แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Anya
Perkataan Dedi memang tak bisa diganggu gugat.

Dua jam kemudian, setelah selesai membeli semua bahan makanan, aku pun tiba di rumah orang tuanya.

Bahan makanannya terlalu berat, setiap melangkah membuat bagian bawah perutku rasanya seperti ditusuk jarum.

Keluarganya bersama Helen sedang berkumpul dan mengobrol dengan hangat.

Helen memakai sandal rumah yang pas di kakinya dan menggunakan cangkir minum rumah itu.

Aku menunduk menatap kakiku. Setiap kali datang ke sini, aku hanya bisa memakai sandal sekali pakai yang ukurannya kebesaran dan menggunakan barang-barang sekali pakai.

Dedi bilang harus dibedakan dengan jelas seperti ini, biar bisa dihitung dengan jelas.

Saat melihatku, raut wajah ibu mertua langsung berubah.

“Melahirkan anak saja nggak becus, benar-benar heran kenapa Dedi mau menikahimu?!”

Sambil berbicara, dia mengeluarkan kalkulator.

“Berhubung bayinya sudah nggak ada, semua biaya barang-barang yang sebelumnya dibeli untuk bayi, seperti botol susu, popok, penghangat susu, bahkan alat pemantau detak jantung janin yang kubelikan untukmu, ingat hitung semuanya dan kembalikan seutuhnya padaku.”

“Totalnya dua juta empat puluh ribu, Nona Rara bakal membayarnya, ‘kan?”

Aku menatap ibu mertua dengan perasaan tak percaya.

Saat hamil, mual dan muntahku tak ada yang membagi dua denganku.

Sakit pinggang, sakit punggung dan sakit tulang kemaluan pun tak ada yang membayarnya padaku.

Begitu bayinya tiada, semua pengeluaran malah dilimpahkan kepadaku.

Emangnya tubuhku ini hanya barang habis pakai gratisan?

Menyadari ketidakpuasanku, Dedi mengerutkan kening.

“Kamu nggak terima?”

“Keluarga Wira memang nggak kekurangan uang segitu. Bertahan dengan sistem patungan itu juga demi kebaikanmu. Beberapa tahun ini nggak ada orang yang berani bilang dirimu mengincar harta keluargaku, kamu masih belum puas?”

“Lagipula, memang benar bayinya bisa cacat karena kamu minum obat flu, jadi tentu saja dirimu harus bertanggung jawab penuh.”

Waktu itu kami sama sekali tak tahu kalau diriku sedang hamil.

Bahkan Dedi sendiri yang menyerahkan obat flu itu padaku!

Ponselku berdering ‘ting’, menandakan ada notifikasi masuk.

Pesan dari Brian, dia mengirimkan tiket pesawat untuk tiga hari mendatang.

Aku sudah tak punya niat untuk membantah lagi, lalu dengan patuh mentransfer kembali uang itu ke ibu mertua.

Lagipula, aku juga akan pergi sebentar lagi.

Barulah Dedi merasa puas dan berkata,

“Begitu dong. Oh iya, sandal sekali pakai yang kamu pakai ingat bayar 10 ribu padaku.”

“Siapa yang kirim pesan barusan?”

Aku lanjut mentransfer 10 ribu, lalu mematikan layar ponsel.

“Nggak ada.”

Mungkin sadar kalau aku agak tidak senang, Dedi mengeluarkan sebuah kalung dari sakunya, lalu membantuku memakainya.

“Dua hari lalu waktu beliin Helen cincin berlian, tokonya kasih bonus kalung ini.”

“Untuk kamu saja. Berhubung ini barang gratisan, kamu nggak perlu bayar. Tapi ingat, kamu bisa mendapatkannya karena Helen.”

“Cepat masak sana.”

Aku didorong olehnya menuju dapur.

Di dalam dapur yang dipenuhi asap masakan, rasa sakit di bagian bawah perutku semakin menjadi-jadi.

Akhirnya, entah setelah berapa lama, masakan yang harus dimasak pun selesai.

Bibirku pucat tanpa warna sedikit pun. Aku memaksakan diri kembali ke ruang tamu, terlihat mereka bertiga sedang menikmati buah-buahan sambil menonton TV.

Tangan yang kuulurkan untuk mengambil buah langsung dihentikan oleh pembantu.

Wajahnya tampak serba salah.

“Nyonya, buahnya sudah dipotong. Kalau kamu makan….”

“Agak susah dihitung.”

Aku menarik kembali tanganku.

Helen menatapku, lalu tiba-tiba tertawa.

“Dedi, kok semakin dilihat, mata Nona Rara semakin mirip denganku, ya?”

“Jangan-jangan karena gagal mengejarku, kamu malah sengaja cari penggantinya~”

Dedi membelai rambut Helen dengan penuh memanjakan.

“Nona besarku, kamu asal bicara apa lagi, sih!”

Namun, aku malah terpaku.

Dedi tak hanya sekali bilang padaku kalau dia jatuh cinta pada pandangan pertama padaku.

Sebenarnya jatuh cinta pada pandangan pertama… atau hanya menganggapku sebagai pengganti orang lain?

Kedua kakiku gemetar hebat, aku hanya ingin melarikan diri dari kehangatan empat orang di ruang tamu itu.

Aku tak ikut makan, melainkan bersembunyi di kamarku dan Dedi di lantai atas.

Hingga malam hari, Dedi masuk ke kamar tidur sambil memegang sebuah gaun putih.

Tampak polos dan anggun.

Persis seperti gaya pakaian Helen hari ini.

“Kuingat kamu suka gaun gaya begini, tadi sore saat menemani Helen jalan-jalan, aku sekalian membelikannya untukmu.”

“Ini nggak termasuk pengeluaran bersama rumah tangga, jadi kamu harus transfer semuanya padaku, harganya 1,2 juta, ini notanya.”

Aku tak menerimanya.

“Bukan aku yang suka gaya begini.”

“Antara aku dan dia, kamu masih bisa membedakannya?”

Dedi mengerutkan keningnya.

“Jangan buat masalah!”

“Helen hanya bercanda, jangan cari-cari alasan untuk buat masalah!”

Aku menatapnya dan berkata,

“Mobil seharga 3,66 miliar itu juga hanya bercanda?”

Seketika, raut wajah Dedi berubah dingin.

“Bicara begitu banyak, ternyata kamu hanya mengincar uangku.”

“Rara, kamu yang menyetujui sistem patungan seperti ini. Sekarang setelah melihat begitu banyak kemewahan, kamu malah menyesalinya?”

“Sudah kubilang menikah ke keluarga kaya itu penuh kepahitan. Kamu itu memang mau panjat sosial sejak awal. Kalau nggak mandiri secara finansial, kamu bakal dipandang sebelah mata oleh orang lain.”

Selalu saja alasan-alasan yang terdengar begitu mulia.

Seketika, aku merasa muak mendengarnya.

“Kita cerai saja. Kita juga nggak punya anak, nggak perlu ada pembagian harta.”

“Surat cerai itu sangat mudah ditulis.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mantan Suami Pelit, Ceraikan!   Bab 9

    Dedi membawa sekelompok orang menuju rumah sakit.Dia membayar uang ekstra untuk tes DNA.Sambil menunggu hasilnya keluar, Dedi semakin merasa ada yang tak beres.Dia telah mengejar Helen mati-matian selama dua puluh tahun, tapi Helen tak pernah tergerak sedikit pun.Bahkan setelah pergi keluar negeri, Helen sempat memutus kontak dengannya.Lalu tiba-tiba pada suatu hari, Helen kembali dan menanyakan apakah janji masa lalu dengannya masih berlaku.Hari itu, di bawah godaan Helen, akhirnya mereka berdua berhubungan intim.Hingga saat ini, wanita itu bahkan menghubungi orang tuanya demi memaksa dirinya untuk menikahinya.Benar-benar tak beres.Apalagi Helen tak pernah meliriknya sejak dulu, mana mungkin tiba-tiba begitu ingin melahirkan anak untuknya?Ini sama sekali tak terlihat seperti cinta sejati yang bersemi kembali.Namun, lebih mirip seperti… sedang mencari tumbal untuk menanggung kesalahan.Helaan napas Dedi semakin lama semakin berat. Dia berdiri dan menunggu dengan cemas selama

  • Mantan Suami Pelit, Ceraikan!   Bab 8

    Dedi pun sadar, aku sudah tahu segalanya sekarang.Dia terus menggunakan berbagai nomor asing untuk mengirim pesan padaku.“Rara, aku sudah tahu salah. Aku benar-benar sudah tahu salah, tolong maafkan aku.”“Rara, kita mulai dari awal lagi, ya?”“Semua harta atas namaku akan kualihkan ke kamu, tolong jangan tinggalkan aku….”Namun, karena tak pernah mendapat balasan dariku, lambat laun dia pun berhenti mengirimnya.Di lembaga penelitian, aku sibuk mengurus proyek riset medis.Sambil tak lupa terus memantau kabar di dalam negeri.Sebagai seorang ibu, bagaimanapun aku harus membalaskan dendam untuk anakku yang telah tiada itu.Dan hadiah besar yang kusiapkan untuk Dedi dan Helen akan terungkap sebentar lagi.Hari di saat aku kembali ke dalam negeri, kabarnya bertepatan dengan pernikahan Dedi dan Helen.Orang-orang riuh membicarakannya, “Dengar-dengar Pak Dedi dan Nona Helen itu teman dari kecil. Pak Dedi sudah mengejarnya dua puluhan tahun, lho!”“Romantis sekali~”“Romantis apanya, kal

  • Mantan Suami Pelit, Ceraikan!   Bab 7

    Dedi terdiam sejenak.“Aku nggak pernah menjadikanmu sebagai pengganti….”Seketika, tatapan matanya yang semula menghindar menjadi panik begitu bertatapan dengan mataku.Menyadari raut ekspresiku yang penuh cemoohan, akhirnya dia berterus terang,“Aku akui, awal mula bersamamu memang karena kamu sangat mirip dengan Helen.”“Aku mengejar Helen dari kecil hingga dewasa selama dua puluh tahun, tapi dia nggak pernah sekalipun menoleh padaku.”“Makanya begitu dia pergi keluar negeri dan melihatmu, aku langsung ingin bersamamu.”“Tapi setelah kita jalani sekian lama, aku benar-benar mencintaimu! Kamu harus percaya padaku!”Aku tertawa dingin.“Sudah selesai bicaranya? Kalau sudah selesai, balik sana.”“Oh iya, tiket pesawatmu untuk mencariku ke sini, nggak perlu dibagi dua denganku, ‘kan?”Langkah Dedi terhuyung.“Kamu benar-benar harus seformal ini denganku?”Aku mengoreksinya, “Bukan formal, ini namanya mandiri, Pak Dedi.”“Surat cerai sudah kamu tanda tangani, sekarang status kita sudah

  • Mantan Suami Pelit, Ceraikan!   Bab 6

    Aku menetap di luar negeri selama satu bulan penuh.Selama itu, Dedi meneleponku berkali-kali.Namun, tak ada satu pun yang kubalas.Barulah setelah memblokir dan menghapus semua kontaknya, hidupku terasa jauh lebih tenang.Meski lingkungan di luar negeri berbeda, untungnya ada sekelompok orang yang kukenal di sini.Mereka sering mengajakku keluar jalan-jalan untuk mengenali lingkungan sekitar.Saat sedang jalan-jalan di suatu akhir pekan, tiba-tiba adik juniorku menjerit, “Eh, kak, orang di layar lebar itu sepertinya kamu!”Aku menatap ke arah yang dia tunjuk. Di layar lebar itu terpampang jelas pengumuman pencarian orang hilang tentang diriku.Di sampingnya ada video Dedi yang menangis tersedu-sedu,“Tolong bantu aku menemukan istriku. Aku nggak bisa menemukannya sekarang.”“Kalau ada yang menemukannya, tolong hubungi aku. Imbalannya 10 ribu dolar.”Banyak warga asing yang menghentikan langkah, membicarakannya dengan bahasa asing,“Wah, pria ini pasti sangat mencintai istrinya.”“Iy

  • Mantan Suami Pelit, Ceraikan!   Bab 5

    Saat ini, aku sudah duduk di atas pesawat menuju luar negeri.Brian yang duduk di sebelahku tak henti-hentinya mengomel,“Coba dipikirkan, kalau kamu nggak menikah dengannya, uang hasil kerjamu itu nggak bakal habis dipakai seumur hidup. Kok bisa sekarang kamu malah harus pergi keluar negeri untuk mencari uang lagi!?”“Menikah dengannya, kamu malah harus patungan beli mobil dan rumah mewah. Lalu hasilnya? Rumah atas nama dia, mobil juga dia yang pakai!”“Itu namanya bukan patungan, tapi morotin!”Aku menoleh. “Apa maksudnya?”Dengan kesal, Brian menjawab, “Kamu bodoh sekali!”Aku tertawa terbahak-bahak.Aku mengeluarkan surat cerai dari dalam tas.“Kak, aku sudah cerai.”Brian membeku selama beberapa detik, berniat menanyakan alasannya.Namun, melihat wajahku yang begitu pucat, pada akhirnya dia memilih untuk diam saja.Pesawat mendarat di bandara luar negeri. Orang-orang yang datang menyambutku sebagian besar adalah wajah-wajah yang masih familiar.“Kak Rara! Kamu benaran datang?! W

  • Mantan Suami Pelit, Ceraikan!   Bab 4

    Saat sedang ragu apakah harus berterus terang, akhirnya dia bicara lebih dulu, “Rara, uang bensin yang kamu transfer kemarin kurang tiga ribu dua ratus. Aku harap kamu nggak pakai cara licik seperti ini lagi ke depannya.”“Aku paling nggak suka orang yang nggak menepati janji.”Mungkin semalam aku tak melihatnya dengan jelas karena terlalu menahan sakit.Aku menghela napas, lalu mentransfer balik kekurangannya.Aku menoleh, mengeluarkan setumpuk berkas dan meletakkannya di atas surat cerai, lalu berkata,“Ini biaya air dan listrik, tanda tangan saja.”Dedi menandatangani beberapa halaman dan terbiasa mau melihat isi halaman terakhir.Helen yang memakai gelang kesayangan ibu mertua dan gelang tasbih kesukaan ayah mertua, melompat-lompat masuk dengan gembira, “Untuk memberi hadiah karena kamu sudah menepati janji, aku akan kasih kamu anugerah khusus untuk menemaniku ke rumah sakit!”Dedi tertawa pelan, lalu langsung membubuhkan tanda tangan terakhir.“Iya iya, kalau begitu aku harus be

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status