja membawakan kue kesukaanku.

“Rara, aku sengaja beliin makanan untukmu.”

“Tapi tetap harus ikut aturan lama, transfer aku setengahnya. Nggak bisa hanya gara-gara aku salah, kamu malah mengabaikan aturan patungan itu, ‘kan?”

Namun, saat pintu terbuka, dia langsung terpaku.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mantan Suami Pelit, Ceraikan!   Bab 9

    Dedi membawa sekelompok orang menuju rumah sakit.Dia membayar uang ekstra untuk tes DNA.Sambil menunggu hasilnya keluar, Dedi semakin merasa ada yang tak beres.Dia telah mengejar Helen mati-matian selama dua puluh tahun, tapi Helen tak pernah tergerak sedikit pun.Bahkan setelah pergi keluar negeri, Helen sempat memutus kontak dengannya.Lalu tiba-tiba pada suatu hari, Helen kembali dan menanyakan apakah janji masa lalu dengannya masih berlaku.Hari itu, di bawah godaan Helen, akhirnya mereka berdua berhubungan intim.Hingga saat ini, wanita itu bahkan menghubungi orang tuanya demi memaksa dirinya untuk menikahinya.Benar-benar tak beres.Apalagi Helen tak pernah meliriknya sejak dulu, mana mungkin tiba-tiba begitu ingin melahirkan anak untuknya?Ini sama sekali tak terlihat seperti cinta sejati yang bersemi kembali.Namun, lebih mirip seperti… sedang mencari tumbal untuk menanggung kesalahan.Helaan napas Dedi semakin lama semakin berat. Dia berdiri dan menunggu dengan cemas selama

  • Mantan Suami Pelit, Ceraikan!   Bab 8

    Dedi pun sadar, aku sudah tahu segalanya sekarang.Dia terus menggunakan berbagai nomor asing untuk mengirim pesan padaku.“Rara, aku sudah tahu salah. Aku benar-benar sudah tahu salah, tolong maafkan aku.”“Rara, kita mulai dari awal lagi, ya?”“Semua harta atas namaku akan kualihkan ke kamu, tolong jangan tinggalkan aku….”Namun, karena tak pernah mendapat balasan dariku, lambat laun dia pun berhenti mengirimnya.Di lembaga penelitian, aku sibuk mengurus proyek riset medis.Sambil tak lupa terus memantau kabar di dalam negeri.Sebagai seorang ibu, bagaimanapun aku harus membalaskan dendam untuk anakku yang telah tiada itu.Dan hadiah besar yang kusiapkan untuk Dedi dan Helen akan terungkap sebentar lagi.Hari di saat aku kembali ke dalam negeri, kabarnya bertepatan dengan pernikahan Dedi dan Helen.Orang-orang riuh membicarakannya, “Dengar-dengar Pak Dedi dan Nona Helen itu teman dari kecil. Pak Dedi sudah mengejarnya dua puluhan tahun, lho!”“Romantis sekali~”“Romantis apanya, kal

  • Mantan Suami Pelit, Ceraikan!   Bab 7

    Dedi terdiam sejenak.“Aku nggak pernah menjadikanmu sebagai pengganti….”Seketika, tatapan matanya yang semula menghindar menjadi panik begitu bertatapan dengan mataku.Menyadari raut ekspresiku yang penuh cemoohan, akhirnya dia berterus terang,“Aku akui, awal mula bersamamu memang karena kamu sangat mirip dengan Helen.”“Aku mengejar Helen dari kecil hingga dewasa selama dua puluh tahun, tapi dia nggak pernah sekalipun menoleh padaku.”“Makanya begitu dia pergi keluar negeri dan melihatmu, aku langsung ingin bersamamu.”“Tapi setelah kita jalani sekian lama, aku benar-benar mencintaimu! Kamu harus percaya padaku!”Aku tertawa dingin.“Sudah selesai bicaranya? Kalau sudah selesai, balik sana.”“Oh iya, tiket pesawatmu untuk mencariku ke sini, nggak perlu dibagi dua denganku, ‘kan?”Langkah Dedi terhuyung.“Kamu benar-benar harus seformal ini denganku?”Aku mengoreksinya, “Bukan formal, ini namanya mandiri, Pak Dedi.”“Surat cerai sudah kamu tanda tangani, sekarang status kita sudah

  • Mantan Suami Pelit, Ceraikan!   Bab 6

    Aku menetap di luar negeri selama satu bulan penuh.Selama itu, Dedi meneleponku berkali-kali.Namun, tak ada satu pun yang kubalas.Barulah setelah memblokir dan menghapus semua kontaknya, hidupku terasa jauh lebih tenang.Meski lingkungan di luar negeri berbeda, untungnya ada sekelompok orang yang kukenal di sini.Mereka sering mengajakku keluar jalan-jalan untuk mengenali lingkungan sekitar.Saat sedang jalan-jalan di suatu akhir pekan, tiba-tiba adik juniorku menjerit, “Eh, kak, orang di layar lebar itu sepertinya kamu!”Aku menatap ke arah yang dia tunjuk. Di layar lebar itu terpampang jelas pengumuman pencarian orang hilang tentang diriku.Di sampingnya ada video Dedi yang menangis tersedu-sedu,“Tolong bantu aku menemukan istriku. Aku nggak bisa menemukannya sekarang.”“Kalau ada yang menemukannya, tolong hubungi aku. Imbalannya 10 ribu dolar.”Banyak warga asing yang menghentikan langkah, membicarakannya dengan bahasa asing,“Wah, pria ini pasti sangat mencintai istrinya.”“Iy

  • Mantan Suami Pelit, Ceraikan!   Bab 5

    Saat ini, aku sudah duduk di atas pesawat menuju luar negeri.Brian yang duduk di sebelahku tak henti-hentinya mengomel,“Coba dipikirkan, kalau kamu nggak menikah dengannya, uang hasil kerjamu itu nggak bakal habis dipakai seumur hidup. Kok bisa sekarang kamu malah harus pergi keluar negeri untuk mencari uang lagi!?”“Menikah dengannya, kamu malah harus patungan beli mobil dan rumah mewah. Lalu hasilnya? Rumah atas nama dia, mobil juga dia yang pakai!”“Itu namanya bukan patungan, tapi morotin!”Aku menoleh. “Apa maksudnya?”Dengan kesal, Brian menjawab, “Kamu bodoh sekali!”Aku tertawa terbahak-bahak.Aku mengeluarkan surat cerai dari dalam tas.“Kak, aku sudah cerai.”Brian membeku selama beberapa detik, berniat menanyakan alasannya.Namun, melihat wajahku yang begitu pucat, pada akhirnya dia memilih untuk diam saja.Pesawat mendarat di bandara luar negeri. Orang-orang yang datang menyambutku sebagian besar adalah wajah-wajah yang masih familiar.“Kak Rara! Kamu benaran datang?! W

  • Mantan Suami Pelit, Ceraikan!   Bab 4

    Saat sedang ragu apakah harus berterus terang, akhirnya dia bicara lebih dulu, “Rara, uang bensin yang kamu transfer kemarin kurang tiga ribu dua ratus. Aku harap kamu nggak pakai cara licik seperti ini lagi ke depannya.”“Aku paling nggak suka orang yang nggak menepati janji.”Mungkin semalam aku tak melihatnya dengan jelas karena terlalu menahan sakit.Aku menghela napas, lalu mentransfer balik kekurangannya.Aku menoleh, mengeluarkan setumpuk berkas dan meletakkannya di atas surat cerai, lalu berkata,“Ini biaya air dan listrik, tanda tangan saja.”Dedi menandatangani beberapa halaman dan terbiasa mau melihat isi halaman terakhir.Helen yang memakai gelang kesayangan ibu mertua dan gelang tasbih kesukaan ayah mertua, melompat-lompat masuk dengan gembira, “Untuk memberi hadiah karena kamu sudah menepati janji, aku akan kasih kamu anugerah khusus untuk menemaniku ke rumah sakit!”Dedi tertawa pelan, lalu langsung membubuhkan tanda tangan terakhir.“Iya iya, kalau begitu aku harus be

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status