Tasya menutup mata. Nizar mengambil sebuah kertas denah rumah yang aku buat. Aku menunduk, malu melihat kemesraan sepasang suami istri.“Apa ini, Sayang?”“Ini rumah yang aku buat spesial untuk kamu. Aku minta Nara membuat designnya. Dia juga yang mengurus pembangunannya karena aku sangat sibuk.”“Serius, Sayang kamu sedang buatkan aku rumah?” tanya Tasya.“Iya. Rumah masa depan kita. Masa depan aku dan anak-anak kita.”“Jadi, Mbak Tasya, aku tidak ada hubungan apapun dengan Pak Nizar.”Tasya menatapku lalu menggeleng kecil.“Tapi aku lebih betah tinggal di rumah keluargaku. Rumah masa kecilku. Aku tidak bisa meninggalkannya.”Panas telinga mendengar Tasya berucap demikian.“Tapi itu milik keluarga kamu. Aku punya harga diri untuk memberi kamu rumah.”“Rumah orang tuaku megah, lebih besar dari ini. Anak-anak kita akan bahagia tinggal di sana. Ada kebun mininya juga. Ada buah mangga, alpukat, durian, rambutan, kelengkeng. Aku lebih suka tinggal di sana, Sayang.”Kebun yang diceritakan
Terakhir Diperbarui : 2026-09-22 Baca selengkapnya