"Dia yang mencariku.""Dia menangis tersedu-sedu. Katanya, kamu mengancamnya dengan rekaman."Aku membuka ponsel dan memutar rekaman di kafe.Mendengar ucapan Luna, "dia sudah nggak mencintaimu lagi", wajah Wimar tampak sangat muram.Ketika rekaman sampai pada kalimat, "aku nggak perlu melakukan apa pun, tapi berhasil mendapatkan rasa sayangnya", Wimar berkata pelan, "Matikan."Aku mematikannya.Dia duduk di sofa dan terdiam cukup lama.Aku kembali membereskan barang-barang ke dalam koper.Tiba-tiba dia bertanya, "Kamu mau pergi ke mana?""Pindah.""Ini rumah kita.""Sebentar lagi bukan."Dia berdiri."Icha, aku sudah bilang bakal mengurus Luna. Apa lagi yang kamu mau?"Aku menarik ritsleting koper hingga tertutup."Kamu nggak bisa mengatasinya.""Aku bisa.""Kamu nggak tega."Wajahnya memucat.Ponsel Wimar berdering.Luna.Wimar menatap layar, tetapi tidak mengangkatnya.Panggilan itu berhenti, lalu kembali berdering.Dia tetap tidak mengangkatnya.Aku menyeret koper menuju pintu.Wim
Leer más